In Memoriam

Hari Cahyono HC Putra, Awalnya Kuli Panggul Jadi Juragan Sayur

Hari Cahyono bersama istrinya Pangestutik. (Repro Muklas/BatuTIMES)
Hari Cahyono bersama istrinya Pangestutik. (Repro Muklas/BatuTIMES)

KOTA BATU - Suasana berkabung masih menyelimuti sebuah rumah besar di Jalan Diran Kelurahan Sisir Kota Batu, Selasa (19/7/2017). Sanak dan handaitaulan tengah bersimpati untuk memberikan ucapan berbelasungkawa kepada keluarga Hari Cahyono.

Nama Hari Cahyono lebih populer di kalangan masyarakat luas sebagai HC Putra. Salah satu pegusaha agrobisnis dari Kota Batu itu meninggal dunia pada Sabtu (15/07/2017) malam.

Pihak keluarga dan famili sangat kehilangan Abah Yono, panggilan akrabnya. Begitu juga warga sekitar rumah dan teman-teman seperjuangan di Pasar Kota Batu.

Saat jenazah hendak dibumikan, sepanjang Jalan Diran sempat dilakukan penutupan. Upaya tersebut untuk memberi jalan kepada warga dan banyak kerabat almarhum yang melayat dan mengantarkannya ke kubur.

Di antara teman yang menyempatkan diri bertakziah ada Wali Kota Batu Eddy Rumpoko, Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso serta Kapolres Batu AKBP Budi Hermanto SIK.

Bahkan, para jamaah yang ikut salat jenazah menurut informasi yang dihimpun BatuTIMES mencapai ribuan orang.

Para pelayat tidak hanya datang dari Malang Raya saja. Namun, dari luar kota pun menyempatkan hadir dan ikut mendoakannya.

Para tamu yang turut berduka cita dari Kediri, Tulunggagung, dan Ponorogo. Lalu dari Solo Jawa Tengah hingga dari Jakarta. Mereka tidak lain adalah rekan bisnis dan juga kolega.

"Meninggal disebabkan sakit kencing manis dan ginjal. Yang salat dan pelayat ribuan orang. Sepanjang Jalan Diran sempat ditutup. Banyak orang heran, kok bisa banyak yang datang. Mereka dari berbagai unsur dan kalangan," kata Pangestutik, istri almarhum Abah Yono kepada BatuTIMES di sela-sela menyambut para pelayat yang bertandang ke rumahnya.

Saat sakit, keluarga mencari obat agar abah Yono sembuh dan hidup sehat. Seperti berobat ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang, Rumah Sakit Lavalet Malang dan Rumah Sakit Islam Dinoyo.

Kemudian ke RS Panti Nirmala, RS Muhammadiyah serta ke RS Baptis juga mengkomsumsi pengobatan alternatif. Upaya itu dilakukan sebagai ikhtiar agar sembuh. Tetapi TUhan berkata lain.

Tutut panggilan akrab dari Pangestutik mengatakan, suminya termasuk pekerja keras dan disiplin tinggi.

Hal tersebut membuat Yono menjalani hidup dan menjadi orang sukses. Upayanya itu patut dicontoh anak-anaknya serta orang lain.

Dalam pandangan Tutut, abah Yono terbilang orang jujur dan pandai menghargai waktu serta mudah bergaul. Hal tersebut membuatnya banyak orang mencintai dan ia disenangi orang banyak.

"Orangnya supel. Pandai bergaul. Juga tiap bulan sekali anaknya dan mantunya dikumpulkan diberi wejangan dan nasehat seperti jangan sombong. Hiduplah sederhana," kenang ibu yang dikarunia sembilan anak ini.

Semangat abah Yono membangun 'kerajaan' bisnis patut dicontoh. Sebab, ia menjalankan usaha dari nol.

Selain itu, nilai-nilai positif seperti keuletan, ketekunan, kedisiplinan dan kejujuran serta ketegasan perlu ditularkan kepada masyarakat luas.

Nenek yang dikarunia sembilan cucu ini mengisahkan, awal mula menjalani bisnis keluarga tidak mudah.

Sebab, lika-liku kehidupan ada yang manis dan pahit. Itu menjadi warna-warni kehidupan setiap orang.

Selain itu kerasnya tempaan hidup membuat pria tamatan SD Batu (sekarang SD Sisir 6 ) bisa bertahan.

Yono memiliki sebelas saudara. Sehingga hati nurani Yono terpanggil untuk meringankan beban Sapari (ayah) dan Mujina (ibu).

Untuk itu, Yono remaja memutuskan berhenti dari sekolah SMEA (setingkat SMA) Janti Kota Malang.

Ia  memilih mencari rizki sendiri daripada meminta welas asih dari kedua orangtuanya.

