Keris Era Singasari Hingga Majapahit Dipamerkan di DKM Kota Malang, Begini Keindahannya

Pembuat keris asal Malang, Mpu Zainal Danang saat menunjukkan koleksi keris era Majapahit miliknya dalam pameran yang digelar di DKM (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Pembuat keris asal Malang, Mpu Zainal Danang saat menunjukkan koleksi keris era Majapahit miliknya dalam pameran yang digelar di DKM (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

BATUTIMES - Keris menjadi salah satu benda pusaka asli Nusantara yang eksistensinya begitu kuat hingga sekarang. 

Bukan hanya sebagai senjata, keris juga menjadi salah satu bagian budaya yang sangat melekat serta memberi keindahan tersendiri dalam kearifan budaya Nusantara.

Bentuknya yang unik, cenderung membuat kolektor dan pecinta keris terus memburu benda pusaka yang satu ini. 

Selain masih banyak diproduksi sampai sekarang, keris yang ada sejak masa kerajaan di Nusantara juga masih banyak diburu hingga sekarang.

Salah satu yang banyak menarik perhatian adalah keberadaan keris yang sudah dibuat sejak era Kerajaan Singasari dan Majapahit. 

Meski tak banyak, keris yang dibuat pada era kejayaan Kerajaan Singasari dan Majapahit itu pun dipamerkan di Dewan Kesenian Malang (DKM) dalam kegiatan Srawung Sedulur Pelestari Tosan Aji Tlatah Singhasari, Sabtu (16/3/2019).

Beberapa bilah senjata tikam yang diproduksi sejak ratusan tahun lalu itu pun dipamerkan, lengkap dengan sederet keindahan yang dimiliki.

Tak hanya sekadar dipamerkan, benda pusaka itu pun dapat dibeli dengan harga mulai dari puluhan juta rupiah.

"Kalau pusaka di era Singhasari dan Majapahit ini harga pasarannya berbeda. Kalau untuk yang dibuat baru, ya harganya beragam mulai dari Rp 1 juta," kata pembuat keris asal Malang, Mpu Zainal Fanani pada MalangTIMES.

Fanani menyampaikan, dibandingkan dengan keris yang diproduksi baru-baru ini, keris di era Singhasari dan Majapahit memiliki pamor (serat-serat lapisan logam cerah pada helai bilah) yang berbeda dengan ciri khasnya tersendiri.

Untuk keris era Majapahit, menurutnya memiliki bentuk yang lebih kecil ketimbang keris era Singhasari. 

Lebar dari besi dan motifnya pun memiliki perbedaan yang cukup signifikan. 

Begitu juga dengan jenis besi yang digunakan, cenderung berbeda.

"Yang khas dari era Majapahit di antaranya pada besi yang terkesan kering dan ada odo-odo atau punggung di bagian tengahnya," imbuh Fanani.

Dari segi warna, keris era Singhasari dan Majapahit jika dibandingkan dengan sekarang juga jauh berbeda. 

Karena keris di era Kerajaan cenderung dibuat dengan besi murni. Sehingga memiliki warna hitam legam, berbeda dengan keris era sekarang yang warnanya sedikit keabu-abuan lantaran ada perpaduan dengan bahan lainnya.

Meski begitu, perawatan keris yang ada sejak era kerajaan dengan sekarang tak jauh berbeda.

Pemilik hanya perlu membersihkan dengan cairan anti karat. 

Selain itu, perlu dilakukan pencucian terhadap keris yang memang hanya bisa dilakukan oleh ahlinya.

"Kalau awal-awal memang perlu dicuci oleh yang bisa saja, selebihnya merawat mudah," paparnya lagi.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Srawung Sedulur Pelestari Tosan Aji Tlatah Singhasari, Iskandar menambahkan, pameran benda pusaka ini bukan hanya sekadar pada keris semata. 

Namun juga benda pusaka lain seperti tombak hingga sederet hiasan dan pernak-pernik khas Malang.

Kegiatan yang rencananya rutin digelar setiap bulannya itu pun melibatkan budayawan dan seniman dari berbagai penjuru Indonesia. Mulai dari Bali, Solo, Jogja, Madura, Surabaya, Mojokerto, dan Sidoarjo.

"Kegiatan ini melibatkan lebih dari 10 paguyuban. Dan rencananya memang rutin digelar, untuk lebih menghidupkan aktivitas budaya di Indonesia, khususnya Malang Raya sendiri," jelasnya. 

Pewarta : Pipit Anggraeni
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->