Meneladani Resolusi Jihad dan Dahwah KH. Abdul Gofur Pendiri Ponpes Mantenan Blitar

KH Abdul Ghofur.(Foto : Ist)
KH Abdul Ghofur.(Foto : Ist)

BATUTIMES - Jika melihat kilas balik kisah perjuangan dakwah para kiai-kiai terdahulu pasti kita akan menemukan nama-nama tokoh kharismatik. Menelisik kisah perjuangan sekaligus penyebar agama Islam di Daerah Blitar dan sekitarnya Beliau adalah KH. Abdul Ghofur pendiri Pondok Pesantren Mamba’ul Hikam.

KH. Abdul Ghofur adalah putra dari Kiai Asnawi dan Nyai Sholihah yang berasal dari Desa Blangkah, Kecamatan Pakis, Kabupaten Trenggalek. Beliau adalah seorang yang sangat alim dan menguasai banyak bidang keilmuan. menurut riwayatnya beliau pernah mondok di berbagai pondok pesantren di antaranya Ponpes Mangunsari Nganjuk dan juga Ponpes Balong Kediri.

Menginjak usia Dewasa, beliaupun mengakhiri masa lajangnya dengan melamar Nyai Musri’ah, Putri sulung Haji Munajat pemilik tanah luas di Mantenan. Melihat kesalehan serta kealiman yang dimiliki Abdul Ghofur kemudian H. Munajat mengambilnya sebagai putra mantu. Tidak lama kemudian beliau menunaikan Ibadah Haji ke tanah Suci Makah dan setelah itu Beliau menetap di Mantenan.

“Menurut sejarah, dulunya masyarakat sini tidak seperti mertunya yaitu Mbah Munajat, masyarakat sekitar masih cenderung Islamnya abangan bisa dikatakan seperti itu. Terus Mbah Kiai Abdul Ghofur melakukan pendekatan pada masyarakat masih pada ranah manusiawi, dan pendekatan sosial, belum pada mengajak ke ibadah dan keimanan,” jelas Muhammad Dhuhri (41) Lurah di Pondok Pesantren Mambaul Hikam kepada BLITARTIMES, Sabtu (12/1/2019).

Melihat fakta sosial keagamaan masyarakat sekitar yang masih memprihatinkan Abdul Ghofur merasa terpanggil untuk membenahi keadaan. Tuntutan dan tanggung jawab keilmuan beliau diaplikasikan dengan merintis dakwah yang diawali dengan mendirikan Musholla atau Langgar kecil. Dengan modal dasar mendirikan tempat beribadah berupa mushola inilah KH. Abdul Ghofur mulai berdakwah dengan sistem bersilaturahmi ke rumah-rumah warga untuk memberikan pemahaman nilai-nilai keislaman serta mengajak masyarakat untuk beribadah dan mengaji di musala. 

Upaya dakwah KH. Abdul Ghofur lambat laun semakin nyata hasilnya, pengajian yang beliau rintis tidak hanya diikuti oleh anak-anak dan warga sekitar, namun juga banyak warga desa sekitar utamanya Desa Mantenan. Dengan dibantu warga pada tahun 1911 mulai membangun masjid dan juga pondokan kecil untuk menampung santrinya yang semakin bertambah banyak.

“Lama kelamaan masyarakat yang dulunya abangan itu mengarahkan anaknya untuk belajar Al Quran dan tata cara beribadah di Mbah Kiai dan lama kelamaan semakin banyak dan masyarakat mengajak Mbah Kiai untuk membangun sebuah asrama atau pondokan itu,” ungkap Dhuhri.

Di era perjuangan kemerdekaan Indonesia, peran KH. Abdul Ghofur juga tidak kalah penting. Seperti halnya para kiai sepuh lainnya, KH. Abdul Ghofur juga ikut berjuang di medan perang membela tanah air Indonesia. Mengingat kembali resolusi jihad santri yang dikeluarkan oleh Hadrotus Syekh Hasjim Asy’ari yang mengatakan bahwa membela negara adalah sebagian dari iman. “Mbah Kiai Abdul Ghofur itu kan termasuk tentara veteran perang juga meskipun semasa hidupnya tidak tercatat secara resmi,” ungkap Dhuhri.

