Tentang Piala Adipura yang Bukan Pura-Pura

Ilustrasi piala Adipura yang kerap diplesetkan menjadi piala pura-pura (Ist)
Ilustrasi piala Adipura yang kerap diplesetkan menjadi piala pura-pura (Ist)

BATUTIMES - Penghargaan piala Adipura kepada suatu daerah, kerap menjadi perbincangan hangat di dalam masyarakat maupun di tataran para pejabat pemerintahan. Bukan mengenai persoalan penting atau relevan dan tidaknya piala tersebut diraih daerah. 

Tapi mengenai tindaklanjut dari anugerah di bidang lingkungan hidup, khususnya mengenai pengelolaan sampah setelah pemerintah daerah menerima piala tersebut.

Maka, menjadi rahasia umum, terkadang lahir plesetan dari piala Adipura tersebut dengan piala pura-pura. Artinya, saat mekanisme penilaian, pemda bersibuk ria untuk memperlihatkan kondisi wilayahnya sesuai harapan pemerintah pusat. Setelah menerima piala, maka kondisi kembali pada semula. Kotor, kumuh dan tidak ada pengelolaan yang benar-benar sesuai dengan target dan harapan pemerintah pusat.

Hal ini pun terjadi di Kabupaten Malang yang selama 11 kali menerima piala Adipura selama ini. Plesetan mengenai piala Adipura yang pura-pura, kerap muncul di saat adanya kemeriahan menyambut sebuah prestasi di Kabupaten Malang.

"Pasar Kepanjen baru bersih-bersih apabila ada penilaian-penilaian. Kalau sudah selesai ya kembali ke semula," kata salah satu warga yang berprofesi sebagai tukang becak di Pasar Besar Kepanjen, sebut saja Amar (47), Senin (14/01/2019).

Pernyataan senada juga disampaikan dari beberapa warga yang kerap merasa bingung dengan pola-pola "dadakan" dari pemerintah daerah. Pola dadakan tersebut adalah menggerakan petugas untuk melakukan berbagai hal terkait adanya kunjungan atau penilaian.

"Kita ya kadang bingung saja dengan pemerintah ini. Kalau ada kunjungan atau lomba-lomba baru sibuk semua. Tapi kalau sudah selesai ya sudah," ucap warga Kepanjen bernama Sukron. 

Sukron melanjutkan, dirinya pernah mendengar ada kegiatan Jumat Bersih sejak beberapa tahun lalu. Kegiatan tersebut baginya lebih bagus dibandingkan dengan kegiatan dadakan-dadakan yang akhirnya selesai tanpa ada tindak lanjut.

Bukan hanya masyarakat yang kerap bingung dan ujung-ujungnya apatis atas berbagai raihan prestisius tersebut. Salah satu pejabat di Kabupaten Malang juga pernah menyampaikan hal tersebut. Dirinya pernah merasakan "kepura-puraan" dalam persoalan pengelolaan sampah yang ujungnya hanya piala Adipura.

Kondisi tersebut bertentangan dengan dirinya. Maka, diambillah kebijakan untuk secara bersama-sama dan kontinyu melakukan kerja bakti dalam persoalan sampah. Tidak hanya untuk sekedar mendapatkan piala saja, tapi menumbuhkan kesadaran masyarakat.

"Jadi kita butuh keberlanjutan dalam persoalan persampahan. Tidak bisa instan hanya untuk mendapat piala saja. Ini yang pernah ditegaskan Bupati Malang waktu itu kepada saya," ujarnya kepada MalangTIMES.

Hasilnya, piala Adipura bukan dijadikan target utama dan terakhir. Tapi, sebagai bentuk motivasi bagi pemerintah daerah dan masyarakat dalam persoalan sampah yang tentunya tidak bisa selesai dengan raihan piala saja.
Energi masyarakat maupun pemerintah daerah jangan sampai habis mengejar raihan piala yang didapatkan dengan cara pura-pura. 

"Jadi kita butuh kebijakan yang kontinyu, termonitoring secara baik dalam hal ini. Bukan hanya di wilayah kota, tapi juga di seluruh wilayah perdesaan di Kabupaten Malang," pungkas salah satu pejabat di Kabupaten Malang yang tidak berkenan disebut namanya ini.

Pewarta : Dede Nana
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->