Simbol Perekat Warga, Ketupat Dimakan Bersama di Masjid

Ketupat dan opor dibawa warga Desa Sembayat Manyar Gresik ke masjid untuk dimakan bersama. (Foto: Muklas/BatuTIMES)
Ketupat dan opor dibawa warga Desa Sembayat Manyar Gresik ke masjid untuk dimakan bersama. (Foto: Muklas/BatuTIMES)

GRESIK - Ketupatan sudah menjadi tradisi Indonesia. Tiap-tiap daerah punya keunikan tersendiri. Salah satunya di Desa Sembayat Manyar Gresik. Di desa tepi pantai utara Jawa ini, masyarakat setempat membuat ketupat dan membawa ke masjid untuk didoakan pemuka agama atau mudin. Upaya tersebut dipercaya bisa membawa berkah.

Setelah doa, kemudian ketupat dimakan bersama-sama.Ini menandakan puji syukur kepada Sang Pencipta. Warga telah melaksanakan ibadah puasa secara taat dan penuh kedamaian serta kerukunan.

Tasyakuran memakan ketupat biasanya dilakukan pada hari ketujuh. Sebab sejak tanggal dua Syawal, biasanya warga sekitar melaksanakan puasa Syawal.

Sehingga para sesepuh dan generasi muda menyiapkan ketupat dihari ketujuh untuk dibawa ke masjid atau musala. Namun, di tempat lain ada yang langsung diantar ketiap-tiap rumah.

Ustad M Yazid, tokoh masyarakat Desa Sembayat mengisahkan, ketupat sudah menjadi warisan leluhur sejak lama di desanya.

Menurutnya tradisi itu muncul saat para wali (walisongo) mengenalkan dan mengajak warga untuk kumpul. Saat kumpul itu diisi tentang keagamaan.

"Ketupat tradisi positif saat walisongo mengajak kebaikan. Terjadilah asimilasi dua budaya di Indonesia yang patut dilestarikan agar generasi kenal dan tahu," kata M Yazid kepada BatuTIMES saat acara tasyakuran makan ketupat pada Minggu (02/07/2017).

Ketupat dibuat dari bers yang dibungkus janur (daun kelapa muda). Ini sebagai perekat dan pemersatu warga yang datang dari luar desa dan luar kota untuk berlebaran di kampung.

Konon pemerkasa ketupat adalah Sunan Kalijaga. Ia mengenalkan pada masyarakat luas tentang tata cara membuat ketupat dari bahan janur. Lebaran ketupat menjadi simbol Islam telah mengakar dan membumi di tanah Jawa. (*)

Pewarta : Muklas
Editor : Yosi Arbianto
Publisher : Yosi Arbianto

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com