Wildan Bocah Lumpuh Akibat Rubella Harus Keluarkan Biaya Ratusan Juta

Kondisi Wildan yang lumpuh pasca imunisasi rubella (foto : istimewa)
Kondisi Wildan yang lumpuh pasca imunisasi rubella (foto : istimewa)

BATUTIMES -  Berulang kali Suyanto (58), warga Desa Sumberejo Kulon, Kecamatan Ngunut menangis menahan kepedihan. Apalagi saat menuturkan kondisi anak bungsunya, Wiodan (12). Putra bungsunya itu mengalami kelumpuhan setelah menerima imunisasi Rubella yang dilakukan disekolahnya, MTs 1 Lirboyo Kediri pada Rabu (24/11) silam.

Lantaran kondisinya yang parah, Wildan harus dirawat di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSAA) Malang, namun belum mengalami perubahan berarti. "Badannya sudah merasa enak. Tapi kakinya belum bisa digerakkan," ucap Suyanto sembari mengusap air matanya. 

Dari dokter yang menangani Wildan diperoleh keterangan, bocah nahas ini menderita Guillain-Barre syndrome (GBS), atau kondisi gangguan kekebalan tubuh yang menyerang sistem syaraf. Untuk menuju sembuh, Wildan membutuhkan pengobatan plasmapheresis sebanyak lima kali.

Biaya pengobatanya pun tidaklah murah, Suyanto harus merogoh kocek hingga  Rp 120 juta. Sayang, besaran biaya itu harus ditanggung sendiri oleh Suyanto. Pasalnya BPJS Kesehatan menyatakan, hanya menanggung biaya pengobatan awal. "Itu yang saya merasa keberatan. Saya tidak sanggup menanggung biaya sebesar itu," keluhnya.

Sebelumnya pihak rumah sakit, Dinas Kesehatan Kota Kediri dan sejumlah pihak pernah menggelar pertemuan di rumah Suyanto.
Menurut bapak dua anak ini, pihak Dinkes Kota Kediri menegaskan kondisi Wildan bukan akibat imunisasi. Penjelasan sempat diprotes oleh Suyanto. Menurutnya, sebelum imunisasi Wildan dalam kondisi sehat. "Pagi diimunisasi, sore hari kakinya sudah lemas," ungkapnya. 

Suyanto masih berharap Wildan bisa dipulihkan seperti semula. Namun jika kondisinya tidak berubah, Suyanto masih memikirkan alternatif menempuh jalur hukum. Sebelum imunisasi, pada Jumat (19/10/2018) Wildan sempat pulang dari pondok pesantren di Kediri karena sakit  tifus. Setelah berobat, Wildan kembali ke pondok pesantren pada Selasa (22/10/2018). Keesokan harinya, Rabu (23/10/2018) ada imunisasi massal di sekolah Wildan. Meski baru sembuh dari sakit, Wildan langsung disuntik vaksin rubella. 
Imunisasi yang dilakukan setelah sakit inilah  yang dipertanyakan keluarga Wildan.

 

Pewarta : Joko Pramono
Editor : A Yahya
Publisher :
-->
  • Keluarga Korban Shock, Banjir Tangis di Dapur Pasca Aksi Keji Guru

    Keluarga besar Barno (65) dan Musini (60) tampak shock dan berkumpul di dapur rumahnya yang sederhana. Barno dan Musini tiap hari tinggal bersama dengan anak nomer lima bernama Supiah (40) dan cucu lain bernama Asrul (30), Rojikin (19), Sucipto (7). "Sed

  • Dramatis, Penangkapan Pembunuh Pasutri di Bangoan

    Penangkapan terhadap Matal (52 tahun), pelaku pembunuhan terhadap Sumini (70 tahun) dan Barno (70 tahun) berlangsung dramatis, Jum’at (16/11). Pihak Kepolisian bahkan mengerahkan puluhan personelnya untuk menangkap Matal yang masih memegang senjata tajam

  • Gagal, Pembangunan Pasar Sayur Tahap Tak Jadi Dibangun Tahun Ini

    Bagi sebagian para pedagang pasar sayur rupanya harus menunda sejenak keinginannya untuk bisa menempati kios baru. Sebab pada pembangunan tahap dua pasar sayur itu terpaksa tidak bisa dibangun pada akhir tahun.

  • Pemkot Batu Bakal Berikan Angkutan Gratis bagi Wisatawan dan Anak Sekolah

    Setelah Jatim Prak Group me-launching angkutan gratis, tentunya itu menjadi cambuk bagi Pemkot Batu. Sebab, seharusnya yang menyuguhkan angkutan gratis itu adalah Pemkot Batu.

  • Mengembalikan Societiet Concordia, Gedung di Malang yang Juga Jadi Proyek Bung Karno

    Wali Kota Malang Sutiaji memiliki program prestisius di awal masa kepemimpinannya. Yakni mengembangkan Malang City Heritage (MCH) yang akan menjadi ikon wisata di kota dingin ini. Caranya dengan mengembalikan jejak sejarah bangunan-bangunan lama. Salah s

  • Tragis, Pasutri Tewas Ditebas Parang oleh Tetangga

    Pasutri yang diketahui bernama Barno (65) dan Musini (60), warga RT 02 RW 02 Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, bersimbah darah dan mengembuskan nafas terakhirnya setelah ditebas parang oleh tetangganya sendiri, Matal (48).

  • Pembunuh Dua Orang Itu Berprofesi Guru Ngaji, Diduga Ada Masalah Keluarga

    Sebelum ditangkap dan dilumpuhkan, Matal (48) warga RT 02 RW 02 Bangoan yang membabat tetangganya hingga menewaskan dua orang diketahui pernah mengalami gangguan jiwa. Selain itu, Matal yang tiap hari berjualan penthol keliling dan guru ngaji itu diduga

  • Jatim Park Gandeng Angkutan Antar Jemput Gratis

    Wsatawan yang berwisata ke seluruh park di Kawasan Jawa Timur Park (JTP) Group akan dipermudah. Kini, dengan menggandeng angkutan umum di Kota Batu, Jatim Park menyuguhkan angkutan gratis khusus bagi wisatawan yang berwisata di Jatim Park Group.

  • Sebelah Surabaya, UMK di Madura Selisih Rp 2 Juta

    Melalui Surat Keputusan (SK) Nomor 188/665/KPTS/013/2018, Gubernur Jawa Timur Dr Soekarwo secara resmi menetapkan upah minimum kabupaten/kota (UMK) di Jawa Timur untuk 2019 mendatang.

  • Minim Alat Bukti dan Saksi, Pengungkapan Kasus Pembunuhan Pasutri Campurdarat Buntu

    Sudah sepekan lebih dugaan pembunuhan Pasangan suami istri (Pasutri) Didik (56) dan Suprihatin (50) warga Ngingas Campurdarat Tulungagung, belum juga terungkap.

  • Miris, Sumber Air di Kota Batu Hanya Tersisa 52 Sumber

    Dari tahun ke tahun kondisi sumber air di Kota Batu semakin hilang. Hal itu dibuktikan oleh Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam (Impala) Universitas Brawijaya Malang saat meneliti tentang sumber air di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

  • Hotman Paris Akan Bantu Baiq Nuril Selesaikan Kasus Hukummya

    Kasus yang mendera guru SMAN 7 Mataran bernama Baiq Nuril tampaknya mengundang simpati dari pengacara kondang Indonesia, Hotman Paris Hutapea. Pengacara kondang Indonesia ini siap membantu guru SMAN 7 Mataran bernama Baiq Nuril yang menjadi korban pelece

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->