Kena Tipu dan Jadi Korban Pencurian Malah Bikin Sukses Pria Ini Berbisnis Ayam Hias Impor nan Mahal

Khaliq saat menunjukkan salah satu koleksi ayam hias impor di kandangnya di Dusun Santrean, Desa Sumberejo, Kecamatan Batu. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Khaliq saat menunjukkan salah satu koleksi ayam hias impor di kandangnya di Dusun Santrean, Desa Sumberejo, Kecamatan Batu. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

BATUTIMES - Selama ini di Kota Batu kebanyakan peternak mengembangkan bisnis ayam potong. Namun, Khaliq Susanto berbeda dengan yang lain.  Warga Dusun Santrean. Desa Sumberejo, Kecamatan Batu, ini mengembangkan bisnis ayam hias.

Tetapi bukan sekadar bisnis ayam hias lokal, namun ayam hias impor. Saat ini di kandangnya ada kurang lebih 200 ekor ayam hias impor. Jenisnya antara lain  Pekin dari Australia yang dijual sekitar Rp 4 juta per ekor. 

Lalu, ada jenis Belgian dari Australia yang dijual sekitar Rp 500 ribu. Lainnya ada jenis Aseel dari Australia juga yang masih baru di Indonesia. 

Jenis Aseel terbilang mahal karena baru dan langka. Harganya mencapai Rp 35 juta per ekor.

Ada juga jenis Indian Game dari Australia,  Orpynton, dan Aseel Parrot dari India. Juga jenis LHK dari Thailand hingga merak. 

Awalnya, memulai bisnis ini pun tidak semudah membalikkan telapak tangan meski ada embel-embel ayam hias dari luar negeri. "Sejak 2005 merintis, beragam kendala sudah pernah saya lalui. Mulai ditipu, dicuri, sampai ayam terserang virus hingga mengakibatkan kematian,” ungkap Khaliq.

Ia mencertiakan awal mula kegemarannya mengoleksi ayam hias impor hingga menjadi peluang bisnisnya pada tahun 2005 itu karena ayah angkatnya. Ayah angkatnya merupakan peternak sukses ayam hias di Australia. Namanya Hari Gegmuller.

Suatu hari ia diberi telur ayam sebanyak 300 butir pada  2008 silam.”Setelah diberi telur itu. saya rawat. Lalu menetas hingga siap diternak. Saat itu juga saya mencoba untuk menjualnya. Tapi nggak semudah yang saya bayangkan,” ucap anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Mulanya telur ayam yang berhasil menetas itu jenis Pekin, Belgian, dan Aseel. Kemudian ia memulai bisnisnya mencoba menjual ayam hias impor tersebut. Tetapi tidak sesuai dugaannya,  Khaliq ternyata ditipu oleh rekan yang membantunya memasarkan.

“Yang memasarkan itu teman saya. Eh ternyata saya ditipu. Itu berlangsung selama tiga tahun kalau nggak salah. Dan ini saya anggap sebagai awal cobaan perama sebagai pembisnis ternak,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya.

Karena ditipu itu, Khaliq memilih untuk belajar memasarkannya sendiri. Namun suatu ketika ia mendapatkan teguran dari pelanggannya, mulai  soal harga dan usia ayam hias itu. "Di saat banyak yang beli, eh banyak komplain. Mulai dari seharusnya  yang dijual seharusnya 2 bulan, tetapi 1 bulan,” ujar bapak satu anak ini.

Seiring berjalannya waktu, bisnis itu pun mampu dikuasi oleh Khaliq. Sampai suatu ketika, masalah cuaca mulai melanda ayam hias impornya. Sehingga ayam terkena virus marek. Virus ini menginfeksi ayam melalui pernapasan yang mengakibatkan dalam satu hari itu bisa lima ekor yang mati saat dicek di kandangnya.

“Itu terjadi sekitar tahun 2017 lalu, setelah ikut kontes ayam cantik di Kabupaten Pasuruan. Sepulang dari kegiatan itu, ayamku terlihat tidak sehat. Padahal ayam sudah dibeli oleh pembeli dan siap dikirim,” imbuh Khaliq.

Kejadian itu rupanya sangat membuat Khaliq cukup stres. Belum lagi ayam hiasnya juga juga jadi sasaran para pencuri. 

Beragam kejadian itu dianggap sebagai cobaan dalam berbisnis. Khaliq menjadinya sebagai sebuah pembelajaran dan merupakan suatu ujian buatnya. (*)

 

Pewarta : Irsya Richa
Editor : Yunan Helmy
Publisher :
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->