Harga Garam Melompat 350 Persen, Produsen Telur Asin Tanggung Kerugian

Produsen telur asin di Junrejo Kota Batu harus menanggung beban kerugian karena kelangkaan dan mahalnya harga garam. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Produsen telur asin di Junrejo Kota Batu harus menanggung beban kerugian karena kelangkaan dan mahalnya harga garam. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

KOTA BATU - Kenaikan harga garam membuat pendapatan produsen telur asin tergerus signifikan. Merosotnya pendapatan itu karena produsen belum berani menaikkan harga jual telur asin.

Produsen telur asin, Lismawati, asal Dusun Klerek Desa Torongrejo Kecamatan Junrejo Kota Batu salah satunya. Ia tetap menjual telur asin dengan harga Rp 2.500 per butir.

"Kalau saya naikkan pasti banyak yang protes. Kecuali kalau harga telurnya juga sama-sama naik, baru saya berani menaikkan harga telurnya," kata Lismawati saat ditemui di rumah produksinya.

Bagi Lismawati kelangkaan garam ini baru dialaminya selama kurang lebih sepuluh tahun membuat telur asin. Untuk satu kali produksi biasanya ia membuat tiga ribu telur.

Garam yang dibutuhkan untuk tiga ribu telur ini kurang lebihnya delapan kilogram. Garam yang digunakan adalah garam beryodium.

"Satu kali produksi ini prosesnya satu minggu. Kalau hari biasa seperti ini hanya buat tiga ribu butir. Tapi kalau waktu menjelang puasa dan lebaran bisa sampai 27 ribu produksinya," imbuhnya.

Harga garam yang ia konsumsi saat ini mencapai Rp 6.500 perkilogram. Sebelumnya hanya Rp 1.700 per kilogram. Meski harganya naik berlipat-lipat tapi ia tetap konsisten menggunakan garam beryodium.

"Walaupun harganya sekarang berkali-kali lipat tapi saya tetap pakai garam yang sama, beryodium," ungkap ibu dua anak ini.

Biasanya, Lismawati satu kali membeli garam sebanyak 50 kilogram tanpa harus memesan terlebih dahulu. Namun setelah kelangkaan ini ia harus memesan terlebih dahulu.

"Biasanya saya beli ya langsung beli. Kalau sekrang harus pesan jauh-jauh hari, karena kalau beli langsung gak bisa," tambahnya sambil mengecek telur di wadah.

Sementara itu, Sri Arba'atin, pedagang Pasar Besar Kota Batu mengatakan, hampir dua bulan garam langka. Bahkan di beberapa toko lainnya, persediaan garam sudah tidak ada.

Walaupun ada, harga garam bisa berlipat. Misalnya garam beryodium sebelumnya Rp 1.500 menjadi Rp 3 ribu per 200 gram. Sedangkan garam grasak semula Rp 1.500 menjadi Rp 6 ribu untuk berat 8 ons.

"Garam sudah dua bulan terakhir merangkak naik terus. Ini saja dibeberapa toko stoknya sudah gak ada," jelas Sri saat ditemui di tokonya. (*)

Pewarta : Irsya Richa
Editor : Yosi Arbianto
Publisher : Yosi Arbianto
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com