Mati Suri 27 Tahun, Buletin Kritikus PMII Rayon Al-Hikam Berhasil "Hidup" Kembali di Coffee Times

Diyaul Hakki atau Deky saat membuka isi dari buletin (Hendra Saputra)
Diyaul Hakki atau Deky saat membuka isi dari buletin (Hendra Saputra)

BATUTIMES - Coffee Times menjadi saksi kembali hidupnya Buletin Kritikus. Buletin buah karya para anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Al-Hikam itu, kembali menyapa pembaca setelah mati suri selama 27 tahun. 

Kembali terbitnya Buletin Kritikus ditandai dengan launching yang digelar Sabtu (9/11/2019) malam. Berlangsung di Terminal Kopi Malang, Pasar Terpadu Dinoyo tepatnya di Coffee Times, acara tersebut juga sekaligus rangkaian peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2019. Launching tulisan yang masuk dalam buletin itu, disertai dengan Diskusi Publik Advokasi dan Pergerakan.

Buletin Kritikus era milenial sendiri, telah terbit mulai 1 November 2019 lalu. Sebagai informasi, buletin tersebut pertama kali dibuat sekitar tahun 1992 silam, atau 27 tahun yang lalu. Kritikus dirancang sebagai buletin yang khusus memuat tulisan dari anggota PMII Rayon Al-Hikam. 

CEO Biro Pergerakan PMII Rayon Al Hikam dan Pimred Buletin Kritikus, Diyaul Hakki atau yang akrab disapa Deky mengaku bersyukur karena telah bisa melaunching buletin yang sejak lama sudah diprogramkan. Sayangnya, rencana tersebut tak kunjung terealisasi.

"Dulu sebenarnya ada program kerja untuk buletin itu, tetapi tidak pernah terealisasikan karena tidak ada sumber daya yang paham tentang pimpinan redaksi, layout, editing dan seterusnya tidak paham. Sehingga dalam periode kali ini saya berusaha dari birokrasi gerakan berusaha untuk mewujudkan cita-cita itu, dan Alhamdulillah pada tanggal 1 November kemarin sudah diterbitkan dan bisa launching," ungkap Deky kepada MalangTIMES.

Buletin yang memuat tulisan-tulisan para anggota PMII itu dimanfaatkan untuk melatih kemampuan menulis para anggota. Selain itu, agar sebagai organisasi pergerakan bisa "bersuara" dengan cara membuat sebuah tulisan tentang isu nasional ataupun lokal.

"Sebenarnya saya sebagai promotor pertama, dan harapan saya untuk kader-kader raniolika khususnya dan untuk masyarakat Indonesia agar diperkaya di dalam literasi. Kemudian di salurkan melalui tulisan-tulisan baik itu di media-media, koran, media online, cetak dan seterusnya, agar kita itu menjadi abadi," katanya.

"Untuk buletin ini akan terbit 1 bulan sekali selama 1 periode ini. Ini dimasukkan didalam program biro pergerakkan. Nah untuk penentuan tema itu belum kami tentukan, artinya teman-teman kami berikan kebebasan untuk menulis apa saja," imbuhnya.

Sementara itu, membahas masalah diskusi publik tentang advokasi dan pergerakan, Deky mengaku bahwa hal ini harus dilakukan karena sebagai organisasi pergerakan harus mampu berbicara ketika otoritas tidak sesuai dengan masyarakat pada umumnya.

"Diskusi itu membahas advokasi dan pergerakkan, kita kan sebenarnya sebagai mahasiswa itu harus kaya akan pergerakkan, idealisme. Kalau tidak ada pergerakkan sama sekali itu nihil. Jadi antara akademis dan pergerakannya harus seimbang dan advokasinya juga harus begitu, artinya membela rakyat-rakyat yang marjinal itu," paparnya.

"Alhamdulillah juga dari yang datang banyak yang antusias, karena tadi banyak pertanyaan-pertanyaan tetapi waktunya terbatas. Harapannya, kita membentuk kader yang militansi, membentuk kader yang membela terhadap rakyat yang termajinalkan," pungkasnya. 

Pewarta : Hendra Saputra
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->