Matahari di Atas Jawa Timur, Suhu Udara Siang Hari di Malang Terasa Nyelekit

Foto Ilustrasi
Foto Ilustrasi

BATUTIMES - Selama dua minggu terakhir, masyarakat banyak mengeluhkan cuaca di Kota Malang yang terasa lebih panas dari biasanya. Pasalnya, memasuki Oktober 2019 ini matahari akan melintas tepat di atas Jawa Timur. Alias berada tepat di atas kepala atau posisi terdekat dengan matahari. 

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Karangploso Malang memprediksi wilayah Jawa Timur akan mengalami hari tanpa bayangan atau kulminasi pada pertengahan Oktober 2019 ini. Kulminasi dua kali dalam satu tahun, yakni ketika matahari melintas garis katulistiwa dari belahan bumi utara ke belahan bumi selatan.

Staff Forecaster Sta.Klim BMKG Malang Selina Ayuningtyas mengungkapkan, masyarakat perlu waspada dengan kemungkinan peningkatan suhu udara. Suhu diperkirakan naik sekitar 0,5 hingga 1 derajat Celcius dibandingkan suhu normal musim kemarau.

Saat ini, lanjutnya, warga Malang sudah mulai merasakan cuaca khas pancaroba atau pergantian musim. Yakni sangat panas di siang hari dengan suhu sekitar 30 derajat Celcius. "Perubahan cuaca yang signifikan ini disebabkan karena matahari berada di belahan bumi utara sehingga udara menjadi lebih dingin selama September kemarin," terangnya. 

Sedangkan, masuk Oktober, cuaca menjadi panas karena posisi matahari berada di selatan dan letaknya lebih dekat dengan daerah Jawa Timur. "Penurunan dan peningkatan suhu udara di Malang ini dikatakan normal terjadi setiap tahun," tutur Selina. 

Selain itu, warga di wilayah Malang Raya pekan ini merasakan beberapa kali terjadi hujan lokal. Hujan dengan skala kecil, dalam waktu singkat dan area terbatas. Meski demikian,  memprediksi musim hujan baru akan datang pada November mendatang.

Selina mengungkapkan bahwa hujan lokal yang terjadi bukan merupakan tanda datangnya musim hujan. "BMKG memprediksi masa pancaroba kemungkinan akan terjadi pada bulan Oktober dan November 2019 masuk hujan," ujarnya.

Warga diimbau untuk waspada dengan potensi angin puting beliung, angin kencang dan gelombang laut yang tinggi di daerah pesisir. Selain itu juga diprediksi bahwa awal musim hujan akan terjadi sebagian besar di bulan November. Sementara untuk daerah pesisir Tapal Kuda dan Pulau Madura, hujan baru akan tiba pada Desember. 

Dibandingkan dengan rata-rata data 30 tahun (1981-2010), awal musim hujan diprakirakan umumnya mundur 1-2 dasarian. Sedangkan sifat musim hujan tergolong dominan dalam kisaran normal. "Puncak musim hujan diperkirakan dominan pada Januari 2020," terangnya. 

Kondisi awan cerah pada musim kemarau cenderung membuat suhu udara makin dingin. Sedangkan dengan adanya awan pada musim hujan maka suhu udara terasa lebih hangat . "Perubahan iklim ini sering terjadi di Malang, rutin setiap tahun," paparnya.

Seperti yang terjadi pada Agustus 1994 saat suhu minimum 11 derajat celsius sedangkan suhu maksimum tertinggi mencapai 33,8 derajat celcius pada Oktober 2002. Disertai dengan intensitas hujan 24 jam tertinggi di Malang selama periode 1990-2013 tercatat sekitar 180 MM pada Maret 1994. 

Kecepatan angin maksimum pada tahun 2013 terhitung sekitar 79.2 km/jam. Terjadinya musim kemarau yang telah berlangsung mulai Mei 2019 dan hingga kini di sebagian provinsi Jawa Timur berdampak terhadap berkurangnya pasokan air atau kekeringan dan kebakaran hutan lahan yang banyak terjadi di beberapa kota di Indonesia. 

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->