Rika Wijayanti, dari Gunung Banyak Kota Batu Jadi Juara Dunia Paralayang

Rika Wijayanti (kanan) bersama kakaknya Joni Efendi. Keduanya sama-sama terjun dalam PGAWC seri 4 di Slovenia. (foto: Rika for BatuTIMES)
Rika Wijayanti (kanan) bersama kakaknya Joni Efendi. Keduanya sama-sama terjun dalam PGAWC seri 4 di Slovenia. (foto: Rika for BatuTIMES)

KOTA BATU - Rika Wijayanti melambungkan nama Kota Batu di kancah internasional dengan menjadi juara dunia wanita individu kompetisi Paragliding Acuracy World Cup (PGAWC) 2017.

Rika mengumpulkan poin maksimal dari empat seri yang digelar. Seri 1 di Indonesia, seri 2 di Versac Serbia, seri 3 di Sant-Mount Piere, Kanada dan seri 4 atau seri terakhir di Slovenia. Seri 4 baru berakhir akhir September 2017 lalu.

"Saya terbaik di PGAWC Slovenia kategori atlet wanita. Sangat senang sekali, karena mendapatkan gelar juara dunia 2017. Tahun depan ikut lagi," kata Rika Wijayanti kepada BatuTIMES dengan sumringah.

Rika mengatakan, pada PGAWC pesertanya pilihan. Ada sekitar 100 atlet mewakili negara masing-masing.

Para atlet semuanya bertalenta dan memiliki kemampuan yang bagus dalam terbang dan pendaratan.

Di negara pesisir sub Alpin selatan Eropa, lulusan SDN Songgokerto 02 ini menemui tantangan berat saat merebutkan juara dunia.

Ia harus melawan dinginnya udara. Apalagi di negara tersebut terkenal dengan Gunung Triglav sebagai puncak tertinggi dengan hawa yang sangat dingin.

"Bertarung dengan suhu mencapai 7 derajat itu sesuatu yang sangat berat. Beda dengan di Asia," jelas gadis lulusan SMP Muhammadiyah 08 Kota Batu ini.

Rika lalu bercerita, ia jatuh hati pada dunia paralayang saat masih duduk di bangku sekolah SMK 17 Agustus Kota Batu kelas dua.

Saat itu sepulang sekolah, ia melihat atlet maupun wisatawan tengah asyik terbang paralayang di atas langit Kota Batu. Remaja kelahiran 08 September 1994 ini melihat langsung dari atap rumahnya.

Lokasi rumahnya tidak jauh dari Gunung Banyak sebagai titik take off  paralayang. Rika pun penasaran dan ingin mencoba.

Ia lalu mendatangi tempat tandem paralayang yang masuk di Kelurahan Songgokerto Kota Batu ini. Kebetulan sang kakak Joni Efendi juga seorang atlet paralayang.

Singkat cerita, remaja yang berzodiak virgo ini memberanikan diri mencoba permainan paralayang agar bisa mengobati rasa penasaran.

"Awalnya coba-coba. Karena tertarik, kepingin," ungkap salah satu atlet Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) KONI Kota Batu ini.

Belajar paralayang bersama kakaknya, Joni Efendi, membuat Rika jatuh hati pada paralayang.

Cita-cita menjadi pegawai bank pun ia kubur. Kakaknya dengan tekun mengajari groundlanding (menarik parasut pendaratan).

Kemudian lari dengan membawa serta mengembangkan parasut. Juga mengontrol arah kanan kiri pada handel. Serta dikenalkan arah angin saat menggunakan canopy.

"Saat terbang parasut melawan arah angin. Sebab, biar anteng (stabil) parasutnya," kata atlet yang juga masuk atlet timnas RI ini.

Namanya belajar, tentu Rika juga pernah mengalami kecelakaan. Ia pernah jatuh dari ketinggian delapan meter.

Ia bisa terjatuh karena saat terbang kebanyakan menahan canopy. Sehingga saat ada angin kencang membentur keras pada parasutnya tanpa hambatan, canopy terlipat.

Rika pun jatuh yang mengakibatkan dislokasi pada tulang tangannya. "Ngerem terlalu kencang, yo lugur (jatuh). Tangan dislokasi. Selama satu bulan perawatan," beber anak pasangan Dul Ali- Bawon ini.

Meski atuh bangun, tidak membuatnya menyudahi belajar olahraga ekstrem ini. Apalagi orang tua terus mendukung dan memberikan motivasi agar terus belajar lebih keras.

Teori demi teori ia praktikkan dengan sabar dan tekun. Dengan banyak latihan, jiwanya optimis dan menghilangkan ragu.

Begitu juga saat bertanding di Slovenia. Ia sangat yakin dan tetap fokus bisa menyelesaikan tugas yang diemban dari negaranya dengan baik.

"Yang utama fokus, santai, dan berdoa," kata remaja yang hobi makan bakso ini.

Ratusan medali dan piala dari turnamen paralayang ia koleksi. Beberapa kota pernah ia singgahi. Misalnya Bogor, Kemuning Jawa Tengah, Manado, Sumedang, Painan Sumatra Barat, Lombok juga Palu.

Rika juga telah menjajal lokasi paralayang terbaik di luar negeri. Seperti Thailand, Malaysia, Albania, Serbia. Kemudian Kanada Slovenia.

Meskipun menjuarai berbagai turnamen dan even bergengsi, Rika tidak berhenti belajar. Ia akan terus memacu semangatnya dan terbang tinggi guna meraih prestasi yang terbaik di udara.

Rika bakal kembali beradu dengan para atlet internasional dari 18 negara dalam even Asian Game 2018. Venue ada di Puncak, Bogor, Jawa Barat. Rika menjadi wakil Indonesia dan juga kota kelahirannya, Kota Batu.

Sebelumnya, Oktober 2017 ia terlebih dahulu mengambil sertifikat SIV tingkat nasional di Provinsi Manado.

"Doakan jadi yang terbaik. Bisa mengharumkan Kota Batu dan Indonesia di Asian Games 2018 mendatang," harap Rika dengan pasti. (*)

Pewarta : Muklas
Editor : Yosi Arbianto
Publisher : Yosi Arbianto

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com