Riset Sederhana Mahasiswa Thailand (8)

Kepercayaan Hu Bao dengan Menindik Bayi di Thailand yang Telah Pudar

Ilustrasi bayi bertindik. (Foto istimewa)
Ilustrasi bayi bertindik. (Foto istimewa)

BATUTIMES - Menindik telinga anak perempuan sejak bayi sudah merupakan budaya di Indonesia. 

Namun, ternyata budaya ini sudah sejak lama ditinggalkan oleh negara tetangga kita, Thailand.

Hal ini diungkapkan Thipanun Duangsuk, mahasiswa jurusan Asean Studies dari Walailak University yang sedang mengikuti program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) di Universitas Negeri Malang (UM) dalam penelitiannya.

"Di Thailand juga ada budaya tindik telinga untuk bayi seperti di Indonesia, tetapi budaya tindik telinga untuk bayi di Thailand adalah budaya lama yang saat ini sudah mulai hilang," ujar perempuan yang akrab disapa Nawang itu.

Kebanyakan perempuan di Thailand mulai menindik telinga saat mereka sudah beranjak remaja. Hanya ada sedikit yang bertindik sejak bayi.

Di sana, kebanyakan orang yang bertindik sejak bayi adalah orang tua. Jika bertanya kepada anak-anak atau orang yang masih muda, kebanyakan orang tidak tahu apa itu budaya tindik telinga untuk bayi. 

Dikatakan Nawang, budaya tindik telinga untuk bayi dulunya dilakukan kepada bayi sejak baru lahir hingga 7 hari setelah lahir.

Nawang pun meneliti mengenai budaya tindik ini di Indonesia. 

Thipanun Duangsuk alias Nawang, mahasiswa Walailak University, Thailand

Kebanyakan perempuan Indonesia bertindik telinga dan mereka harus menindik telinga sejak mereka masih bayi, kecuali perempuan Indonesia yang beragama Kristen Advent.

"Orang yang beragama Kristen Advent tidak dibolehkan oleh agamanya untuk menindik, karena Agama Kristen Advent melarang untuk merusak tubuh diri sendiri. Jadi menurut agama Kristen Advent, menindik sama saja dengan merusak bagian tubuh," bebernya.

Kebanyakan orang Indonesia yang diwawancarai Nawang berpendapat bahwa orang Indonesia menindik telinga anaknya karena ingin membedakan anak perempuannya dengan anak laki-laki.

Selain itu, orang Indonesia juga berpikir bahwa pesan dari budaya tindik telinga untuk bayi dilakukan untuk kecantikan anak-anak saat mereka dewasa. 

Di sisi lain, menindik saat dewasa akan terasa sakit, tetapi jika menindik sejak masih bayi maka lukanya akan cepat sembuh.

Sama halnya dengan di Indonesia, di Thailand, budaya tindik telinga untuk bayi juga dilakukan supaya tahu bahwa bayi itu perempuan. 

Orang tua di Thailand berpendapat bahwa dulu perempuan suka berdandan dan memakai banyak perhiasan seperti gelang, kalung, cincin dan anting.

Uniknya, ada pesan yang lain dari budaya tindik telinga untuk bayi di Thailand. Pesan ini adalah tentang kepercayaan orang tua dari peribahasa di Thailand “Hu bao”. 

Hu bao berarti orang yang mudah percaya dengan orang lain, tidak berpikir dulu bahwa hal itu benar atau bohong dan baik atau tidak baik. 

Hu bao dalam Bahasa Indonesia berarti telinga enteng dan orang yang punya telinga enteng akan mudah tertipu dari orang jahat.

"Jadi orang tua berpikir bahwa harus menindik telinga sejak anaknya masih bayi supaya saat dewasa mereka tidak akan punya telinga enteng karena telinganya akan berat dengan anting-anting," bebernya.

Selain itu, ada lagi pesan budaya tindik telinga untuk bayi dari Thailand yaitu tentang kepercayaan bahwa orang yang punya telinga panjang, umurnya juga akan panjang. 

Jadi, orang tua menindik telinga anaknya supaya telinga anaknya semakin panjang, karena telinga anaknya akan ditarik oleh anting-anting yang sudah dipakai.

Sampai saat ini kepercayaan dari peribahasa Thailand “Hu bao” dan kepercayaan dari orang tua “Telinga panjang, umur juga akan panjang” ini masih ada di Thailand, karena anak-anak masih bisa mendapat infomasi tentang kepercayaan tersebut saat belajar di sekolah.

"Namun budayanya sudah mulai hilang, kebanyakan anak-anak di Thailand sudah tidak bertindik sejak bayi dan tidak tahu tentang budaya tindik telinga untuk bayi," ungkapnya.

"Saya mengagumi orang Indonesia karena mereka masih mempertahankan budaya tindik telinga untuk bayi sampai saat ini," pungkas Nawang kemudian.

Pewarta : Imarotul Izzah
Editor : Heryanto
Publisher :
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->