Ponpes Mantenan Blitar, Dari Tradisi Salaf Hingga Tarawih Tercepat di Dunia

Masjid dan halaman utama Ponpes Mambaul Hikam Udanawu.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Masjid dan halaman utama Ponpes Mambaul Hikam Udanawu.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

BATUTIMES - Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak pesantren tergoda untuk mendirikan lembaga pendidikan modern. Tantangan jaman yang mensyaratkan persaingan dan kemajuan teknologi informasi justru dapat ditaklukkan dengan model pesantren salaf.

Pesantren salaf adalah bentuk asli dari lembaga pesantren itu sendiri. Pesantren salaf identik dengan pesantren tradisional (klasik) yang berbeda dengan pesantren modern dalam hal metode pengajaran yang masih mengkaji kitab-kitab kuning dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Di pesantren salaf, hubungan antara Kyai dengan santri cukup dekat secara emosional. Kyai terjun langsung dalam menangani para santrinya.

Salah satu pesantren salaf yang masih bertahan di Blitar adalah Pondok Pesantren Mambaul Hikam atau lebih dikenal masyarakat luas sebutan Pondok Mantenan.

Pesantren ini berjarak kurang lebih 25 km dari kota Blitar. Lokasinya ada di Dusun Wonorejo, Desa Slemanan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar. Luas areanya sekitar kurang lebih 4 ha yang merupakan tanah wakaf dan milik keluarga.

Pondok Pesantren Mambaul Hikam berdiri sejak tahun 1907, didirikan oleh KH. Abdul Ghofur. Beliau adalah putra dari Kiai Asnawi dan Nyai Sholihah yang berasal dari Desa Blangkah, Kecamatan Pakis, Kabupaten Trenggalek. Beliau adalah seorang yang sangat alim dan menguasai banyak bidang keilmuan. menurut riwayatnya beliau pernah mondok diberbagai pondok pesantren diantaranya Ponpes Mangunsari Nganjuk dan Juga Ponpes Mablong Kediri.

Menurut riwayatnya, KH. Abdul Ghafur sebenarnya adalah seorang putra mantu dari seorang kaya dan sangat dermawan yang bernama H. Munajat. Melihat kesalehan serta kealiman yang dimiliki Abdul Ghofur kemudian H. Munajat mengambilnya sebagai putra mantu.

“Menurut sejarah, dulunya masyarakat sini tidak seperti mertunya yaitu Mbah Munajat, masyarakat sekitar masih cenderung islamnya abangan bisa dikatakan seperti itu. Terus Mbah Kiai Abdul Ghofur melakukan pendekatan pada masyarakat masih pada ranah manusiawi, dan pendekatan sosial, belum pada mengajak ke ibadah dan keimanan,” tutur Muhammad Dhuhri (41), Lurah di Pondok Pesantren Mambaul Hikam kepada BLITARTIMES, Sabtu (12/1/2019).

Melihat fakta sosial keagamaan masyarakat sekitar yang masih memprihatinkan, Abdul Ghofur merasa terpanggil untuk membenahi keadaan. Tuntutan dan tanggung jawab keilmuan beliau diaplikasikan dengan merintis dakwah yang diawali dengan mendirikan Musholla atau Langgar kecil. Dengan modal dasar mendirikan tempat beribadah berupa mushola inilah KH. Abdul Ghofur mulai berdakwah dengan sistem bersilaturahmi ke rumah-rumah warga untuk memberikan pemahaman nilai-nilai keislaman serta mengajak masyarakat untuk beribadah dan mengaji di musholla.

Upaya dakwah KH. Abdul Ghofur lambat laun semakin nyata hasilnya, pengajian yang beliau rintis tidak hanya diikuti oleh anak-anak dan warga sekitar, namun juga banyak warga desa sekitar utamanaya Desa Mantenan. Dengan dibantu warga pada tahun 1911 mulai membangun masjid dan juga pondokkan kecil untuk menampung santrinya yang semakin bertambah.

“Lama kelamaan masyarakat yang dulunya abangan itu mengarahkan anaknya untuk belajar Al Quran dan tata cara beribadah di Mbah Kiai dan lama kelamaan semakin banyak dan masyarakat mengajak Mbah Kiai untuk membangun sebuah asrama atau pondokan itu,” ungkap Dhuhri.

