Waspadai Inflasi Akhir Tahun, BI Malang Optimis Ada Angin Segar untuk Pengusaha

Kepala Perwakilan BI Malang Azka Subhan Aminurridho
Kepala Perwakilan BI Malang Azka Subhan Aminurridho

BATUTIMES - Tiga kali deflasi sepanjang tahun membuat konsumen di Kota Malang bernafas lega dengan turunnya harga-harga komoditas yang dibutuhkan. 

Namun bagi kalangan pengusaha, terlalu sering deflasi bisa bikin gigit jari. 

Terutama bagi produsen-produsen lokal yang merupakan warga Malang sendiri. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi Kota Malang berada pada kondisi yang aman hingga September 2019. 

Yakni inflasi kalender sebesar 1,46 persen atau lebih tinggi dari Jawa Timur yang sebesar 1,38 persen. 

Sedangkan inflasi Year on Year (yoy) Kota Malang sebesar 2,81 persen, dan jawa Timur sebesar 2,45 persen.

Bank Indonesia (BI) Malang menilai angka tersebut masih berada di range target inflasi tahunan, yakni sebesar 3,5 plus-minus 1 persen.

Meski harga sejumlah kebutuhan pokok mengalami kenaikan dan penurunan, namun Bank Indonesia menilai pertumbuhan ekonomi di Kota Malang menunjukkan tren pertumbuhan positif di tahun 2019. 

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang Azka Subhan Aminurridho mengatakan deflasi yang terjadi pada September merupakan siklus tahunan. 

"Berkaca pada tahun lalu, memasuki bulan September dan Oktober, kondisi deflasi atau inflasi ringan di bulan seperti ini memang wajar," ujar Azka. 

Meski demikian, BI mewaspadai potensi inflasi yang terjadi pada akhir tahun. Tepatnya mulai November hingga Desember mendatang.

Pasalnya, momen menjelang natal dan tahun baru, kenaikan harga sejumlah komoditi memicu terjadinya inflasi. 

"Inflasi di akhir tahun ini menjadi tantangan bagi tim pengendali inflasi daerah," tutur Azka.

Untuk itu, menjelang akhir tahun nanti BI akan berkoordinasi dengan tujuh pemerintah daerah yang berada di wilayah kerja BI Malang. 

Meliputi Malang Raya, Kota dan Kabupaten Pasuruan, serta Kabupaten Probolinggo. 

"Kami menyiapkan komoditas apa yang naik setiap nataru. Tapi kalau sekarang rasanya masih landai," ujarnya.

Azka juga menilai angka inflasi tahunan Kota Malang saat ini juga masih bagus. Sebab rentang inflasi yang terjaga berada di angka 2,5 hingga 4,5. 

"Menurut saya masih di range yang bagus. Kita masih di range bawah. Tahun depan targetnya turun 3,  jadi harus antara 2-4 persen," terangnya.

Inflasi yang diprediksi terjadi akhir  tahun, bisa disebut angin segar bagi kalangan pengusaha atau produsen. 

"Sebenarnya target kami 3,5 persen ini adalah angka yang bagus di produsen dan konsumen. Justru kalau inflasi 0 itu menunjukkan kalau pertumbuhan ekonomi tidak jalan," ungkap Azka.

Ia menambahkan, angka inflasi yang terjaga ini salah satunya disebabkan penanganan pasokan sejumlah komoditas yang dilakukan dengan cepat. 

Untuk komoditi cabai misalnya, meski sempat mengalami kelangkaan dan harganya meroket. 

Namun, Azka menilai Pemkot Malang tak butuh waktu lama untuk membuat harga kembali normal. 

"Cabai itu langka dan mahal karena musim dan pasokan kurang, tetapi berkat kerja sama antar daerah pasokan bisa terpenuhi. Ini termasuk cepat penanganannya. Harga bawang justru turun," pungkasnya. 

Sebelumnya, turunnya harga sejumlah kebutuhan pangan membuat perekonomian di wilayah Jawa Timur membaik. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, seluruh daerah di Jatim mengalami deflasi, termasuk Kota Malang. 

Pada September 2019, Kota Pendidikan mengalami deflasi sebesar -0.03 persen. 

Sementara angka deflasi Jawa Timur tercatat sebesar -0,07 persen. Ada sepuluh komoditas utama penyumbang deflasi pada September 2019, yakni penurunan harga daging ayam ras, tarif angkutan udara cabai rawit, bawang merah, telur ayam ras, bawang putih, cabai merah, ketimun, bahan bakar rumah tangga, dan udang basah.

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->