Film Pendek Karya Pelajar SMKN 3 Batu Juara I Lomba Seni Siswa Nasional 2017

Dari kiri Sekretaris Jurusan Broadcasting; Enggar Pristianora, Hidaayatil Adzkiya Uzair, Charis Iola dan Humas SMKN 3 Batu Imam Hidayat saat menunjukkan piala dan karya mereka di kantor Kepala Sekolah SMKN 3 Batu, Kamis (5/10/2017). (Foto: Irsya Richa/Bat
Dari kiri Sekretaris Jurusan Broadcasting; Enggar Pristianora, Hidaayatil Adzkiya Uzair, Charis Iola dan Humas SMKN 3 Batu Imam Hidayat saat menunjukkan piala dan karya mereka di kantor Kepala Sekolah SMKN 3 Batu, Kamis (5/10/2017). (Foto: Irsya Richa/Bat

KOTA BATU - Film pendek berdurasi tujuh menit dengan judul Diary of Tyas (DOT) Vlog Jaran Kepang Keliling (Jaling) sukses merebut hati dewan juri dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) SMK di Kupang, Nusa Tenggara Timur, lalu.

Karya para pelajar SMKN 3 Batu itu mengantarkan Jawa Timur meraih medali emas, menyisihkan 32 sekolah di Indonesia.

Di balik hasil karya tersebut terdapat kru yang kompak, garapan dari kelas XII SMKN 3 Batu yakni Charis Lola sebagai sutradara, Hidayatil Adzkiya Uzair sebagai penata kamera, Adonis Julio Fernanda sebagai editor, Ary Tristianto sebagai penata artistik, dan Yoga Ananda Dwi Putra sebagai penulis naskah dan produser.

Film berdurasi 7 menit ini diperankan oleh Sekar, Tyas, Mbok Sri, dan Suhendri. Bercerita tentang Tyas seorang vlogger yang bertemu dengan Sekar seniman Kuda Lumping.

Sekar berjuang membiayai pengobatan ibunya melalui pelestarian kesenian kuda lumping keliling. Dari perkenalan dan pertemanan mereka, Tyas berhasil membantu mempromosikan kesenian sekar lewat vlog dan menjadi viral.

“Pesan yang ingin disampaikan sederhana, memberi contoh untuk saling tolong menolong dengan caranya sendiri dan kekinian,” ungkap Charis saat ditemui di ruang Kepala SMKN 3 Batu.

Cerita itu diangkat oleh kelompok ini karena masyarakat saat ini kurang perhatian terhadap hal-hal yang mengandung misi kemanusiaan ini.

Masyarakat cenderung kurang peduli kepada pengamen jalanan yang biasa menghibur pengendara melakui talenta seperti jaran kepang (kuda lumping).

“Seniman yang bertalenta itu menghibur tapi gak dikasih uang. Bahkan dilihat saja enggak. Bisa dilihat  di Batu, di alun-alun banyak,” tambah perempuan yang akrab disapa Ais ini, Kamis (5/10/2017).

Penggarapan film pendek ini cukup singkat.  Butuh waktu dua minggu. Tepat pada bulan Oktober 2016. Mengambil tempat di Alun-Alun Kota Batu, Desa Sidomulyo, dan area SMKN 3 Batu.

Selama dua minggu pengrjaannya tidak mudah. Ya, mereka sempat mengganti naskah hingga empat kali, hingga akhirnya mendapatkan persetujuan dari pembimbing.

“Buat ide dan naskah memang tidak mudah. Kita harus ganti-ganti naskah sampai empat kali. Sampai akhirnya pembimbing menyetujui naskah kami,” katanya kepada BatuTIMES.

Untuk mengerjakan film pendek ini mereka harus bermalam di sekolahnya. Ya, karena keterbatasan waktu pengumpulan karya. “Kita sampai menginap di sekolah. Kalau gak gitu gak selesai-selesai,”  imbuh Ais.

Uzair menambahkan sebelumnya, tahun 2017 ini mereka oernah mengikuti festival film Bondowoso. Namun hanya masuk dalam nominasi. Karena itu, di balik kejadian tersebut semakin membuat mereka termotivasi untuk meraih juara.

“Bangga meski sebelumnya gagal dan sekarang bisa dapat juara I. Semoga ke depan terus berkarya,” harap Uzair.

Pewarta : Irsya Richa
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com