Pesantren salaf ini lebih dikenal dengan sebutan Pondok Mantenan kendati tidak berada di desa tersebut. Hal ini terjadi lantaran masyarakat Mantenan lah yang banyak berperan kala awal pendirian masjid dan pesantren. Sedangkan masyarakat Slemanan yang kala itu masih belum begitu mengenal Islam, kurang memberikan sumbangsihnya. Sehingga Pondok Pesantren Mambaul Hikam lebih dikenal dengan sebutan Pondok Mantenan.

Selain itu, Dhuhri meceritakan masa-masa perjuangan KH. Abdul Ghofur dalam mengenalkan masyarakat pada pendidikan agama, Pondok Mantenan punya keunikan tersendiri, terutama memasuki bulan suci Ramadhan yang masih terkenal hingga saat ini. Mengingat pada waktu itu masyarakat sekitar masih sulit diajak untuk beribadah secara khusyu’, KH. Abdul Ghofur menerapkan ibadah sholat tarawih cepat 23 rakaat hanya dalam 7 menit yang terkenal hingga sekarang, tanpa mengurangi syarat sah dan rukun sholat. Sholat tarawih 7 menit ini disebut-sebut sebagai yang tercepat di dunia.

“Sebenarnya tidak 7 menit, ya mungkin lebih lah, itu memang awal-awal masa dakwah beliau masyarakat yang abangan ini masih ogah-ogahan terus meminta pada Mbah Kiai untuk Trawehnya dipercepat sehingga mereka tetap semangat dan itu ternyata diminati oleh masyarakat. Tanpa meninggalkan syarat dan rukun, tapi taraweh bisa berjalan dan masyarakat pun juga masih bisa ikut ngaji dan tadarus” terangnya

Pada 1920 perkembangan Pondok Mantenan semakin pesat, untuk menunjang sarana pendidikan formal di lingkungan pondok, beberapa santri senior mengusulkan pendirian madrasah kepada KH. Abdul Ghofur. Tanpa menghapus atau mengurangi tradisi-tradisi salaf yang sudah diterapkan sejak dulu, mereka berharap diwaktu luang bisa diisi dengan membantu Kiai untuk mendidik para santri junior. Hal itu disambut baik oleh KH. Abdul Ghofur dan sistem pembelajaran tersebut banyak mendapat dukungan dari para wali santri.

Secara administratif sub pendidikan dan pembelajaran Madrasah baru diakui oleh pemerintah pada tahun 1939 dengan nama Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Oelama (MINO). Hingga pada tahun 1948 Putra dari KH. Abdul Ghofur yaitu KH. Ahmad Zubaidi atau akrab dikenal dengan sapaan Gus Bad mengusulkan pergantian nama madrasah yang semula Madrasah Ibtidaiyah Nahdlotul Ulama diganti menjadi Madrasah Mambaul Hikam hingga saat ini.

KH. Abdul Ghofur berpulang ke Rahmatullah pada tahun 1952, dan selanjutnya kepengurusan Pondok Salaf Mantenan dilanjutkan Oleh putera-puteranya yang juga tak kalah alim serta piawai dalam berdakwah.

Saat ini kepengurusan pondok pesantren mantenan telah sampai pada generasi ketiga, yaitu KH. Dliya’uddin Azzamzami Zubaidi atau Gus Dliya’ sebagai pengasuh sekaligus Kiai di Pondok Pesantren Mambaul Hikam.

Bersama adiknya KH.M.Shonhaji Nawal Karim Zubaidi atau akrab disapa Gus Shon yang terkenal sebagai Pemimpin Majlis Ta'lim Dan Dzikir Jamiyyah Shalawat Nariyyah Mustaghitsu Al-Mughits menjadikan Pondok Pesantren Salaf Mantenan semakin bekembang.

Ditengah tuntutan zaman yang serba materi dan semua ukuran keberhasilan dilihat dari ijazah dan gelar, pesantren ini telah memberikan pelajaran yang nyata. Dengan menerapkan metode pembelajaran madrasah, Pondok Pesantren Salaf Mambaul Hikam tetap bangga dan istiqamah dengan tradisi Salafiyahnya.(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->