Sambal Mamiku Bikin Lidah Ketagihan

Sambal Mamiku bikinan Jeny. (eko Arif s /JatimTimes)
Sambal Mamiku bikinan Jeny. (eko Arif s /JatimTimes)

BATUTIMES - Makan ditemani sambal menjadi salah satu kebiasaan yang sudah lama turun temurun, pedas dan nikmat. 

Mungkin itulah kata-kata yang dapat menggambarkan sambal di mata masyarakat Indonesia.

Olahan cabai yang kerap disajikan sebagai kondimen atau menu pelengkap ini memang tak dapat dipisahkan dari jamuan makan masyarakat Indonesia.

Bahkan, tak sedikit yang menjadikan sajian sambal tersebut sebagai buah tangan.

Bisnis sambal kemasan ternyata menggiurkan, karena meski mudah membuatnya, tapi tidak semua orang mampu meracik sambal dengan cita rasa yang mantap dan tentu saja punya waktu untuk membuatnya.

Sekalipun hanya sebagai pendamping makanan, jika digarap dengan tepat, bisnis sambal bisa memberi keuntungan besar.

Ide bisnis itu justru datang dari Jeny Hermawati, karena kegemarannya pada makanan pedas dan hobi memasak. 

Sampai akhirnya Jeni berpikir untuk membuat bisnis sambal kemasan. Ia pun menerapkan strategi penjualan yang cukup jitu.Jeny menggunakan kata "Sambal Mamiku" sebagai nama brandnya. 

Hal ini lantaran resep sambal yang dibuat Jeni resep turun temurun dari orang tua.

Dalam membuat sambal Jeny mengaku tak memakai bahan pengawet atau pewarna buatan. Bahan - bahannya sendiri langsung didatangkan dari petani.

Dalam proses pembuatannya ia dibantu tiga karyawannya. 

Dalam pembuatannya sendiri masih menggunakan alat tradisional, di uleg pakai tangan tanpa menggunakan mesin penggiling.

"Dengan pilihan bahan-bahan segar dan terbaik kami mengolah sambal-sambal ini sehingga terciptalah berbagai rasa Sambal Mamiku, sambal khas yang tiada dua rasanya," terang Jeny kepada KEDIRITIMES, Sabtu (16/3/19).

Sambal Mamiku merupakan sambal siap saji yang dikemas secara praktis dengan berbagai citarasa.

Sederet sambal dihadirkan oleh Sambal Mamiku, seperti sambal cumi yang dibanderol hanya 50 ribu, sambal cumi pete 55 ribu, sambal tongkol 40 ribu, sambal tongkol pete 45 ribu, sambal teri Medan 45 ribu, sambal teri pete 50 ribu dan sambal pete dibanderol hanya 30 ribu.

Jeni memulai bisnis sambalnya pada awal Januari 2019 lalu, diawal usahanya dalam sebulan dia berhasil meraup omzet 10 juta per bulan. Kini omsetnya naik hampir empat kali lipat perbulan.

Jeni mengaku daya tarik utama sambel hasil racikannya terletak pada cita rasa sambel rumahan dan serba guna. 

Salah satu faktor yang juga penting dalam memasarkan sambel kemasan adalah kestabilan rasa.

Medsos, dan promosi dikomunitas dan lingkungan menjadi salah satu strategi pemasaran yang bisa dimanfaatkan untuk menggenjot penjualan.

Produknya tersebut juga sudah dipasarkan hingga ke Malaysia, Singapura, Brunei Darusalam dan Australia.

Pewarta : Eko Arif Setiono
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->