"Karena orang tua Abah Yono tidak punya apa-apa. Apalagi jarak sekolah jauh dan tidak punya sepeda. Uang saku pun pas-pasan kala itu. Abah Yono putus sekolah kelas 2 SMEA Janti," beber Tutut.

Yono muda pun memilih pasar Batu sebagai penopang hidup. Ia menjadi pekerja serabutan. Seperti mengepak dan menimbang sayur. Sesekali ia ikut manggul (menaikkan atau menurunkan sayur ke atas kendaraan).

Kerja keras tersebut ia lakukan agar ia bisa mandiri dan menghasilkan uang sendiri. Berdikari istilahnya.

Saat bekerja di pasar,Yono merasa asyik dengan pekerjaanya. Sebab, ia bisa bertemu berbagai orang dengan latar belakang berbeda. Ia pun punya banyak teman dari golongan juragan sayur.

Pria lulusan SMP Islam Batu itu di waktu senggang masih menyempatkan menjadi juru parkir di depan rumah makan di Jalan Diponegoro Kelurahan Sisir.

Terkadang juga menjadi kuli bangunan untuk menyambung hidup. Termasuk untuk menambah pendapatan saat sudah berkeluarga.

Bahkan, ia juga mengisi luang waktu dengan membantu Tutut berjualan es campur.

"Sempat juga jari-jarinya terluka. Karena kena pasrah es saat ikut berjualan es campur. Alat pasrah es saat itu masih manual," ingatnya.

Memasuki tahun 90-an, pria yang lahir pada tanggal 1 Maret 1964 melakukan ekspedisi ke Kota Sampit- Kalimantan Tengah.

Dengan bermodal kejujuran ia pun melangkahkan kakinya dengan pasti. Sebab, waktu itu, Misni juragannya, meninggal dunia. Tidak ada yang meneruskan dan mengantar sayur ke luar pulau tersebut.

"Modal kejujuran awal merintis bisnis. Satu truk beragam sayur yang dikirim. Saat ini satu Fuso," ungkapnya.

Namanya juga bisnis, ada saja jatuh bangun dan musibah. Dan yang terasa berat saat kapal pengirim barang sempat tengelam di laut. Sehinga sayur tidak sampai pada tujuan.

Hal itu membuat Yono sempat mengalami kerugian mencapai jutaan rupiah. Apalagi konsumen tidak membayar. Alias asal minta kirim barang.

Selain itu juga saat ada konflik antar etnis suku Dayak dengan imigran Madura. Sehingga beberapa bulan bisnisnya mengalami pasang surut.

Namun, seiring berjalannya tahun. Bisnisnya tambah berkembang. Selain mengirim sayur ke Kota Sampit, juga ke Palangkaraya hingga ke Banjarmasin. Tidak berhenti di situ, bisnisnya pun kian merambah lini lainnya.

Selain punya gudang sayur juga memiliki pujasera: warung dan kafe di sekitar Alun-alun Kota Batu. Pujasera itu ia namakan HC Putra, namanya sendiri.

Selain itu, Yono juga mendirikan bisnis properti perumahan. Kemudian membuka pusat oleh-oleh Kota Batu dan tempat transit. Kini, kurang lebih ada 150 karyawan HC Putra yang terdaftar.

Untuk amal tiap tahun, pihak HC Putra melakukan santunan kepada anak yatim dari Kota Batu dan memberi bingkisan. Lalu bagi-bagi sembako untuk para janda di sekitar kampungnya.

Yono juga suka memberikan nasi kotak kepada musala dan masjid yang ditunjuk atau relasi. Kemudian memberikan takjil gratis di sekitar kawasan Alun-alun Batu selama Ramadan tiba.

"Juga abah Yono sering memberikan jaket HC Putra kepada tukang ojek dan juru parkir," tegasnya.

Sementara itu, Ari Sri Mulyono, menantu abah Yono menambahkan, ayah mertuanya itu simbol perekat keluarga.

Sebab semasa hidup, nasehat yang disampaikan sangat bagus dan terpatri di benak anak-anaknya dan mantunya. Yono juga berpesan harus jujur dengan orang lain.

Ari ingat betul ajakan untuk hidup rukun, guyup, kompak dan tidak boleh berpecah belah. Sebab, hal itu bisa memutus hubungan keluarga dan tali persaudaraan.

"Tidak boleh bertikai. Meskipun soal harta. Dan utamakan salat lima waktu serta ingat akhirat," kenangnya.

"Ia suka berolahraga. Seperti jalan-jalan ke Gunung Panderman," imbuh pria asal Solo ini.

Kedepan, Ari bersama keluarga besarnya meneruskan jejak perjuangan dan menjalankan bisnis yang telah ditinggalkan oleh abah Yono. (*)

Pewarta : Muklas
Editor : Yosi Arbianto
Publisher : Yosi Arbianto

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com