KITAB INGATAN 57

Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

BATUTIMES - Ada Aduh Dalam Nikmat

*dd nana

"Maka nikmat manalagi yang kamu dustakan ?."

1/ Serupa Tembikar

Awalmu, bukan? 

Sebuah yang kau bayangkan tanpa tepi. Menopang hal Ikhwal dan menyerap segala yang ditumpahkan. Sebelum Tuhan mengutus makhluk cahaya untuk meminangnya, menuju sorga.

Merah kecoklatan atau putih yang kecoklat-coklatan. Bentukmu sebelum purna. Dan ditatah dengan cinta yang tak pernah bisa kau rumuskan walau telah kau jangkau tepi langit dan daratan. 

Kau terhampar serupa helaian sajadah. Walau ada yang tercerabut dari akarnya, sakit belum dicipta. Maka kau tenang dalam garba, walau batu-batu api membakarmu dan cuaca mematangkan warna awal ragamu.

Penciptaan berakhir. Kau pun begitu riang menyebut angka-angka dan benda-benda yang ditanamkan sejak lelap panjangmu yang tenang. Sejak kau bayangkan kisah tak pernah memiliki tepi. Raga tak lagi memendam api. Padahal kau mengerti ada hal-hal yang juga dititahkan. Hati-hati. 

Karena penciptaan adalah keseimbangan. Tak ada nikmat sebelum sakit mengajarimu cara meratap.

Masihkah kau sakit, tuan ? 

2/ Pertemuan

Nikmat itu tidak datang tiba-tiba. Ayolah, buka ingatan awalmu, jangan kau sembunyikan segala yang pernah menggentarkan hati dan matamu.

Maka, perjalanan dimulai dengan saling singkur. Mengalir tanpa seiringan agar kau belajar. Bahwa sepi adalah awalmu mengenali nyeri. Sebelum kau nanti bersitumbuk. Entah di bukit yang mana. Kuharap kau jangan berpikir itu Jabar. 

Di alirmu yang tak bisa kau tebak arahnya. Percayalah, sesekali kau perlu menangis untuk menjernihkan sepasang matamu. Untuk membasuh hatimu yang menjadi kompas menujunya. Ada kisah pertemuan yang telah disediakan, percayalah.

Seperti Tuhan yang menjadikan dua lautan mengalir hingga keduanya bertemu. Dimana, selalu ada batas yang tidak saling melampaui antara keduanya. 
Maka kuatkan mata lewat jemari sepi. Nikmati sakit sebelum datang pertemuan yang tak bisa kau bayangkan kejadiannya.

3/ Berdoa

Mari berdoa saja. Agar segala sakit jadi penguat punggung dan kakimu. Merontokkan segala kelam di ragamu yang kerap berpiuh dengan cuaca. Selagi kau masih bisa menangis saat menuliskan kisah-kisah. Mari berdoa.

Kelak, kau sampai di tempat yang dijanjikan. Dimana di sana terdapat dua mata air yang mengalir dengan bebuahan yang berpasangan. 
Mari berdoa.

*sekedar penikmat kopi lokal

 

Editor : Redaksi
Publisher :
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->