Dolanan Anak Pembentuk Kebersamaan dan Toleransi, Ayo Mainkan

Para anak perempuan tengah memainkan dolanan tradisional. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Para anak perempuan tengah memainkan dolanan tradisional. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

KOTA BATU - Kesadaran pelestarian dolanan anak sebagai sarana pembentuk kebersamaan dan toleransi mulai menyebar di sudut-sudut kampung.

Salah satunya di Kampung Anyar RW 03 Kelurahan Sisir Kecamatan Batu Kota Batu. Lewat momen peringatan HUT ke-72 Kemerdekaan RI ini,  beragam permainan tradisional dikumpulkan jadi satu dan dimainkan berbarengan.

Ada kelompok yang bermain gobak sodor, engklek, bektor, egrang, laker, bansorong. Juga ada bangkiak raksasa, srigendem, bentengan, gublek-gublek sueng dan dakon. Semuanya dilakukan dengan interaksi langsung dan kebersamaan.

Bukan hanya anak-anak. Para orang tua juga kembali diingatkan dengan aktivitas pedesaan yang rukun dan penuh semangat gotong royong. Mereka dipersilahkan menumbuk jagung, menggiling jagung dan main musik lesung.

Aktivitas ini dilakukan 5-6 Agustus dalam Festival Kampung Anyar. Mereka mengambil tagline: kampung dolanan anak.

Ketua Pelaksana Festival Kampung Anyar Sugeng Hariadi menjelaskan, kegiatan ini sudah berjalan kedua kalinya. Selain memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 Kemerdekaan Indonesia, juga merayakan Hari Anak Nasional.

Kegiatan ini juga sebagai upaya melestarikan dan mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak. Supaya mereka ingat dan tidak meninggalkan budaya sendiri.

"Permainan tradisional penting dikenal oleh anak-anak ditengah era teknologi yang terus berkembang.," ungkap Sugeng.

Wali Kota Batu Eddy Rumpoko menyempatkan hadir. Ia mengatakan kegiatan seperti ini harus ditumbuhkan.

Jangan hanya di Kampung Anyar, melainkan bisa merambah di dusun hingga desa lainnya yang ada di Kota Batu.

"Kalau bisa kegiatan seperti ini juga bisa diterapkan di daerah lainnya. Jadi tidak hanya setahun sekali saja kegiatan ini berlangsung," kata ER, sapaan akrab Eddy Rumpoko.

Menurut ER, kegiatan ini salah satu upaya untuk mengembalikan karakter masyarakat seiring dengan berjalannya modernisasi. Khususnya karakter kebersamaan, toleransi, kerukunan dan gotong royong.

"Modernisasi boleh terjadi karena perkembangan zaman. Tapi karakter budaya bangsa menjadi ciri khas. Kuatkan budaya lewat permainan," jelas politisi PDI Perjuangan ini. (*)

Pewarta : Irsya Richa
Editor : Yosi Arbianto
Publisher : Yosi Arbianto

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com