Pindah Jualan Tempat Jualan, Soto Legendaris Ini Tak Seramai Dulu

Menu Soto daging Rahayu yang legendaris sejak 1928 ( foto - foto Luqmanul Hakim/Malang Times)
Menu Soto daging Rahayu yang legendaris sejak 1928 ( foto - foto Luqmanul Hakim/Malang Times)

BATUTIMES - Kuliner di kota malang memang tidak ada habis - habisnya. Bahkan saat ini semakin banyak kuliner musiman menjamur di kota malang. Namun, di tengah semakin banyaknya kuliner yang bermunculan, masih ada kuliner legendaris yang msih berdiri hingga sekarang. Salah satunya Soto daging Rahayu.

Berdiri sejak 1928, soto daging rahayu milik Supiatun, masih berdiri hingga sekarang. Masih dikemas dengan bumbu tradisional yang dibekali secara turun temurun, Hj. Puji Astutik generasi ke tiga dari pemilik warung soto ini masih laris manis.

Tak hanya proses penyajiannya saja, proses pembuatan bumbunya ia lakukan tanpa menyuruh orang lain. Sebab, menurut puji dengan seperti itu, kualitas cita rasa soto dagingnya tersebut tidak akan berubah. "Semua bumbunya dibuat sendiri, koya nya juga, bawang gorengnya juga. Kalo dibuat orang lain nanti rasanya berubah," ujar Puji saat ditemui Kamis (14/2/2019).

Sebelumnya, soto ini dijual di area Pasar Besar Kota Malang sejak tahun 1929. Warung soto daging rahayu ini sudah ia pegang selama 40 tahun. Namun, saat ini ia tidak lagi menjual soto dagingnya di area Pasar Besar Kota Malang. Pasca kebakaran yang melanda Pasar Besar 3 tahun silam, ia memutuskan untuk membuka usahanya di rumah yang berlokasi di jalan Lombok Gang 7, Mergosono, Kota Malang.

Tentunya, perpindahan lokasi ini membawa dampak terhadap jumlah penjualannya. Puji menuturkan saat ini ia bisa menjual sekitar 15 porsi saja setiap harinya. Padahal, semasa ia berjualan di Pasar besar ia bisa menjual sedikitnya 200 porsi hanya dalam sehari saja. "Pas pindah mulai kurang, sekarang ya minimal 15 porsi sehari, kalo dulu di pasar besar minimal 200 porsi sehari," ujarnya

Namun, tak sedikit pelanggan setia warung soto ini yang masih saja datang meskipun sudah pindah lokasi. Tak hanya warga lokal saja yang masih menjadi pelanggan setia warung ini, bahkan warga luar kota seperti Jakarta, Bandung dan kota besar lainnya.

Kemudian, naiknya bahan bakar arang dan sudah mulai susah dicari, Puji mengatakan ia sudah menggunakan gas Elpigi untuk mengolah soto dagingnya. Puji menuturkan bahwa penggunaan kompor gas ini dikarenakan jika menggunakan arang maka jumlah biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan pendapatan yang diterimanya. "Kalo pake gas, satu tabung bisa 3 - 4 hari, kalo arang 1 hari bisa habis Rp 20 ribu sampe Rp 30 ribu, pake arang ga sumbut sama penghasilannya," ujar Puji.

Kendati demikian, ia menuturkan bahwa dengan lokasi yang baru di perkampungan, ia juga menyediakan beberapa menu lain seperti ceker pedas, lontong sayur, tongkol pedas dan kare menyesuaikan dengan lokasinya yang ada di perkampungan.  Namun, ia tetap tak mau menghilangkan menu aslinya Soto Daging tersebut.

"Disini kan di kampung, jadi saya tambahin menu lagi kayak ceker pedas, lontong sayur, tongkol pedas, sama kare, menyesuaikan tempatnya yang ada di kampung" pungkasnya.

Pewarta : Luqmanul Hakim
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->