Kipas Penyerap Gas Amonia Otomatis ini Bisa untuk Kandang atau WC

Alat penyerap bau amonia di dalam kandang ini dijual seharga Rp 1,2 juta per unit. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Alat penyerap bau amonia di dalam kandang ini dijual seharga Rp 1,2 juta per unit. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

KOTA BATU - Bau gas amonia yang dihasilkan oleh kotoran cair maupun kotoran padat kelinci memang sangat mengganggu. Sebab bau pesing itu tajam dan menyengat.

Kendala itu yang coba diatasi oleh empat orang mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (UB). Mereka mencoba mengembangkan alat yang dinamakan S2-TSC Smell Sensored Thymo-T Essence Charcoal.

Alat ini adalah alat penyerap bau pada kandang kelinci berbasis teknologi sensor bau dan arang aktif. Alat tersebut diharapkan mampu menghilangkan bau gas amonia yang sangat mengganggu ketika masuk kandang.

Alat penyerap bau amonia ini buatan Ika Widiyawati, Gusti Ayu Putu Marleni, Justian Ahmad dan M Jaelani. Mereka mencoba menerapkannya di peternakan kelinci di Desa Bumiaji Kota Batu.

Pertambahan kandang kelinci yang pesat membuat letak kandang satu dengan yang lain  berhimpitan.

Bau amonia pun tak dapat dihindari dan cukup mengganggu masyarakat sekitar. Tidak hanya berpengaruh pada manusia, ternyata amonia ini bisa berimbas pada pertumbuhan dan kematian kelinci.

"Di Desa Bumiaji banyak orang ternak kelinci. Ttapi polusi amonia sangat mengganggu. Tidak hanya untuk manusia, bagi kelinci kalau kadar baunya mencapai 25 vin, bisa mati," terang Gusti Ayu Putu Marleni kepada BatuTIMES.

Alat ini basisnya menggunakan kipas angin untuk menyerap amonia. Saat amonia masuk dalam alat ini akan diterima oleh pipa penyaring.

Di dalam pipa penyaring itu, ada 100 gram arang aktif yang fungsinya untuk menyerap amonia.

"Setelah diserap oleh arang, udara itu akan keluar menjadi udara yang bersih. Untuk masa jenuh arang ini selama 60 jam," jelas perempuan asal Lampung ini.

Saat Batu TIMES mengunjungi kandang Azhar Farm, di Dusun Binangun, Jumat (11/8/2017) kadar Amonia mencapai 0,27 Vin.

Mesin ini otomatis berfungsi jika di dalam kandang tersebut kadar amonia diatas 0,10 vin. Mesin tersebut akan otomatis berhenti jika kadar amonia sudah di bawah 0,10 vin.

Ketika dicoba, setelah 5 menit mesin ini dinyalakan, bau amonia dalam kandang berkurang. Blower itu pun mati secara otomatis.

"Alat ini ada sensornya untuk mengetahui kadar amonia di dalam kandang. Akan  bagus jika alat ini diletakkan ditengah kandang supaya sirkulasi udara berputar," imbuhnya.

Menurut Ika Widiyawati, ia bersama temannya membuat blower ini juga dalam rangka program kreativitas mahasiswa.

Untuk membuat alat ini mereka mendapatkan dana setelah mengajukan proposal dan lolos dari Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia.

"Yang mengajukan proposal ini ada ribuan karena dari seluruh Indonesia. Dan bersyukurnya tim kami lolos. Rencana akhir bulan nanti kami juga maju dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-30 di Makassar," ujar Ika.

Sebelumnya alat ini sudah dipamerkan di pameran nasional dan internasional di Universitas Brawijaya tahun 2017. Rencananya jika ada yang tertarik dengan alat ini akan dijual seharga Rp 1,2 juta per unit.

Alasan mereka memilih kelinci karena kadar amonia tertinggi memang pada kelinci dan ayam. Bahkan alat ini juga bisa digunakan di dalam toilet umum.

"Kalau digunakan di kandang ayam atau WC umum juga bisa," imbuh perempuan 20 tahun ini. (*)

Pewarta : Irsya Richa
Editor : Yosi Arbianto
Publisher : Yosi Arbianto
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com