Dokter Hardi Diduga Berpura-pura Sakit Supaya Tak Dieksekusi

Terpidana dr Hardi Soetanto.
Terpidana dr Hardi Soetanto.

MALANGTIMES - Terpidana dr Hardi Soetanto, diduga hanya berpura-pura sakit untuk menghindari eksekusi oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Malang. Dugaan itu dikuatkan dengan kondisi Hardi saat berada di dalam Lapas Lowokwaru, yang kondisinya sudah bisa berjalan layaknya orang tidak sakit.

Sebelumnya, saat akan dieksekuai, usai mengikuti sidang Peninjauan Kembali (PK) di Pengadilan Negeri (PN) Kota Malang, Rabu (7/10/2015) siang, kondisi Hardi dalam kondisi diinfus dan menggunakan kursi roda.

Menurut sumber TIMES INDONESIA di LP Lowokwaru dan Mapolresta Malang, yang banyak tahu soal Hardi selama bergelut menangani kasus Hardi dengan mantan istrinya Valentine, ia berusaha mengelabuhi jaksa eksekutor dari Kejari Kota Malang.

Menurut pengakuan sumber dari LP Lowokwaru, sejak masuk LP Lowokwaru, kondisi Hardi hidup normal di dalam LP. "Dia nggak sakit. Dia biasa saja di dalam sel," terang sumber itu, Kamis (8/10/2015).

Petugas jaga yang minta dirahasiakan namanya mengatakan, bahwa infus yang terpasang di tangan Hardi, sudah tidak ada. "Sudah tidak pakai infus," katanya.

"Dia hanya pura-pura saja ketika hendak dieksekusi, mengaku sakit dan diinfus. Ketika diperiksa dokter, infus itu hanya berisi vitamin," jelas sumber itu.

Sementara itu, menurut keterangan Kasi Pidum Kejari Kota Malang, Mohammad Iryan, ia juga menduga terpidana kasus menyuruh memberikan keterangan palsu ke dalam data autentik itu hanya berpura-pura sakit.

"Foto dia bisa berdiri di dalam LP Lowokwaru. Hal itu menunjukkan bahwa dia sebenarnya sehat dan bisa menjalani eksekusi," tegasnya.

Hal yang sama juga diakui oleh salah satu penyidik saat kasus Hardi masih ditangani Mapolresta Malang. Hardi memang suka melakukan aksi tipu-tipu. Mantan bos PT Hardlent Medika Husada (HMH), perusahaan jasa layanan kesehatan itu, sudah terlihat sejak dalam tahanan Polresta Malang.

"Hal ini terjadi juga ketika yang bersangkutan memohon penangguhan penahanan kepada penyidik di Polresta Malang," ujar seorang penyidik Satreskrim Polresta Malang.

Saat itu, Hardi beralasan akan operasi cabut pen yang dipasang pasca kecelakaan. Namun, faktanya sampai sekarang tidak pernah dicabut pen tersebut. "Itu aksi tipu-tipu dia saja," katanya. (*)

Pewarta : Ferry Agusta Satrio
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Rochmat Shobirin
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->