Ajak Akhiri Konflik Tulungagung Selatan, Kapolres Potong Tumpeng di TKP Penyerangan Banser

Kapolres, dandim, dan seluruh tokoh masyarakat silaturahmi di Desa Talun Kulon untuk akhiri konflik perguruan. / Foto : Dokpol / Tulungagung TIMES
Kapolres, dandim, dan seluruh tokoh masyarakat silaturahmi di Desa Talun Kulon untuk akhiri konflik perguruan. / Foto : Dokpol / Tulungagung TIMES

BATUTIMES - Penyelesaian kasus penyerangan terhadap Banser oleh sekelompok orang tak dikenal di Desa Talun Kulon, Kecamatan Bandung, Tulungagung, terus diupayakan.

Salah satunya, Kapolres Tulungagung AKBP Eva Guna Pandia terus merajut silaturahmi dengan semua komponen. Tujuannya agar kasus penyerangan yang sudah mengungkap pelaku tersebut bisa benar-benar tuntas sehingga tidak terjadi lagi di masa yang akan datang.

Setelah mengumpulkan para pendekar perguruan, Pandia juga melakukan silaturahmi dengan organisasi NU, Banser, dan Ansor dari Tulungagung, Blitar dan Trenggalek.

Bahkan, Sabtu (19/10) malam, kapolres kembali melakukan silaturahmi dengan warga di tempat terjadinya konflik, yaitu Desa Talun Kulon.

"Giat silaturrahmi dan potong tumpeng bersama warga Desa Talun Kulon dengan Ansor dan Banser. Temanya  Warga Desa Talun Kulon Bersaudara Cinta Ansor dan Banser," ujar kapolres, Minggu (20/10) pagi.

Dalam kegiatan itu, satu per satu tokoh yang hadir memberikan saran dan masukan untuk memberikan solusi agar masalah kesalahpahaman  dapat dihindari.

Mengawali  memberikan sambutan, Kepala Desa Talun Kulon Surayi menyampaikan maaf atas penyerangan yang terjadi di desanya. Menurut dia,  insiden itu tidak ada unsur kesengajaan karena di wilayah  Talun Kulon juga banyak anggota Ansor dan Banser.

Senada dengan Surayi, Ketua Ansor Kabupaten Tulungagung Rifai menyambut dan memahami keadaan yang terjadi. Dirinya meminta agar masyarakat meningkatkan persatuan dan kesatuan antara perguruan pencak silat wilayah Bandung.

Lantaran banyak tokoh yang hadir, suasana gayeng penuh kekeluargaan serta saling memberi pesan mengalir dengan akrab dan dapat diterima.

Dari legislatif, ada Ketua DPC PDIP  sekaligus anggota DPRD Susilowati. Kemudian ada Dandim Letkol Inf Wildan Bahtiar dan berbagai pihak yang bersama-sama berniat meredam situasi saat ini. 
"Kami mohon bantuan dan kerja samanya agar kami bisa menjalankan tugas dengan ikhlas dan baik. Saya sangat bangga Kabupaten Tulungagung merupakan kota persilatan karena di pertandingan atau event kejuaraan pencak silat baik di tingkat nasional maupun internasional dapat meraih juara serta prestasi," kata Pandia.

Kembali kapolres menegaskan, dengan banyaknya tugu persilatan, banyak terjadi permasalahan maupun sasaran oleh oknum perguruan silat sehingga mengakibatkan perselisihan. Hal-hal ini yang harus dihilangkan.

"Kita semua adalah saudara dan kita semua gampang dipecah belah karena keberagaman. Kurangnya pengawasan maupun pemantauan sehingga terjadi permasalahan. Maka itu, kita harus bijak dan saat ini banyak media sosial yang menghasut, berita hoax yang sering berkembang. Kita patut mencermati dan menyikapi dengan bijak," tandasnya.

Kapolres memastikan sudah memberikan instruksi kepada kapolsek untuk selalu berkoordinasi dengan kapolsek dan danramil dalam memecahkan masalah warga melalui musyawarah bersama.

"Ini untuk kebaikan kita semua dan kebaikan ekonomi masyarakat Tulungagung. Kami mohon kerja samanya, solid. Kita semua adalah keluarga. Setiap ada kegiatan, laporkan kepada kami. Kami akan melakukan pengamanan dan membantu lancarnya acara. Mari kita akhiri perselisihan ini dan menjadikan pencak silat sebagai wadah atlet yang berprestasi dan mari kita tingkatkan semboyan Polres Tulungagung Astuti (Agunge Sikap Tulung Tinulung)," ungkap Pandia.

Sementara itu, Dandim 0807 Tulungagung Letkol Inf Wildan Bahtiar berharap agar masyarakat meningkatkan pemahaman toleransi dan kembali berpegang teguh pada agama masing-masing.

"Apabila kita sudah mempedomani tindak tanduk kita dan ajaran kita, insya Allah kita akan hidup tenang dan tanpa ada masalah. Tulungagung adalah wilayah yang sangat nyaman untuk siapa pun, baik aparat maupun siapa saja yang ada di Tulungagung. Dasar negara kita dibangun dari awal perbedaan. Justru dari perbedaan itulah, kita diperintahkan untuk saling menghormati, menghargai dan tulus untuk menerima perbedaan menuju perdamaian," katanya.

Menurut dandim, mayoritas anggota perguruan silat adalah anak-anak muda. Namun, apapun yang mereka lakukan, harus ada langkah persuasif sehingga apa yang disampaikan dapat diikuti. 

 

Pewarta : Anang Basso
Editor : Yunan Helmy
Publisher :
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->