KITAB INGATAN 79

Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

BATUTIMES - Yang Menua Itu Kita
*dd nana

(1)

Tuhan mencipta

dan kita merawatnya

sampai pada tepi

dimana ujung hujan tak lagi 

punya bunyi, tak lagi punya cerita

tentang kita yang perlahan menua

dengan uban di kepala dan ingatan berwarna sepia.

Hanya rindu, anak segala kebebasan yang nantinya

berbicara. Tanpa bunyi yang kita akrabi.

Serupa abadi, serupa cinta yang meremaja.

Yang menua itu kita, sayang.

(2)

Hidup itu serupa rokok klobot

dengan bungkus daun yang dikeringkan dan kasap

di jemari tangan. Melumat padatnya tembakau berwarna hitam

kecoklatan yang gemuk di antara jepitan jari.

Sebelum ujungnya dibakar, sebagian merapalkan doa-doa atau mantra. Lainnya lebih banyak memposisikannya sebagai canda.

"Hidup begitu keparat, untuk apa kita tangisi. Tertawalah."

"Hidup itu tepinya abu dan cahaya tak lagi ingin bersenggama dengannya."

Api pun menyala membakar ujung rokok klobot

Gemeretak kulit daun mengingatkanku atas demam masa remaja

saat kita menyatukan bibir dalam pagut yang ragu-ragu

hingga kulit tubuh kita gemeretak sebelum berserak.

Ingatan. 

Rokok klobot yang terbakar setengahnya

membuat tenggorokan dan dada menghangat

kata orang-orang, ada racun dalam setiap yang diisap

ada yang akan meminta bayaran  dari setiap yang dikerjakan

Hidup, katanya pula, tak ada yang gratisan. Camkan itu.

Tapi, segala yang dibakar dan menghangatkan dada adalah

obat bagi yang terluka. Serupa cinta yang terlalu penuh

di dalam dada dan meminta tungku pembakaran.

Serupa air mata yang dicipta terlalu purba dan dibawa dalam tarikan

nafas setiap manusia. Ada saatnya meminta untuk diluruhkan.

Ingatan demi ingatan 

berpacu dengan sisa rokok klobot yang hampir tuntas

dilumut bara api yang kesepian.

Ya, sayang, yang menua itu kita

yang serupa rokok klobot yang ditinggalkan apinya.

"Hidup itu tepinya abu."

(3)

Cinta mencari rindu

Rindu sembunyi pada ketiak orang-orang suci

Malam pun enggan untuk menggodanya.

"Mereka telah menua sebelum berdaging

Mereka yang mengasuh sunyi dan sembunyi 

dari gemeretak hangat syahwat."

Cinta putus asa mencari raga

dan akhirnya bertamu di rumahku dengan paras lesunya.

"Izinkan aku menghuni di rindumu, tuan. Aku janjikan kemuliaan yang akan membuatmu diperbincangkan sampai akhir zaman."

Aku terpana dan menerimanya

tapi, yang menua itu ternyata kita, sayang.

Cinta dan rindu akhirnya yang mengekal

sebelum segala cerita ditutup dengan lengking terompet

dari langit.
 

*hanya penikmat kopi lokal

 

Pewarta : Dede Nana
Editor : Nurlayla Ratri
Publisher :
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->