Ikwan Budi Laksono, Wasit Futsal Kelas Internasional dari Kota Batu

Ikwan Budi Laksono (dua dari kanan) saat menjadi wasit pertandingan Asean Football Federasion (AFF) Thailand 2017. (Foto: Ikwan for BatuTIMES)
Ikwan Budi Laksono (dua dari kanan) saat menjadi wasit pertandingan Asean Football Federasion (AFF) Thailand 2017. (Foto: Ikwan for BatuTIMES)

KOTA BATU - Kota Batu punya wasit futsal berkaliber internasional. Namanya Ikwan Budi Laksono. Ia menjadi wasit dari Kota Batu satu-satunya yang menjadi hakim dalam pertandingan Asean Football Federasion (AFF) Thailand 2017.

"Barusan pulang bertugas jadi wasit AFF di Thailand. Acaranya mulai tanggal 29 Juni sampai 11 Juli 2017," kata Ikwan Budi Laksono kepada BatuTIMES.

Ikwan, panggilan akrabnya,  mengisahkan awal mula menjadi wasit tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebab banyak proses yang harus dilewati. Seleksinya pun ketat. Yang paling penting adalah menjunjung sportivitas.

Apalagi bagi wasit internasional, menjaga sportivitas sangat penting. Wasit intenasional akan selalu membawa nama baik negara dan budaya yang positif di tingkat internasional. Bila wasit bagus, biasanya bisa memproduksi pemain bagus di negara di mana wasit berasal.

Pria kelahiran Kaliputih Kelurahan Sisir Kota Batu ini harus menjalani tes fisik saat AFF berlangsung di negara gajah putih tersebut.

Kemudian memahami aturan-aturan permainan melalui video tes. Ada kurang lebih 20 pertanyaan yang harus dijawab.

Pertanyaan itu mirip studi kasus. Ia melihat filem kejadian atau kasus apakah ada pemain yang melanggar di lapangan.

Lalu sepatutnya memberikan sanksi apa yang tepat serta kapan melayangkan kartu merah-kuning kepada pemain.

"Tentu memahami bahasa Inggris adalah hal utama. Karena sebagai alat komunikasi internasional," kata anak pasangan dari Budianto - Nanik Sujiani ini.

Ketika memimpin pertandingan di negeri seribu pagoda itu, pria yang kini tinggal di Jalan Sarimun Dusun Krajan Desa Beji ini harus berperforma baik dan menjaga sikap.

Ia harus berpenampilan sopan dan menghargai para pemain. Upaya tersebut untuk menjaga wibawa wasit ketika di tengah lapangan.

"Begitu juga saat memberikan sanksi tidak boleh membentak. Sepatutnya wasit juga tidak harus menghukum. Trik saya, memberikan senyum kepada pemain dan menjaga komunikasi yang bagus. Sebab secara psikologis bisa mempengaruhi pemain. Tentu kami ingin menjalin kekeluargaan meskipun di lapangan. Dan bagi pemain, boleh bertanya tapi tidak boleh protes," terang lulusan SD Sisir ini.

Tamatan SMPN 2 Kota Batu ini menerangkan, mengaku ia terjun di dunia wasit dimulai dari sepak bola.

Yaitu sewaktu Ikwan masih duduk di bangku TK PGRI 1 Sisir. Mayoritas anak-anak seusianya sering bermain bola.

Selain itu di kampungnya dikenal sebagai kampung sepak bola. Hal itu, membuat jiwanya menggeluti dan bercita-cita jadi pemain sepak bola yang mahir.

Namun, Tuhan berkehendak lain. Sebab pada beberapa hari sebelum klub Persikoba Kota Batu merekrut anggota anyar, pria tamatan SMA Hasyim Asy'ari ini mengalami kecelakaan lalu lintas di wilayah Kasembon Kabupaten Malang.

Saat itu, ia hendak menuju ke Kediri. Di tengah perjalanan ada kendaraan roda empat berlawanan arah menyalip dan menabrak kendaraan roda dua miliknya. Sehingga mengakibatkan kakinya mengalami cidera.

Dari kejadian itu, bapak dua anak ini memutuskan menjadi wasit saja daripada menjadi pemain sepak bola.

Di saat bersamaan, pelatih Persikoba bernama Puji Purnawan (almarhum) dan Muhajir membuka kesempatan untuk belajar menjadi wasit. Ia pun ikut serta.

 

Di tangan dingin para pendidik itu dan Firdaus (wasit senior ) alumnus IKIP Budi Utomo ini digembleng dengan disiplin tinggi dan profesional.

Mulai dilatih lari, memahami peraturan permainan, pergerakan wasit dan bagaimana cara meniup peluit yang baik dan benar.

