Komunitas Dongeng Probolinggo Datangkan Pendongeng Nasional

Anak-anak yang tergabung dalam Komunitas, mengikuti acara yang digelarnya (Agus Salam/Jatim TIMES)
Anak-anak yang tergabung dalam Komunitas, mengikuti acara yang digelarnya (Agus Salam/Jatim TIMES)

BATUTIMES - Belum banyak yang tahu, kalau di Kota Probolinggo ada komunitas dongeng. Namanya kampung dongeng, yang digawangi Arizana Maharani (38). Komunitas yang berpusat di Jalan Ikan Tengiri, Kelurahan Mayangan, Kecamatan Mayangan tersebut sudah memiliki puluhan siswa.

Minggu (14/7) pagi Komunitas Dongeng Kota Probolinggo menggelar kegiatan di Ruang Terbuka Hijau (RTH) atau Taman Maramis. Puluhan siswa terlihat mengikuti acara atau kegiatan tersebut meliputi, senam, Fun Games, sulap. Kemudian kreativitas membuat sesuatu dari tanah liat dan barang bekas serta permainan tradisional. Selain itu juga belajar hidup mandiri yakni, berkemah  alias camping.

Sebagai penutup, peserta diwajibkan mendengarkan dongeng dari Kak Zaki, pendongeng Nasional. Arizani Maharani mengatakan, pihaknya sengaja mendatangkan Zaki untuk mendongeng kepada 50-an muridnya yang mengikuti acara tersebut. Tujuannya, agar anak didiknya mengetahui bagaimana cara mendongeng. “Kebetulan kak Zaki besok ada acara di sini. Ya kami minta untuk mendongeng ke anak-anak,” tandasnya.

Tak hanya muridnya, perempuan yang biasa disapa Arizani ini berharap, orang tua yang hadir mengantarkan anaknya, juga nimbrung atau mendengarkan. Tujuannya, agar para orang tua mengetahui cara dan teknik serta apa saja cerita yang akan didongengkan kepada anak-anaknya. “Itu harapan kami. Enggak hanya sekedar mendongeng,” tambahnya.

Tapi sekaligus mendidik karakter anak. Dijelaskan, membentuk karakter anak harus dimulai dari kecil dan teknik atau metodenya, tidak seperti cara konvensional yang dilakukan para orang tua dulu. “Mendidik anak tidak hanya menyuruh anak harus seperti ini dan seperti itu. Tapi dengan cara berdongeng. Itu lebih mengena dan bisa membentuk serta mengubah karakter,” ujarnya.

Perempuan yang biasa dipanggil Bunda Ari ini menyebut, kalau komunitas yang diketuainya dibentuk 2 tahun lalu. Tepatnya, 26 Maret 2017, lima tahun setelah dirinya tinggal di Kota Probolinggo. Sebelumnya, Arizani bersama keluarganya tinggal di Yogjakarta, kota kelahirannya. “Sudah 2 tahun. Pusatnya, di rumah kami, Kelurahan Mayangan.,” sebutnya.

Perempuan beranak tiga ini mengaku, sudah memiliki Taman Bacaan (Manca) dan gazebo yang didirikan di areal rumah tinggalnya. Sarana gedung tersebut sebagai formalitas saja, sedang kegiatannya banyak dilakukan di ruang terbuka. Baik berdongeng, membaca atau kegiatan lainnya (Pekan Ceria). Dua tempat yang sering digunakan yakni, alun-alun dan taman Maramis.

Arizani, yang berprofesi sebagai pengajar di TK ABA I berterus terang, anak-anak yang bergabung ke komunitasnya, tidak dipungut biaya. Kecuali kegiatan yang membutuhkan dana, seperti yang digelar pada Minggu (14/7) tersebut. Uang hasil urunan dari orang tua, untuk membeli sarana dan prasarana yang dibutuhkan di kegiatan itu dan biaya konsumsi. “Terus terang, acara ini setiap anak kami kenaka biaya  Rp30 ribu. Uangnya, untuk membiayai kegiatan ini,” katanya.

Menurutnya, komunitas yang dipimpinnya di bawah binaan Dinas Perpustakaan dan Arsip setempat. Terkadang, bahkan sering anak didiknya dibawa ke Taman Baca (Manca) milik Dinas Perputakaan di Jalan Slamet Riyadi. “Sementara ini, kami jarang ke sana. Soalnya perpustakaan yang di alun-alun direhab. Barang-barangnya dipindah ke Manca semua. Jadi sesak, enggak nyaman lagi,” imbuhnya.

Pewarta : Agus Salam
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->