Dalam mengemas dakwahnya di masayarakat cara yang dilakukan KH. Abdul Ghofur tergolong cukup unik. Antara lain dengan kesabarannya mengajak masyarakat untuk mau beribadah dan mengenal ajaran Islam beliau menerapkan dakwah dari rumah ke rumah membangun silaturahmi dan kedekatan dengan masyarakat. Selain itu, ketika memasuki bulan suci Ramadhan KH. Abdul Ghofur menerapkan salat tarawih cepat, yang sekarang dikenal sebagai sholat tarawih tercepat di dunia. Tanpa mengurangi syarat sah dan rukun dalam sholat, KH. Abdul Ghofur ingin masyarakat sekitar bisa ikut beribadah dan mengenal Islam.

“Dulu itu paling tidak masyarakat itu mau beribadah dan mengenal agama dalam standart minimal saja. Hingga sekarang pondok mantenan ini bisa dikatakan sebagai kiblat atau pusat pembelajaran agama islam bagi masyarakat sekitar, terutama Blitar bagian Barat, terus Kediri ada tiga kecamatan yang dekat sini pengaruh keislamannya sangat kuat,” imbuhnya.

Selain itu, Dhuhri meceritakan masa-masa perjuangan KH. Abdul Ghofur dalam mengenalkan masyarakat pada pendidikan agama, Pondok Mantenan punya keunikan tersendiri, terutama memasuki bulan suci Ramadhan yang masih terkenal hingga saat ini. Mengingat pada waktu itu masyarakat sekitar masih sulit diajak untuk beribadah secara khusyu, KH. Abdul Ghofur menerapkan ibadah salat tarawih cepat 23 rakaat hanya dalam 7 menit yang terkenal hingga sekarang, tanpa mengurangi syarat sah dan rukun salat. Salat tarawih 7 menit ini disebut-sebut sebagai yang tercepat di dunia.

“Sebenarnya tidak 7 menit, ya mungkin lebih lah, itu memang awal-awal masa dakwah beliau masyarakat yang abangan ini masih ogah-ogahan terus meminta pada Mbah Kiai untuk tarawihnya dipercepat sehingga mereka tetap semangat dan itu ternyata diminati oleh masyarakat. Tanpa meninggalkan syarat dan rukun, tapi tarawih bisa berjalan dan masyarakat pun juga masih bisa ikut ngaji dan tadarus,” terangnya

Saat ini, Pondok Pesantren Mambaul Hikam ini lebih dikenal dengan sebutan Pondok Mantenan kendati tidak berada di desa tersebut. Hal ini terjadi lantaran masyarakat Mantenan lah yang banyak berperan kala awal pendirian masjid dan pesantren. Sedangkan masyarakat Slemanan yang kala itu masih belum begitu mengenal Islam, kurang memberikan sumbangsihnya. Sehingga Pondok Pesantren Mambaul Hikam lebih dikenal dengan sebutan Pondok Mantenan.

Memang harus kita akui, bahwa beliau merupakan penancap tongkat sejarah berdirinya Pondok Pesantren Mamba’ul Hikam dan Pesantren ini merupakan bukti jerih payah beliau dalam berjuang menyebarkan agama Islam di kawasan Blitar dan sekitarnya pada waktu itu.

KH.Abdul Ghofur wafat pada tahun 1952, dan disemayamkan tepat di belakang Masjid Mamba’ul Hikam. Sampai sekarang jasanya masih dikenang. Harumnya nama tokoh seperti beliau menyebabkan makamnya tidak pernah sepi dari peziarah yang bukan hanyadari kawasan Blitar, melainkan dari Jawa Tengah, Jawa Barat, bahkan Sumatera dan Kalimantan. Kegigihannya dalam berda’wah patut dijadikan suri tauladan sebagai modal untuk meneruskan perjuangan beliau dalam mengemban misi dakwah perjuangan Islam.(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->