Pasutri Korban Gempa Palu Masih Kesulitan Sekolahkan Anak di Probolinggo

Pasutri Muhammad Fika Rahardika dan Sinta Permatasari bersama putri sulungnya saat berada di rumah orang tuanya di Kota Probolinggo. (Agus Salam/Jatim TIMES)
Pasutri Muhammad Fika Rahardika dan Sinta Permatasari bersama putri sulungnya saat berada di rumah orang tuanya di Kota Probolinggo. (Agus Salam/Jatim TIMES)

BATUTIMES - Pasangan suami-istri (pasutri) Muhammad Fika Rahardika (33) dan Shinta Permatasari (34) yang menjadi korban gempa di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), sudah pulang ke Kota Probolinggo. Namun, persoalan belum selesai menghampirinya.

Pasutri kelahiran Kota Seribu Taman tersebut kini bingung terhadap sekolah tiga anaknya yang masing-masing bernama Roro Kesya, 12, (kelas 6), Muhammad Naufal Kadafi, 9, (kelas 3), dan Roro Sabilillah, 5, anaknya yang masih TK. Ketiganya sudah lebih satu minggu tidak sekolah alias tidak mengikuti pelajaran.

Shinta berkinginan, selama di tinggal di rumah orang tuanya di Perum Kopian Indah, anaknya tetap bisa sekolah. Dan upaya tersebut sudah dilakukan dengan mendatangi SDN Sukabumi 2. Hanya. pihak sekolah belum menentukan sikap. Dia diminta untuk mendatangi kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Probolinggo.

Pasutri yang tinggal di Palu sejak 2009 tersebut belum menemui kepala Disdikpora. Meski begitu, mereka berharap, anaknya bisa sekolah di Kota Probolinggo walau hanya berstatus murid titipan. "Saya dengar info kota lain yang warganya senasib dengan kami, welcome. Kami berharap untuk sementara anak kami ditipkan di sekolah sini. SD mana saja," ucap Shinta.

Pasutri yang sama-sama berasal dari Kota Probolinggo tersebut kemudian menceritakan kronologinya sehingga memutuskan pulang. Diceritakan, mereka tiba di Kota Probolinggo, Rabu (5/10) lalu. Mereka naik pesawat dari Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar (Sulawesi Selatan) setelah sebelumnya melalui jalan darat dari Palu lewat Kota Poso.

Fika -begitu pria yang pernah belajar di SMAN 1 Probolinggo itu biasa dipanggil- mengatakan tidak pulang Jumat usai tsunami karena terkendala transportasi. Hampir semua fasilitas umum tidak bisa dipergunakan, termasuk transportasi dan komunikasi. “Saya bisa menghubungi Probolinggo via Hp Minggu malam. Itu pun hanya sekali. Kalau transportasi darat, baru ada hari Rabu," ungkapnya.

Pulang ke rumah orang tuanya di Kota Probolinggo, Fika, istri dan anak-anaknya tidak membawa apa-apa. Baju yang dibawa hanya yang melekat di badannya. Semua barang-barang ditinggal di rumah. Dia hanya memohon, mudah-mudahan barang yang ditinggal di rtumahnya di Palu tidak dijarah. “Rumah saya tidak digembok. Dibiarkan begitu saja,” katanya saat berada di rumah mertuanya.

Fika mengatakan, rumahnya tidak sampai roboh digoyang gempa dan luput dari terjangan ombak tsunami. Itu mengingat rumah tinggalnya berada di ketinggian yang jaraknya sekitar 5 Km dari bibir pantai. Meski begitu, ada beberapa bagian yang retak dan seluruh kaca cljendela retak. "Rumah nggak saya gembok. Percuma kan wong jendelanya bolong. Saya titipkan ke warga perumahan yang tinggal di sana," imbuhnya.

Pria yang semesa kecil hingga tamat SMA tinggal di Jalan Wachid Hasyim, Kelurahan Kanigaran, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, ini mengaku meninggalkan Palu tanpa memiliki uang. Uang di ATM tidak bisa diambil karena mesin ATM-nya tak berfungsi akibat listrik padam. Fika menyebut, hanya bermodalkan uang di saku. “Ongkos ke sini, saya pinjam uang ke teman-teman di Palu,” tandasnya.

Ia mengajak mengajak seluruh keluarganya terbang ke Jawa, selain karena masih terjadi gempa susulan, suasananya pun tidak mengenakkan. Saat dirinya masih di Palu, persediaan makanan habis dan suplai air baru ada tiga hari pasca-tsunami. Untuk makan, ia bahu-membahu dengan tetangga perumahan. “Kalau beras kami tidak ada, kami minta ke tetangga. Begitu sebaliknya. Tiga hari di sana, tidak ada bantuan makanan masuk,” ucapnya.

Saat ditanya kapanml pulang ke Palu, Fika yang merantau ke Palu lantaran diterima menjadi ASN belum tahu. Ia menggantungkan pada kabar dari dinasnya, yakni dinas kelautan dan perikanan. Fika sebagai staf bidang karantina ikan di dinas tersebut. Sementara istrinya yang keseharian mengurus rumah tangga dan pendidikan anaknya juga mengaku tidak tahu. “Kalau suami kembali ke Palu, ya ikut ke Palu. Tapi waktunya belum pasti," ujar Shinta menimpali.

Pasutri ini berharap hidup di Probolinggo. Tapi harapan tersebut sulit terlaksana kecuali Fika pindah kerja di Pemkot Probolinggo. Keinginannya kuat kembali ke kampung kelahirannya karena di Palu hampir setiap seminggu sekali gempa, meski goyangannya relatif kecil dan tidak membahayakan. “Ya, setiap minggu ada gempa. Hanya Jumat malam itu yang besar dan disertai tsunami,” pungkas Fika yang semasa kanak-kanak hingga bersuami, tinggal bersama ayahnya di Perum Kopian Indah, Kelurahan Ketapang.(*)

Pewarta : Agus Salam
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->