Permintaan Meningkat, Produsen Mukena Sulam di Malang Terkendala Naiknya Harga Bahan Baku

Perajin tengah menyulam hiasan di kerudung di rumah fashion Almira Handmade, Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Perajin tengah menyulam hiasan di kerudung di rumah fashion Almira Handmade, Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

BATUTIMES - Permintaan produk fashion hias sulam asal Kota Malang meningkat drastis sepanjang Ramadan 1440 H. Para pembeli mengincar berbagai item seperti kerudung, mukena, serta kaftan dan gamis. Namun, kenaikan harga bahan baku sejak awal 2019 lalu membuat produsen mesti mengencangkan margin keuntungan.
 

Seperti yang diungkapkan Nurul Hidayati, owner rumah kreatif Almira Handmade yang memproduksi aneka produk fashion dengan hiasan sulam tangan nan cantik. Menurut Nurul, saat ini permintaan naik sekitar dua kali lipat. "Ramadan ini meningkat 100 persen, kalau per hari rata-rata 50 pieces menjadi sekitar 100 pieces untuk dalam kota," tuturnya. 
 

Permintaan produk ke luar daerah hingga luar negeri pun mengalami peningkatan. "Untuk luar daerah, pengiriman paling banyak ke Jawa Barat dan Jakarta. Kalau yang luar negeri, kami masih reguler mengirim ke Malaysia dan Hongkong," sebut perempuan yang juga dosen Jurusan Tata Busana Universitas Negeri Malang (UM) itu. 
 

Nurul mengungkapkan, yang sekarang digemari adalah model-model tunik dan gamis. Untuk harga yang dibanderol, item kerudung mulai Rp 80 ribu. Sedangkan item kaftan mulai Rp 500 ribu dan mukena mulai Rp 75 ribu. "Untuk gamis kami spesifik pakai bahan katun dan satin. Kami juga mengikuti tren dan permintaan pasar meski dalam produksi seluruhnya handmade," ujarnya.
 

Namun, meski permintaan naik, Nurul mengaku mesti mengurangi margin keuntungan. Pasalnya, sejak awal 2019 lalu terjadi kenaikan harga bahan baku yang signifikan. "Bahan baku kami sebutnya ganti harga, tidak hanya naik, naiknya nggak ukuran. Tetapi harga produk nggak bisa naik banyak karena kami kan menjaga pasar," keluhnya. 
 

Menurut dia, kenaikan kenaikan bahan baku tidak sebanding dengan kenaikan harga barang. "Semuanya naik mulai kain, benang sulam dan bahan baku lainnya. Misalnya benang dari harga Rp 10 ribu per gulung menjadi Rp 18 ribu," sebut Nurul. 
 

Selain itu, produksi juga masih terbebani dengan naiknya ongkos produksi dari sisi gaji karyawan. Saat ini, rumah fashion yang berlokasi di Jalan Sunan Muria II No 16 Kecamatan Lowokwaru itu memiliki puluhan karyawan. 

 

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Yunan Helmy
Publisher :
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->