Situs Petirtan Dusun Nanasan Diperkirakan dari Abad 10

Bagian dari jaladwara atau pancuran dari 12 pancuran yang baru teridentifikasi. Setiap pancuran disangga oleh arca ghana atau prajurit dari Ganesha, Rabu (26/04) (Foto: Nana/ MalangTIMES)
Bagian dari jaladwara atau pancuran dari 12 pancuran yang baru teridentifikasi. Setiap pancuran disangga oleh arca ghana atau prajurit dari Ganesha, Rabu (26/04) (Foto: Nana/ MalangTIMES)

MALANG-Situs petirtan di Dusun Nanasan Desa Ngawonggo Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang adalah peninggalan sejarah berharga. Para peneliti benda purbakala dan akademisi menilai banyak cerita di situs petirtan yang diduga berasal dari abad ke-10 Masehi ini.

Petirtan di Dusun Nanasan Desa Ngawonggo Kecamatan Tajinan ini menarik perhatian peneliti setelah sempat diposting di medsos, sepekan terakhir.

”Keberadaannya di Desa Ngawonggo atau dalam bahasa lain Kaswangga (Negeri Adipati Karna dalam pewayangan) memang tercatat dalam prastasi bertarikh 944 M," ungkap Dwi Cahyono, sejarahwan dari Universitas Negeri Malang, Rabu (26/04).

Dwi menilai, desa ini bagian dari panca kahyangan (bangunan candi dan tempat sakral) di bagian timur Kanjuruhan. Wilayah Kanjuruhan adalah kekuasaan Rakryan Kanuruhan yang terbentang antara Sungai Brantas dan Sungai Metro.

"Tetapi penjelasan pastinya situs ini, nanti setelah ada penelitian khusus. Ini hanya praduga sementara," ujarnya.

Survei dan identifikasi yang dilakukan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jatim dan para peneliti sejarah mengungkap bangunan petirtan ini sangat langka.

Sebab lengkap dengan berbagai ornamen yang artistik serta dari sisi fungsional sangatlah diperhitungkan secara detail.

Bahkan Dwi menilai petirtan ini merupakan satu-satunya yang ditemukan di bekas wilayah Kerajaan Kanjuruhan. "Langka dan mungkin hanya sedikit petirtan dengan konsep seperti ini yang ada di Jatim," ungkapnya.

Dalam dua hari identifikasi situs serta pembersihan areal situs dari rerumputan dan ilalang, telah terlihat tiga petirtan.

Satu sebelah timur, satu di arah barat dan satunya ditengahnya. Jaladwara atau pancuran yang terlihat mencapai 12 buah yang disangga oleh 12 arca ghana.

"Saluran pembuangan air petirtan ini letaknya di tengah dan sisi barat serta timur dikasih serupa dam kalau teknologi kini," terang Dwi.

Alumnus magister Arkeologi  Universitas Indonesia ini memprediksi kemungkinan besar pancuran dan arca lainnya banyak ditemukan nantinya.

Bentuk bangunan persegi empat serupa kolam. Bentuknya menyesuaikan kontur tebing Sungai Manten dan setiap dindingnya dipenuhi relief kuno.

"Jadi bentuknya tidak persegi panjang, tapi ikuti kontur batu. Reliefnya juga kuno dan asli dengan batu cadas yang keras," kata Andi MS, Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Jatim.

Petirtan ini diduga sebagai tempat suci pada zamannya. Yaitu diperkirakan pada awal Kerajaan Majapahit. Hal ini terlihat dari berbagai relief yang ada di sekitar petirtan yang berupa pahatan sakral serta adanya arca Ganesha.

"Diduga juga sebagai tempat suci, karena Sungai Manten sebagai sumber air petirtan juga merupakan sungai kuno," ucap Dwi.

Kemungkinan besar, lanjut Dwi, dulu di area sekitar situs merupakan pemukiman yang cukup ramai. (*)

Pewarta : Nana
Editor : Yosi Arbianto
Publisher : Yosi Arbianto
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com