Hari Pendidikan, Puluhan Mahasiswa UM Gelar Aksi di Depan Graha Rektorat

Aliansi Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) saat beraksi di depan Graha Rektorat UM. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Aliansi Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) saat beraksi di depan Graha Rektorat UM. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

BATUTIMES - Tepat di Hari Pendidikan Nasional 2 Mei ini, Aliansi Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) yang terdiri atas Badan Eksekutif Mahasiswa UM, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas se-UM, dan Himpunan Mahasiswa Jurusan se-UM menggelar aksi di depan gedung Graha Rektorat UM, Kamis (2/4).

Berbagai spanduk berisikan tulisan "Tolak Komersial Pendidikan"; "UKT Tinggi AC Mati"; "Hari Pendidikan Indonesia 2019, Mendesak UM Turut Aktif Kawal Pendidikan Nasional Lebih Baik"; "UM Kampus Inklusi? Sampai Kapan Jadi Opini?"; "Education for Sale"; dan lain-lain memenuhi halaman Graha Rektorat UM.

Teriakan-teriakan "Hidup Mahasiswa! Hidup Pendidikan!" terus dikumandangkan. Para orator menyerukan berbagai hal mulai dari "Inalillahi wainailaihi rojiun. Telah meninggal UM yang sekarang menjadi Universitas Negeri Maling!"; "Tuntut Bapak Rektor untuk keluar atau kita yang masuk?"; hingga "Universitas Negeri Malang atau Universitas Negeri Manten?"

Ada 6 poin yang dituntut oleh para mahasiswa tersebut. Pertama, mendesak UM untuk turut aktif mengawal terwujudnya pendidikan nasional yang lebih baik.

Kedua, mendukung UM menjadi kampus inklusi sesuai dengan Permendiknas nomor 70 tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif.

"Karena beberapa kasus mahasiswa disabilitas di UM mengalami kesulitan akses untuk belajar karena tidak ada fasilitas dan layanan untuk mereka, gedung-gedung pun banyak tidak ramah disabilitas, terutama gedung-gedung lama," jelas Yoga Abi Zakaria, Koordinator Aksi dan Ketua BEM FIP.

Ketiga, menuntut perbaikan pendidikan melalui kampus yang menyelenggarakan sistem pendidikan yang jujur adil dan transparan.

Keempat, menuntut pihak UM melakukan klarifikasi terkait permasalahan statuta UM yang dihadiri oleh mahasiswa UM.

Kelima, meminta pihak UM untuk mengajukan usulan anggaran pendidikan tinggi dan Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan tinggi Indonesia.

Terakhir, menetapkan peraturan mengenai transparansi dan perbaikan sistem keringanan yang diatur secara umum oleh UM dalam perundang-undangan yang menjamin kepastian hukum bagi orang tua mahasiswa.

Setelah pihak BEM bermediasi dengan pihak Rektor, Wakil Rektor III Dr. Mu'arifin, M.Pd pun menemui para mahasiswa. Ia menyatakan, kata kunci agar semua permasalahan diselesaikan dengan baik adalah komunikasi.

"Kita tadi sudah ngobrol banyak tentang hal-hal, tentang isu-isu yang saudara inginkan. Ketua BEM dengan beberapa perwakilan sudah datang ke kami. Kata kuncinya adalah satu, komunikasi," ujarnya di depan para mahasiswa.

Mu'arifin mempersilakan para mahasiswa berkomunikasi dengan pihaknya. Ia menegaskan, pihaknya sangat terbuka dalam mendengarkan semua aspirasi mahasiswa.

"Kemudian dari isu-isu yang muncul itu nanti akan kami rapikan jadi keputusan yang lebih baik daripada sekarang ini," tandasnya.

Dalam penyampaiannya, Mu'arifin juga sempat berpesan kepada para mahasiswa agar belajar sebelum mengisukan sesuatu

"Saya hanya minta sebelum mengisukan sesuatu, Saudara Mahasiswa itu harus mengerti dulu tentang isu tersebut. Kalau tidak mengerti dan tidak mempelajari, nanti akan muncul isu-isu yang lain," pungkasnya.

 

Pewarta : Imarotul Izzah
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->