Di hari-hari yang dilaluinya, beberapa kali pihak Persikoba, KONI dan pemerintah Kota Batu mengirimnya untuk kursus jadi wasit. Misalnya kursus lisensi C3 (level dasar setingkat Kota/Kabupaten) di Sidoarjo, C2 (tingkat provinsi) dan C1 (nasional).

Dari semua usaha itu, dorongan dan didikan orang tua ia anggap sangat penting. Orang tuanya mendorong agar menjadi orang jujur, disiplin dan berguna bagi orang lain serta menghargai waktu. Hal itu terpatri dalam dirinya dan diterapkan  di lapangan. Akhirnya, didikan tersebut membuahkan hasil.

"Apalagi kalau jadi wasit harus on-time. Paling jelek, minimal 30 menit sebelum berlaga sudah ada di lapangan," ujar suami dari Innama Ulfiah ini.

Ikwan tidak mau dianggap menjadi wasit setengah-setengah. Acapkali ada momen jadi wasit dia manfaatkan untuk tetap belajar dan membiasakan tubuh tetap fit.

Upaya tersebut agar saat berlaga tidak membuat kecewa dan mencoreng nama Indonesia di kancah internasional.

Untuk itu, segalanya dipersiapkan dengan matang dan maksimal. Bahkan, dua hari sekali ia lari minimal lima kilo agar tubuh tetap fit dan sehat.

"Jangan sampai saat tading wasit pingsan atau sakit. Sebab wasit tingkat internasional membawa negara dan budaya. Saat tes wasit pun kalau gagal kemampuan fisik bisa-bisa langsung dipulangkan," tambah guru GTT (guru tidak tetap) di SMPN 2 Kota Batu.

Alumni SSB Trunojoyo FC 94 Binaan Bang Solah ini pun sevelumnya telah mengukir prestasi di rumput hijau.

Ikwan telah masuk perekrutan wasit 2010 di register FIFA Futsal. Dan pada 2010-2012 dapat tugas jadi wasit nasional futsal di Liga Indonesia.

Di tahun 2012 FIFA Futsal juga mengadakan kursus untuk 22 wasit di Thailand yang diikuti dari berbagai negara. Seperti dari Indonesia, Filipina, Brunai Darussalam, serta Malaysia. Kemudian dari Myanmar, Thailand, Kamboja dan Vietnam. 

Dari sebanyak 22 wasit itu, Ikwan masuk 10 besar wasit AFF di Thailand. Saat itu Thailand versus Vietnam.

Kemudian pada 2013 jadi wasit pada ajang AFF 2013 di pertandingan Thailand melawan Autralia. Dan pada tahun yang sama ia mendapat tugas pada ajang Sea Games mewakili Indonesia.

Lalu pada 2014 memimpin pertandingan futsal AFF di Malaysia serta pada 2014 jadi wasit Asean Games University di Palembang.

Kemudian pada 2015-2016 bertugas di Liga Futsal Indonesia. Karena persepakbolaan Indonesia mendapatkan sangsi dari FIFA.

Tidak berhenti di situ, pada 2016 bertugas kembali jadi wasit di PON Jawa Barat. Hingga pada 2017 bertugas jadi wasit AFF di negara seribu pagoda sejak 29 Juni sampai 11 Juli 2017.

"Di Thailand bertemu wasit senior dan junior. Mereka saling men-suport. Tidak ada saling menjatuhkan," kenangnya.

Sekadar tambahan, hingga saat ini Ikwan sudah mengantongi sebanyak lima medali emas sebagai wasit final dalam pertandingan tingkat Asean dan menggondol satu sertifikat internasional.

Ke depan, Ikwan menginginkan ilmu yang didapat bisa bermanfaat bagi orang banyak. Untuk itu ia menyiapkan mental dan membuka diri untuk siap mengajari para wasit se-Kota Batu. Upaya tersebut agar wawasan dan keilmuan soal perwasitan tidak sia-sia.

Ia mengaku banyak kabupaten dan wilayah lain yang kepincut dan mengundang dia untuk mengisi materi.

Hal itu pula membuat dirinya sering keluar kota dan keliling Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Kota-kota yang pernah dijelajahi seperti ke Padang, Berau Kalimantan Timur, Lombok Mataram serta Bali. Selain itu juga ke Ternate lalu ke Manado.

"Jadi narasumber soal perwasitan. Ke depan, ingin menularkan ilmu di Kota Batu. Sebab, saya arek Batu. Dan saya harus banyak bersyukur dan terimakasih kepada Persikoba, KONI dan Pemerintah Kota Batu," tutup pria yang lahir 15 Agustus 1983 ini. (*)

Pewarta : Muklas
Editor : Yosi Arbianto
Publisher : Yosi Arbianto
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com