Sejarawan Sebut Tidak Benar Indonesia Dijajah Belanda 350 Tahun

Sejarawan J.J. Rizal (kenakan topi), sosiolog Universitas Brawijaya Malang Anton Novenanto (tengah) dan Lyla Nur Ratri (kanan) dalam diskusi buku Mitos dari Lebak di Caffe Pustaka, Senin (4/11/2019). (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Sejarawan J.J. Rizal (kenakan topi), sosiolog Universitas Brawijaya Malang Anton Novenanto (tengah) dan Lyla Nur Ratri (kanan) dalam diskusi buku Mitos dari Lebak di Caffe Pustaka, Senin (4/11/2019). (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

BATUTIMES - Selama ini, dalam berbagai buku pelajaran sejarah selalu disebutkan jika Indonesia dijajah selama 350 tahun oleh Belanda. Hal itu masih menjadi banyak perdebatan hingga hari ini. Sebagian besar sejarawan pun tak sepakat dengan durasi penjajahan yang berlangsung selama 3,5 abad tersebut.

Sejarawan J J  Rizal berpendapat, durasi panjang masa penjajahan Belanda di Indonesia itu sebuah kesalahan. Sebab, berbagai wilayah di Indonesia tentunya memiliki perjuangan besar untuk melawan kedatangan asing. Durasi kapan Belanda menjajah pun tidak dapat digeneralisasikan begitu saja.

"Kita anti-Nederlando sentris, tapi dalam buku ajar kita diajarkan Belanda menjajah Indonesia 350 tahun. Itu yang cetuskan pertama kali Soekarno. Itu Nederlando sentris. Padahal nggak selama itu kita dijajah Belanda," katanya saat menjadi pembicara dalam diskusi buku Mitos dari Lebak yang digelar di Cafe Pustaka Universitas Negeri Malang (UM), Senin (4/11/2019) malam.

Rizal menyebut, penjajahan Belanda di Indonesia memang memiliki banyak keburukan. Namun bukan berarti bangsa ini harus dicekoki dengan durasi penjajahan yang amat panjang itu. Sehingga, pemaknaan sejarah sebagai perubahan dan perkembangan pemikiran menjadi asing.

Penulisan narasi sejarah,  menurut Rizal, memang selalu mengalami perubahan dan tak lepas dari sebuah kepentingan. Seperti halnya yang terjadi pada penulisan sejarah sebelum dan pasca-revolusi. Di mana Nederlando sentris mengalami perubahan pasca-revolusi dan seolah menekankan jika Belanda sangat buruk.

"Seperti penamaan nama jalan, yang kemudian diubah dari nama orang Belanda jadi nama atau tokoh Indonesia. Saat itu Belanda seolah jahat semua," jelas dia.

Bukan hanya itu. Dalam kesempatan diskusi santai tersebut, Rizal juga menekankan pentingnya pemaknaan sejarah secara berimbang. Di mana peran serta masyarakat Indonesia harus diperhatikan sehingga tak hanya terpatok pada satu sisi saja. "Sejarah jangan hanya dilihat dalam gelondong Belanda tapi juga orang Indonesia," tambah pria kelahiran 1972 itu.

Sementara berkaitan dengan buku berjudul Mitos dari Lebak, Rizal menyampaikan buku tersebut merupakan sebuah kritik politik memori terhadap sejarah Indonesia yang selama ini seolah bergerak di tempat. Meski beberapa kali mengalami koreksi, narasi sejarah tak pernah berhasil dikoreksi secara benar.

"Karena dalam deskripsi sejarah, sejarah adalah kisah orang besar dan orang kecil nggak bisa mengubah sejarah. Wajar kalau Indonesia nggak berubah," ucap dia.

Sejak Orde Baru, lanjutnya, kritik terhadap negara yang menyatakan bahawa negara banyak melupakan rakyatnya semakin banyak. Kemudian secara tidak langsung memunculkan sejarah sebagai kisah orang besar dan bukan orang kecil. "Hal itu kemudian yang coba dikritik Sitor Situmorang," jelas dia.

Di sisi lain, sosiolog Universitas Brawijaya Malang Anton Novenanto yang turut hadir sebagai pemantik diskusi menilai jika penelitian sejarah di Indonesia saat ini terus mengalami perkembangan.  Itu karena terlihat adanya sebuah hasrat kebebasan untuk mencari jati diri. "Maka yang dilakukan adalah riset sejarah dan itu mengalami perkembangan," tambah dia.

Diskusi yang berlangsung sejak pukul 19.00 WIB itu dimoderatori oleh jurnalis muda MalangTIMES Lyla Nur Ratri. Sederet fakta baru dalam sejarah Indonesia pun disajikan dan membuat proses diskusi berlangsung ciamik. 

Pewarta : Pipit Anggraeni
Editor : Yunan Helmy
Publisher :
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->