Warga Tongas Kulon Tuntut Jalan Tembus Yang Ditutup Jalan Tol

Slamet ketua RT 24 saat bertanya ke pengelola Jalan tol PT Trans Jawa saat acara pertemuan di pendopo Desa (Agus Salam.Jatim TIMES)
Slamet ketua RT 24 saat bertanya ke pengelola Jalan tol PT Trans Jawa saat acara pertemuan di pendopo Desa (Agus Salam.Jatim TIMES)

BATUTIMES - Puluhan warga RT 24 dan RT 25, RW 8 Desa Tongas Kulon, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, kecewa. Pasalnya, jalan tembus yang dituntut belum disetujui pihak jalan tol. Mereka mengancam akan melakukan demo lagi, jika permintaannya tidak dikabulkan.

Kekecewaan tersebut disampaikan Slamet ketua RT 24, usai bertemu perwakilan PT Trans Jawa dan PT Waskita Karya (Persero) Selasa (9/10) pukul 10.30 di pendopo desa setempat. Menurutnya, warga menuntut jalan tembus, karena jalan desa yang lama ditutup pihak tol. Akibatnya, warga harus berputar untuk bisa sampai  kelahan pertaniannya dan jika ada keperluan dengan warga yang tinggal di selatan jalan tol.

Tak hanya itu, ia juga harus lewat jalan tembus yang jauhnya tiga kali lipat, jika hendak ke makam leluhurnya. Bahkan warga juga harus memutar untuk mengantar anaknya yang belajar di TK, selatan jalan. Karena alasan itulah, warga ngotot meminta jalan lama yang ditutup dibuka kembali.

“Tuntutan warga seperti itu. Sudah ada jalan tembus (Frontage) di sisi barat. Tapi kan agak jauh dengan jalan yang lama,” tandsa Salmet.

Karena jaraknya sekitar 50 meter dari jalan desa yang ditutup tol, warga malas lewat di jalan tembus tersebut. Apapun kendalanya, pihak tol harus memenuhi permintaan warga agar akses warga dengan warga selatan tol (RT 24) tidak terputus. “Pokoknya, kembalikan jalan kami. Kami tidak mau kalau lewat di jalan tembus yang sudah ada, karena jauh,” tandasnya.

Dalam pertemuan tersebut, warga tak hanya menuntut jalan tembus, salah satu warga bernama Sarmini meminta, pengelola tol untuk mengangkat batu besar yang menghalangi akses ke lahan pertaniannya. Sebnab. Batu besar yang tertanam di tanah itu, menghalangi, terutama saat dirinya membawa traktor atau mesin bajak sawah. “Kalau diangkat oleh manusia, enggak bisa. Dipindah dengan alat berat,” tandasnya.

Ridho, perwakilan PT Trans Jawa berjanji akan mengusahakan mengangkat batu yang diminta Sarmini. Sedang untuk jalan tembus, pihaknya masih akan menurunkan tim ke lokasi  jalan tembus yang diminta warga.

“Besuk kami akan meninjau lapangan. Perwakilan warga harus ikut. Soalnya, nantinya tim tekhnis yang akan menjelaskan ke warga saat di lokasi. Ya, biar jelas dan warga tahu,” pintanya.

Dihadapan warga yang hadir dipertemuan siang itu, Ridho mengatakan, tidak bisa langsung memenuhi tuntutan warga. Mengingat ada benyak pertimbangan, jika jalan tol ditembus untuk akses jalan. Selain soal kontruksi, tinggi jalan tol juga harus diperhatikan. Jika tidak sesuai aturan pemerintah, pihaknyalah yang akan ditegur bahkan disangsi jika terjadi sesuatu.

“Terutama soal keselamatan dan keamanan masyarakat, menjadi pertimbangan utama,” tambahnya.

Menurutnya, Jalan tembus itu (Frontage) tingginya harus 5,1 meter dan lebarnya minimal 5 meter, 1 meter sisi kanan dan kiri untuk akses pejalan kaki atau tritoar. Sesang tiga meternya di tengah untuk jalan kendaraan bermotor. Karena itu, sebagai gambaran lanjut Ridho, jalan tol yang tingginya hanya 2 meter dari tanah asli, tidak boleh ditembus.

“Aturannya seperti itu. Tapi, mudah-mudahan dibolehkan. Makanya, kami akan konsultasi dulu dengan kementrian PUPR,” tandasnya.

Pewarta : Agus Salam
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->