Penyakit Orang Indonesia Minder Disebabkan Penjajahan oleh Bangsanya Sendiri

Dimas Oky Nugroho saat mengisi Seminar Nasional Kepemudaan di UIN Malang. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Dimas Oky Nugroho saat mengisi Seminar Nasional Kepemudaan di UIN Malang. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

BATUTIMES - Permasalahan mendasar orang Indonesia adalah kurangnya rasa percaya diri. Pertanyaannya, mengapa sampai tidak percaya diri? Apakah lantaran lama dijajah oleh negara lain?

Aktivis, pemikir, dan pegiat kewirausahaan sosial yang memiliki berbagai kiprah, Dimas Oky Nugroho menyatakan, orang Indonesia tidak percaya diri lantaran dijajah oleh bangsanya sendiri.

Hal ini disampaikannya dalam Seminar Nasional Kepemudaan bertajuk "Pemuda Memandang Masa Depan Indonesia" di Aula Rektorat Lantai 5 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Sabtu (12/10/2019).

Penyebab orang Indonesia tidak percaya diri bukan karena dijajah terlalu lama oleh Belanda, Jepang, bukan. Yang menjajah kita adalah bangsa kita sendiri. Raja-raja kita, pemimpin-pemimpin kita, elit-elit kita yang memang ingin mengeksploitasi kita," ucap Staff Khusus Kepala Kantor Staff Kepresidenan RI 2017-2018 tersebut.

Lamanya Indonesia dieksploitasi, dijajah, dan sebagainya tersebut membuat orang Indonesia tidak punya kepercayaan diri.

"Kita selalu minder. Padahal pada dasarnya semua sama aja di mata Tuhan dan di mata hukum," tandas konsultan perdamaian di UNDP tersebut.

Nah, pendidikan lah yang kemudian membuat orang Indonesia percaya diri dan tentunya bermanfaat bagi manusia lain.

"Itulah esensi pendidikan. Membuat percaya diri dan bermanfaat bagi manusia lain. Mau itu alumni pesantren, alumni UI, alumni UIN, tapi Anda bisa memberikan value. Yang paling penting itu," ucap Pendiri Indonesian Young Leaders Exchange Program (IYLEP) itu.

Institusi pendidikan, katanya, hanyalah metode, hanya inovasi. Entah itu ada ijazahnya atau tidak, yang formal maupun nonformal.

"Tapi pada dasarnya hakikatnya membuat anak didik menjadi percaya diri, mandiri, dan bermanfaat bagi sesama. That's it!" lanjutnya.

Saran Oky kepada peserta seminar, mau berkarir apapun yang terpenting adalah harus bisa memiliki nilai tambah dan memberikan social impact. Salah satunya melalui entrepreneurship.

"Entrepreneurship itu penting. Mulailah starting up, berbisnis kecil-kecilan, tapi bermanfaat," imbuh Pendiri Perkumpulan Kader Bangsa Fellowship Program (KBFP) tersebut.

Nah, satu karakter yang harus dimiliki untuk menjalani itu semua kata Oky adalah kejujuran.

"Kejujuran nomor satu. Nanti Anda akan diganjar dengan kepercayaan," tukasnya.

Untuk diketahui, acara seminar nasional tersebut merupakan rangkaian acara Festival Bulan Pendidikan yang diadakan Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan Islam (HMJ MPI) Fakultas Tarbiyah UIN Malang.

Ihsan Zikri Ulfiandi, selaku ketua pelaksana menyatakan, besoknya (Minggu, 13/10/2019), terdapat berbagai macam lomba yang diikuti oleh siswa SMA sederajat seluruh Indonesia.

"Di antaranya lomba pidato, debat, LKTI, dan desain poster," ucapnya.

Soal pendidikan, UIN Malang sendiri telah melakukan berbagai inovasi. Bahkan Rektor UIN Malang, Prof Dr Abdul Haris MAg, pernah menerima penghargaan Santri of the Year Bidang Pendidikan karena kontribusi dan inovasinya selama fokus di dunia pendidikan.

Haris berperan aktif dalam berbagai bidang, khususnya pendidikan. Sebelum menjadi rektor, Haris sudah aktif mengasuh lembaga Ma’arif dan menjadi penggagas beberapa bidang usaha di bawah naungan lembaganya itu seperti Ma’ Chick.

Setelah terpilih menjadi rektor, Haris meneruskan program UIN Malang dan terus berinovasi meningkatkan program yang belum ada.

Program-program tersebut seperti UIN Berbagi yang menarget fakir miskin dan janda dhuafa, menggagas Majelis Zikr wa al Ta’lim, dan melalui el-Zawa memberikan pinjaman modal usaha bebas bunga kepada masyarakat. Ke depannya, akan ada juga Laboratorium Alquran sebagai wadah uji coba implementasi ajaran al Quran.

Segala inovasi di UIN Malang, kata Haris, merupakan cara agar UIN Malang sebagai penyedia jasa pendidikan semakin dekat dengan masyarakat.

"Karena pendidikan harus berubah seiring dengan perubahan pola pikir masyarakat sebagai pengguna jasa," ucapnya.

 

 

Pewarta : Imarotul Izzah
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->