Wah 108 Kelinci Penuhi Balai Kota Among Tani, Ada Apa?

Ratusan kelinci yang berada di kandang Close House Balai Kota Among Tani. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Ratusan kelinci yang berada di kandang Close House Balai Kota Among Tani. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

BATUTIMES - Selama ini beberapa hewan menjadi penghuni di area  tengah Balai Kota Among Tani seperti Kelinci, Burung Merak, Bebek, Ikan, dan sebagainya. Tidak tanggung-tanggung, kini Pemkot Batu melakukan pengembangan ternak kelinci di sebelah barat Balai Kota Among Tani atau kandang 'Close House' yang berada di samping barat.

Ya jika hanya ingin sekadar melihat sambil bermain bersama dan berswafoto pengunjung bisa ke area tengah area Balai Kota Among Tani. Tetapi untuk pengembangan peternakan ini di area yang terpisah.

Di kandang Close House itu kurang lebih ada 108 kelinci yang sudah berhasil dikembangbiakkan sejak bulan November 2018 silam. Jika mengunjungi kandang Close House, mungkin dibuat heran.

Bagaimana tidak, jika masuk tidak akan mencium bau  kotoran menyengat yang sering jadi menjadi momok setiap kali pengembangan ternak. Untuk menjaga agar Close House tidak bau beberapa cara yang dilakukan dengan menyediakan blower, amoniak untuk membuang gas beracun, dan sensor suhu kelembaban.

“Dengan fasilitas  itulah akhirnya yang membuat kandang baunya terjadi. Sehingga setiap kali ada kunjungan tentunya akan menbuat nyaman dan tidak peru risau dengan bau menyengat kotoran,” kataKasi Bina Produksi dan Pemasaran Peternakan, Dinas Pertanian Kota Batu, Alfas Fatrus Akbar.

“Selain itu juga diperhatikan makan kelincinya agar kotoran tidak bau. Kita campurkan dengan bakteri mikroorganisme juga tidak merubah unsur saat dimanfaatkan,” ungkapnya.

Tidak hanya itu saja, Pemkot Batu juga berhasil memanfaatkan kotoran kelinci tersebut. Limbah dari kotoran kelinci itu dimanfaatkan untuk kebutuhan biogas. Lalu dimanfaatkan menjadi pupuk cair. 

Alfi mengatakan, bahwa pemanfaatan biogas itu juga berfungsi untuk tanaman yang berada di Balai Kota Among Tani. Dan pengembangan ternak ini dirasa baru ada di Kota Batu dari berbagai pusat pemerintahan di Indonesia.

“Saya rasa pengembangan terbak di pusat pemerintahan sepertinya baru di Kota Batu. Karena itu kita akan terus mengembangkan peternakan ini,” tutup Alfas.

Pewarta : Irsya Richa
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->