Inovasi Buatan Sekelompok Mahasiswa Ini Percepat Pertumbuhan Karang hingga 5 Kali Lipat

Kelompok pembuat Biocorfish. (Foto: Humas)
Kelompok pembuat Biocorfish. (Foto: Humas)

BATUTIMES - Sebagai negara yang terletak di pusat segitiga terumbu karang (the coral triangle), Indonesia memiliki tingkat keanekaragaman yang tinggi. Sayangnya kondisi terumbu karang di Indonesia mengalami degradasi yang cukup mengkhawatirkan.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) menyatakan bahwa penelitian dan pemantauan terumbu karang terhadap 1.067 site di seluruh Indonesia tahun 2018 menunjukkan bahwa terumbu karang dalam kategori sangat baik hanya sebesar 6,56 persen (70 site).

Sedangkan terumbu karang kategori baik sebanyak 245 site (22.96 persen) dan kategori cukup sebanyak 366 site (34.3 persen). Sementara, kategori jelek sebanyak 386 site (36.18 persen).

Hal ini membuat 5 mahasiswa Laboratorium Tenaga Surya dan Energi Terbarukan Jurusan Teknik Mesin Universitas Brawijaya (UB) membuat inovasi Biocorfish, Rehabilitation Coral Technology by Biorock System with Blue Lamp and Using The Solar Panel in Fisheries Sustainable Economics for Ecology Implementation.

Biocorfish sendiri ialah teknologi konservasi terumbu karang yang menggunakan konsep “economics for ecology” untuk membuat kawasan educotourism. Inovasi tersebut dapat mempercepat pertumbuhan karang hingga 3-5 kali lipat.

Lima mahasiswa ini yakni Muhammad Husni Mubarok, Janitra Naufal Faza, Prihatining Lestari, Muhammad Rafly Endria, dan Zulfa Salsabila Rifiya Firdaus. Mereka berharap adanya perlindungan khusus dan solusi rehabilitasi untuk terumbu karang.

Nah, inovasi yang mereka buat merupakan modifikasi dari model transplantasi karang dengan menggunakan sistem biorock. Kemudian diberi tambahan lampu warna biru yang memiliki bentuk menarik (sesuai keinginan).

"Alat yang kami buat dilengkapi dengan faktor pendukung pertumbuhan terumbu karang, seperti aliran listrik pada sistem biorock, efek cahaya pada zooxanthellae, dan kalsium karbonat dari kotoran ikan sebagai bahan pembentuk karang," beber Husni. “Alat ini dapat mempercepat waktu pertumbuhan hingga 3-5 kali lipat daripada pertumbuhan secara alami,” imbuhnya.

Untuk diketahui, masyarakat pesisir juga bisa mendapatkan keuntungan finansial dari inovasi ini. Misalnya dengan pembuatan rumah makan apung di atas keramba jaring.

"Konsumen nantinya akan disuguhkan juga dengan pemandangan terumbu karang bergelimang cahaya dari Biocorfish yang selain menghiasi juga berfungsi memperbaiki terumbu karang," imbuh Husni.

Berkat inovasi tersebut, 5 mahasiswa itu mendapatkan medali emas dan Special Award from WIIPA Taiwan dalam ajangInternational Innovation, Creativity and Technology Exhibition (i2CreaTE 2019) oleh Malaysia Research and Innovation Society (MyRis) yang diadakan diSeri Pacific Hotel, Kuala Lumpur, Malaysia pada 12–14 April 2019 lalu.

Husni mewakili tim berharap agar Biocorfish dapat segera diimplementasikan dan bisa menjadi solusi rehabilitasi terumbu karang sekaligus memberi pendapatan bagi masyarakat pesisir. “Terus berinovasi dan berikan ide-ide terbaik kita untuk membangun Indonesia karena memberikan solusi lebih baik daripada hanya sekdar memberikan kritik,” pungkasnya.

Pewarta : Imarotul Izzah
Editor : Yunan Helmy
Publisher :
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->