Dinas Pariwisata Kota Batu Kenalkan Udeng Khas Sima Bhawana, Begini Simbol dan Arti Goresan Gambarnya

Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu bersama stafnya mengenakan udeng khas Kota Batu di kantornya Balai Kota Among Tani. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu bersama stafnya mengenakan udeng khas Kota Batu di kantornya Balai Kota Among Tani. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

BATUTIMES - Jika di daerah lainnya memiliki khas udeng-udeng (penutup kepala) masing-masing, Kota Batu pun tidak mau kalah dengan mengangkat ciri khas yakni Udeng. Dinas Pariwisata Kota Batu baru saja mengenalkan Udeng yang diberi nama Sima Bhawana.

Udeng ini tentunya memiliki ciri khas berbeda daripada yang lainnya. Pengambilan nama Sima itu memiliki arti perdikan, sedangkan bhawana adalah daerah atau tempat.

“Jika digabungkan memiliki arti Kota Batu. Bahasa itu diambil dari bahasa kawi atau sansekerta,” ungkap Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Imam Suryono, Kamis (16/5/2019). 

Udeng Kota Batu ini memiliki ciri batik tulis yang berasal dari batik pakem Jawa Kuno Sidomukti, Sidoluhur, Sekar Jagad dan beberapa informasi lainnya dari relief Candi Sanggariti memiliki nama ‘Permana Praba dengan bergelar Sang Aji Manik’.

Udeng ini memiliki dua model. Yakni terdiri atas kepala terbuka, digunakan oleh anak laki-laki hingga dewasa yang belum menikah. Sementara bagi laki-laki yang telah berumah tangga memakai model tutup liwet atau model udeng sima bhawano dengan ditutup.

 “Dengan model gunungan yang sama pula. Namun, itu tidak berupa batasan untuk membedakan filosofi. Kalau pun sudah berumah tangga memakai model yang terbuka juga tidak ada pertentangan atau suka suka si pemakai,” imbuhnya.

Ia menambahkan Udeng Arjuna nama lain dari Sima Bhawana memakai simbol Gunung Arjuna. Diharapkan pengguna tampak gagah dan tampan, berilmu, dan berpengetahuan luas serta berbudi luhur seperti Raden Arjuna, salah satu tokoh dari cerita Pandawa.

Model Udeng ini disesuaikan dengan corak dan kondisi riil wilayah berdasarkan topografi pegunungan yang ada di Kota Batu beserta datarannya. Di sisi kanan dan belakang ada tumpal (gunung) berbentuk gunungan yakni deretan Gunung Arjuna. 

Yang ada di belakang kepala berjejer ke sebelah kanan Pegunungan Welirang hingga Panderman sebagai salah satu deretan Pegunungan Kawi. Sebelah sisi kiri tidak ada gunung, sehingga hanya diberi corak gunungan di sebelah kanan, ini dimaksudkan bahwa hamparan tanah yang subur beserta pemukiman masyarakatnya ada di tengah dan salah satunya sebagai pintu masuk utama ke Kota Batu. Dan sisi selatan dan timur memang kondisi alam yang ada seperti itu adanya.

Udenga khas Batu ini lanjut Imam, merupakan ide dari Paguyuban Sangga Braja yang ada di Kota Batu. Untuk menemukan ide itu membutuhkan waktu 3-4 tahun. 

“Melalui proses panjang, baru realisasi 3-4 tahunan hingga muncul, dan memang ada kajiannya juga,” tambah pria yang juga staf ahli Pemkot Batu ini. Selain itu dengan hadirnya udeng ciri khas Kota Batu ini sesuai dengan Undang-Undang nomor 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan daerah. 

Sayangnya untuk saat ini udeng tersebut belum diproduksi. Hanya saja sudah ada wacana untuk dipatenkan. 

Pewarta : Irsya Richa
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->