Pria Tua Ini Disergap Polisi di Tengah Keramaian, Ini Penyebabnya

Ali bertolak pinggang saat ditangkap petugas Satreskrim Polresta Probolinggo. (Agyus Salam/Jatim TIMES)
Ali bertolak pinggang saat ditangkap petugas Satreskrim Polresta Probolinggo. (Agyus Salam/Jatim TIMES)

BATUTIMES - Jamali alias Ali (60) disergap Satreskrim Polres Probolinggo Kota, Rabu (10/10) sekitar pukul 11.30 di Jalan Letjen Soeprapto atau di timur Pasar Gotong Royong. Pria yang tinggal di Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran itu ditangkap beberapa saat setelah korbannya yang bernama H Husnan (60) melapor ke polresta.

Saat hendak diamankan, Ali yang berprofesi tukang becak sempat menolak dan mentang-mentang ke petugas. Ia membantah kalau telah membawa senjata tajam dan telah memukul seseorang. Namun, setelah digeledah, polisi menemukan sebilah pisau yang disembunyikan di jok belakang becaknya. Meski demikian, ia tetap menolak dibawa petugas dengan alasan pisau yang dibawanya sebagi ajimat.

Ali mengaku selalu membawa pisau lengkap dengan sarungnya yang dililit atau dibungkus kain merah tersebut. Ia memaksa meminta pisaunya dikembalikan. Namun polisi tidak mengabulkan. “Mana pisau saya, kembalikan. Ini engon (nafkah) saya. Saya bawa pisau ini agar becak saya dapat penumpang. Kalau tidak dikembalikan, saya tidak akan ikut,” tandasnya ke petugas.

Saling rebut pisau antara petugas dengan Ali menjadi tontonan pengendara dan warga sekitar Pasar Gotong Royong. Ali kemudian mau dibonceng sepeda motor oleh petugas saat dijanjikan pisaunya akan diberikan di mapolresta. Ali yang diapit dua petugas kemudian dibawa ke mapolresta. Sementara becaknya tidak dibawa dan ditinggal di depan sebuah ruko, tempat Ali menunggu dan mencari penumpang.

Husnan, sang pelapor yang dibawa pertugas di lokasi pemukulan, membenarkan kalau dirinya dipukul Ali. Saat ditanya penyebabnya, bapak yang tinggal di Dusun Mantong, Desa Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih, tersebut menggelengkan kepala. “Saya tidak punya masalah dengan dia. Saya tidak kenal. Pas saya jalan, dia nantang saya dan langsung memukul. Dipukul di sini,” katanya sambil memperlihatkan wajah memarnya.

Warga yang mengetahui keseharian Ali dan rekan sesama tukang becaknya tanpa dikomando melerai pemukulan tersebut. Diperlakukan seperti itu, Husnan kemudian melaporkan pemukulan tersebut ke polresta. Sementara, usai memukul Husnan, Ali tetap tenang bahkan sikapnya sok jagoan. “Memang seperti itu dia. Makanya, kami tidak ngumpul dengan dia,” aku Halim, rekan seprofesinya.

Ditambahkan, karena sikap sok jagoan itulah, Ali dijauhi rekan sesama tukang becak. Halim bersama tukang becak yang lain tidak tahu mengapa Ali bersikap seperti itu. Menurut dia, Ali sering narget penumpangnya, bahkan orang yang lewat di depannya juga dimintai uang atau rokok. Kepada penumpang becak yang tidak nawar saat nauik becaknya, Ali akan marah jika diberi ongkos tak sesuai keinginannya. “:Pokoknya kalau melawan. dipukul,” ujar Halim.

Sementara itu, Hasan (43) pemilik toko yang lokasinya berdekatan dengan tempat Ali nyanggol mengatakan,  Ali sudah lebih dari tiga tahun ngetem di depan tokonya. Hanya saja, Ali tidak disukai rekan seprofesinya karena bersikap seperti preman. Hasan memuji langkah petugas yang m,engamankan Ali. “Toko yang ada di sini sering dimintai rokok dan uang. Kalau gak diberi, tingkahnya macam-macam. Nantang dan ngancam,” tandasnya.

Terpisah, Kasat Reskrim AKP Nanang Fendy Dwi Susanto mengatakan, Ali diamankan karena menurut laporan setiap hari membawa pisau. Ali sering menarget pengendara dan pejalan kaki serta penumpang becaknya. Jika tidak diberi, ia kadang langsung memukul dan kadang menantang seperti preman. “Awalnya ada laporan dari warga yang dipukul. Informasi yang kami dapat, membawa senjata tajam. Ya, kami amankan, karena membahayakan orang lain,” Ujar AKP Nanang . (*)

Pewarta : Agus Salam
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->