Lembab dan Mendung, Kubis Diserang Jamur Upas

MERUGIKAN: Lahan tanaman kubis milik petani di Songgokerto yang sebagian terserang jamur upas. (Foto: Nurliana Ulfa/BatuTIMES)
MERUGIKAN: Lahan tanaman kubis milik petani di Songgokerto yang sebagian terserang jamur upas. (Foto: Nurliana Ulfa/BatuTIMES)

BATUTIMES– Kelembaban udara di Kota Batu yang tinggi serta minimnya sinar matahari membuat beberapa komoditas pertanian rusak.  Salah satunya adalah kubis.

Sayur berwarna putih kehijauan ini tidak tahan terhadap penyakit yang menyerang di saat musim hujan.

Banari, seorang petani sayur kubis dari Kelurahan Songgokerto Kota Batu mengaku hasil panen kali ini berkurang karena kubis terserang jamur upas.

Jamur upas tersebut membuat kubis kekuningan dan berlubang. Sehingga, agar kubisnya layak jual, Banari harus mengupas kulit terluar kubis sampai tiga lapis.

Di lapis ketiga tersebut barulah kubis pria berusia 51 tahun ini terlihat bersih tanpa lubang. Namun tidak sedikit pula kubis yang busuk hingga ke lapisan dalam sehingga tidak layak jual.

Banari hanya bisa memanen sebanyak 17 ton kubis. “Panen sebelumnya bisa mencapai 20 ton, sekarang menyusut tiga ton,” ungkap Banari. Padahal upaya memberikan pestisida sudah diterapkan olehnya secara rutin.

Hasil panen kubis ini dijual kepada tengkulak untuk kemudian dipasarkan di Pasar Batu dan Pasar Karangploso. Saat ini, kubis yang dijual Banari kepada tengkulak dibanderol dengan harga Rp 1.500 per kilogramnya.(*)

Pewarta : Nurliana Ulfa
Editor : Yosi Arbianto
Publisher : Muhammad Alwan
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->