Sawah Aktif di Kota Malang Tersisa 821 Hektare

Para petani di kawasan Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang tengah memasang jaring pengaman untuk tanaman padi. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Para petani di kawasan Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang tengah memasang jaring pengaman untuk tanaman padi. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

BATUTIMES - Luas lahan pertanian, terutama untuk komoditas padi di Kota Malang semakin menyempit. 

Saat ini, luasan sawah aktif di kota dingin ini tersisa 821 hektare saja. Artinya, hanya 5,6 persen dari total luas wilayah 14.530 hektare.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Disperta-KP) Kota Malang Sri Winarni mengungkapkan, selain komoditas padi terdapat juga lahan yang digunakan untuk bertanam sayur mayur dan komoditas pertanian lainnya. 

"Kota Malang memang bukan daerah pertanian, karena lahan yang kami miliki hanya lebih kurang 1.104 hektare," ujarnya. 

"Tapi tidak semuanya berupa sawah. Sekitar 821 hektare saja bisa ditanami padi," tambah Winarni. Berdasarkan data Disperta-KP Kota Malang, untuk satu kali musim tanam, produksi padi yang dihasilkan mencapai 6-7 ton per hektare.

Sementara untuk koefisien tanam di Kota Malang ada pada kisaran 2,3 per tahun atau 7 kali masa tanam-panen dalam 3 tahun. 

Winarni mengakui bahwa saat ini kebutuhan pangan penduduk Kota Malang paling banyak dipenuhi oleh daerah-daerah sekitar. 

"Kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk Kota Malang, dari hasil produksi padi hanya sedikit sekali menyumbang untuk kebutuhan masyarakat. Maka kami dari Disperta-KP bagaimana bisa mengoptimalkan sawah yang tersedia," paparnya.

Dia menekankan, aspek ketahanan pangan menjadi salah satu fokus perhatian Kota Malang.

"Kami juga melakukan strategi di wilayah kota. Luas tanah di Kota Malang kan banyak digunakan permukiman serta kawasan industri dan bisnis," sebutnya. 

Meski demikian, pihaknya juga berharap masyarakat dapat ikut berpartisipasi aktif. Agar tidak terlalu bergantung pada pasokan bahan pangan dari luar daerah. 

"Maka tentu harus kreatif memanfaatkan pekarangan-pekarangan rumah agar bisa budidaya tanaman pangan. Alih budaya hidroganik yang diintegrasikan hingga menjadi olahan terus disosialisasikan ke masyarakat. Termasuk dengan urban farming (pertanian perkotaan)," terangnya. 

Saat ini, penggalakan urban farming juga dilakukan dengan menggandeng Tim Penggerak PKK Kota Malang. 

"Intinya semua bergerak, PKK ini menjadi salah satu upaya melibatkan masyarakat tetap aktif bertanam di lahan yang terbatas," pungkasnya. 

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->