Viral, MUI Jatim Sebut Bid'ah Ucapkan Salam Berbagai Agama, Warganet Pecah

Tangkapan layar akun warganet terkait pro kontra imbauan MUI Jatim (Twitter)
Tangkapan layar akun warganet terkait pro kontra imbauan MUI Jatim (Twitter)

BATUTIMES - Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur (Jatim) menyerukan kepada umat Islam khususnya para pemangku kebijakan agar tak melanjutkan salam pembuka di berbagai acara dengan menyebut seluruh salam dari berbagai agama.

Penyampaian salam oleh para pemangku kebijakan, biasanya disebutkan satu persatu. Dari salam Islam, Kristen, Budha, maupun Hindu.
Hal ini yang menjadi sorotan MUI Jatim. Dimana melalui KH Abdusshomad Buchori Ketua MUI Jatim, dinyatakan agar salam pembuka dilakukan sesuai dengan ajaran agama masing-masing. Atau tidak dicampur dan dilanjutkan dengan salam agama lainnya. 

"Untuk umat Islam cukup ucapkan kalimat Assalaamu’alaikum Wr Wb. Agar terhindar dari perbuatan syubhat yang dapat merusak kemurnian agama yang dianutnya," ucapnya.

Buchori melanjutkan, "Mengucapkan salam pembuka dari semua agama adalah perbuatan baru yang merupakan bid’ah yang tidak pernah ada di masa yang lalu, minimal mengandung nilai syubhat yang patut dihindari," tegasnya.

Imbauan itu pun mendapat reaksi ramai dari warganet. Dimana, berbagai komentar meramaikan dunia maya terkait point ke-7 dan 8 dalam imbauan MUI Jatim. Tentunya reaksi warganet pun terpecah menjadi dua dalam menyikapi hal itu.

DukeCondet, misalnya, salah satu wargenet yang mendukung imbauan MUI Jatim. "Aqidah ga boleh diusik, karena Hukum Syariat itu udeh baku bersumber pada Qur'an dan Sunnah. Kalo mau salam netral, ye pilih aje yg netral. Gosah campur2 ajaran agama macem2. Kalo masih ngeyel juga, mending murtad aje sekalian. Daripade jadi orang munafik. Allah kagak rugi," cuitnya menyikapi hal itu.

Imbauan dan pernyataan warganet yang mendukung itu, mendapat pernyataan berbeda.  Akun @HensuAja menyatakan, "Sebagai orang muslim rasanya kok lama-lama aku disuruh hidup di planet lain ya. Sahabat dan kerabatku tidak semuanya muslim dan kami nyaman bergaul saling membantu, saling mengerti satu sama lain. Lha kok ini MUI bikin yg muslim jadi serba salah di lingkungan pergaulan. Suek...," cuitnya kesal, Minggu (10/11/2019).

@maskisun pun menyoroti imbauan MUI Jatim dengan lagi ramainya pemerintah menghadang paham radikalisme saat ini. "Pa kabar pemerintah yang mau memerangi radikalisme..? Kalo niat, coba mulai dari hal2 seperti ini dulu. Mungkin ini bukan masuk katagori radikal, tapi yg seperti ini bisa bisa jadi tembok pemisah antar umat di nusantara ini," cuitnya.

Pro dan kontra memang kerap membayangi berbagai imbauan atau fatwa MUI selama ini. Dimana masyarakat kerap terpecah dalam menyikapi persoalan yang ditelaah dan menghasilkan fatwa atau imbauan dari MUI.

Lantas seperti apakah lengkapnya imbauan MUI Jatim terkait pengucapan salam bagi umat Islam yang termaktub dalam surat bernomor 110/MUI/JTM/2019. Berikut imbauan lengkap MUI Jatim yang diteken secara langsung oleh sang ketuanya, Buchori.

1. Bahwa agama adalah sistem keyakinan yang didalamnya mengandung ajaran yang berkaitan dengan masalah akidah dan sistem peribadatan yang bersifat eksklusif bagi pemeluknya, sehingga meniscayakan adanya perbedaan-perbedaan antara agama satu dengan agama yang lain.

