Kenang Almarhum Istri, Budiamin Pamerkan Persembahan untuk Ndoek

Salah satu lukisan wajah Budiamin yang menggunakan teknik dipping (menciprat). (Foto: Muklas/BatuTIMES)
Salah satu lukisan wajah Budiamin yang menggunakan teknik dipping (menciprat). (Foto: Muklas/BatuTIMES)

KOTA BATU - Pameran seni rupa tersebut bertajuk Persembahan untuk Ndoek digelar di Galeri Raos Kota Batu, 7-12 Juli 2017. Ada kurang lebih 36 lukisan yang dipamerkan dalam pameran tunggal karya Budiamin ini.

Sang pelukis menggangkat tema Persembahan untuk Ndoek tersebut bukan tanpa alasan. Ia ingin mengungkapkan isi hatinya kepada sang istri tercinta. Bahwa ia benar-benar mencintai belahan jiwanya itu.

Orag terkasih itu telah tiada. Saat itu tugas di luar kota membuat Budiamin tidak bisa menemani sang kekasih saat detik-detik menghadap sang Maha Pencipta.

"Nama Ndoek, saya pakai untuk memangil istri saya, almarhumah Andri Minarni pada 2016 lalu," kata Budiamin kepada BatuTIMES sambil mempertontonkan hasil karyanya.

Sesuai temanya, mayoritas lukisan adalah ekspresi wajah istrinya, ia sendiri dan empat anaknya.

Amin,panggilan akrabnya, menyatakan pameran solo ini sangat berkesan dan punya makna mendalam bagi dirinya.

Sebab, selama tiga bulan ia mampu menyelesaikan karya dengan apik untuk memberikan kado istimewa kepada sang istri.

Sebelum istrinya meninggal, istrinya minta dilukis di atas kanvas. Padahal, lanjut pria yang mengambil S1 Jurusan Pendidikan Matematika di Universitas Bondowoso ini, semasa hidup Minarni belum pernah minta dilukis.

Untuk menghilangkan rasa rindu dan gundah setelah ditinggal istrinya, Amin pun menuangkan tarian kuasnya di atas kanvas.

Upaya tersebut agar ia bisa bangkit, mengasuh serta merawat empat anak-anaknya agar tumbuh baik. Serta bisa bersekolah dengan normal.

"Sempat linglung dua bulan karena ditinggal mendadak. Namun, saya harus bangkit dari keterpurukan. Ini demi cinta. Dibalik kesedihan pasti ada harapan," kata pria yang lahir di Bondowoso pada 1978 ini.

Amin menambahkan, soal hasil karyanya ada hal baru. Yaitu menggunakan teknik dipping (teknik menciprat). Hal itu berbeda dengan para seniman di Kota Apel yang biasanya punya basik realis.

"Teknik dipping tidak mudah. Sebab rentan salah. Bisa-bisa ndak jadi lukisan. Ini nuansa baru," tegas tamatan S2 jurusan Teknologi Pendidikan Minor Matematika di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya ini.

Karya-karya yang dihasilkan itu selain dipamerkan juga dijual. Harganya ada yang mencapai Rp 15 juta. (*)

Pewarta : Muklas
Editor : Yosi Arbianto
Publisher : Yosi Arbianto
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com