2. Dalam kehidupan bersama di suatu masyarakat majemuk, lebih-lebih Indonesia yang mempunyai semboyan Bhinneka tunggal ika, adanya perbedaan-perbedaan menuntut adanya toleransi dalam menyikapi perbedaan.

3. Dalam mengimplementasikan toleransi antar umat beragama, perlu ada kriteria dan batasannya agar tidak merusak kemurnian ajaran agama. Prinsip tolerasi pada dasarnya bukan menggabungkan, menyeragamkan atau menyamakan yang berbeda, tetapi toleransi adalah kesiapan menerima adanya perbedaan dengan cara bersedia untuk hidup bersama di masyarakat dengan prinsip menghormati masing-masing pihak yang berbeda.

4. Islam pada dasarnya sangat menjunjung tinggi prinsip toleransi, yang antara lain diwujudkan dalam ajaran tidak ada paksaan dalam agama (QS. al-Baqarah [2]: 256); prinsip tidak mencampur aduk ajaran agama dalam konsep “Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku sendiri”. (QS. al-Kafirun [109]: 6), prinsip kebolehan berinteraksi dan berbuat baik dalam lingkup muamalah (QS. al-Mumtahanah [60]: 8), dan prinsip berlaku adil kepada siapapun (QS. al-Ma’idah [8]: 8)

5. Jika dicermati, salam adalah ungkapan do’a yang merujuk pada keyakinan dari agama tertentu. Sebagai contoh, salam umat Islam, “Assalaamu’alaikum” yang artinya “semoga Allah mencurahkan keselamatan kepada kalian”. Ungkapan ini adalah doa yang ditujukan kepada Allah Swt, Tuhan yang Maha Esa, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Salam umat Budha, “Namo buddaya”, artinya terpujilah Sang Budha satu ungkapan yang tidak terpisahkan dengan keyakinan umat Budha tentang Sidarta Gautama. Ungkapan pembuka dari agama Hindu, “Om swasti astu”. Om, adalah panggilan umat Hindu khususnya di Bali kepada Tuhan yang mereka yakini yaitu “Sang Yang Widhi”. “Om”, seruan ini untuk memanjatkan doa atau puja dan puji pada Tuhan yang tidak lain dalam keyakinan Hindu adalah Sang Yang Widhi tersebut. Lalu kata swasti, dari kata su yang artinya baik, dan asti artinya bahagia. Sedangkan Astu artinya semoga. Dengan demikian ungkapan Om swasti astu kurang lebih artinya, “Semoga Sang Yang Widhi mencurahkan kebaikan dan kebahagiaan”.

6. Bahwa doa’ adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ibadah. Bahkan di dalam Islam do’a adalah inti dari ibadah. Pengucapan salam pembuka menurut Islam bukan sekedar basa basi tetapi do’a.

7. Mengucapkan salam pembuka dari semua agama yang dilakukan oleh umat Islam adalah perbuatan baru yang merupakan bid’ah yang tidak pernah ada di masa yang lalu, minimal mengandung nilai syubhat yang patut dihindari.

8. Dewan Pimpinan MUI Provinsi Jawa Timur menyerukan kepada umat Islam khususnya dan kepada pemangku kebijakan agar dalam persoalan salam pembuka dilakukan sesuai dengan ajaran agama masing-masing. Untuk umat Islam cukup mengucapkan kalimat, “Assalaamu’alaikum. Wr. Wb.” Dengan demikian bagi umat Islam akan dapat terhindar dari perbuatan syubhat yang dapat merusak kemurnian dari agama yang dianutnya. 

Delapan point imbauan MUI Jatim inilah yang kini ramai diperbincangkan warganet. Selain yang pro dan kontra, warganet lainnya yang sudah merasa capek dengan berbagai polemik, menyampaikan nada pesimisnya. "Bodo Amat !" cuit @ndaherdi.

@BJ__ROBIN bahkan mengatakan, "Negara Lain sudah PUNYA teknologi jaringan 5G - 6G, sudah Mikir Tamasya Ke Bulan dan Mars.. Assalamualaikum, Salam Sejahtera, Nahmo Budaya  Salam Kebajikan... Oh Indonesia Ku, SUNGGUH MALANG ISI KEPALA MU-I," tulisnya.
 

 

Pewarta : Dede Nana
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->