Balai Pelestarian Cagar Budaya Jatim Tinjau Gua Jepang Songgoriti

Beberapa wrga bersama BPCB Jatim saat mengukur mulut goa di Dusun Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, Kamis (12/10/2017). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Beberapa wrga bersama BPCB Jatim saat mengukur mulut goa di Dusun Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, Kamis (12/10/2017). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

KOTA BATU - Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur melakukan tinjauan di area yang bakal dibuka untuk wisata yakni gua Jepang di Dusun Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, Kamis (12/10/2017).

Hasil dari tinjaun itu, BPCB Jatim meminta agar warga sekitar membuka mulut gua Jepang yang tertimbun.

“Ya, ini kan diduga ada gua Jepang di sini sehingga kami tinjau. Namun supaya lebih terlihat peninggalannya mulut-mulut guanya perlu dibuka,” kata Arkeolog BPCB Jatim, Nugroho Harjo Lukito saat meninjau lokasi gua Jepang Songgoriti, Kamis (12/10/2017).

Menurutnya, diketahui gua ini di dalamnya masih ada lorong-lorongnya. Kemudian diduga juga ada lorong bercabang. gua Jepang ini bisa dimanfaatkan untuk wisata edukasi, sejarah dan sebagainya.

“Diketahui semua mulut terkena runtuhan tanah. Supaya mulut gua lebih terlihat perlu dilakukan pengerukan menggunakan alat berat,” imbuhnya kepada BatuTIMES.

Rencananya, setelah BPCB Jatim meninjau lokasi tersebut warga akan segera membuka mulut gua agar lebih terlihat.

Sementara itu, salah satu warga Seger Kijo menjelaskan di sana terdapat tujuh gua dengan panjang seribu meter dengan lebar tiga meter, diperkirakan usia gua bunker sudah 50 tahun.

Dulunya gua bunker ini digunakan tentara Jepang sebagai tempat penyimpanan rempah-rempah, persenjataan, dan perlindungan.

Hanya saja untuk saat ini, gua ini masih belum terlihat. Sebab, pada tahun 1999 di area tersebut terdapat lapangan. Daripada membahayakan, gua bunker itu ditutup.

"Sudah lama gua bunker ini ada. Karena takut membahayakan, jadi warga menutupnya. Tapi sekarang akan kami buka kembali," ungkap Seger.

Karena nilai sejarah, warga ingin mengangkat  agar masyarakat luas mengerti. Sekaligus menggali potensi daerah untuk meningkatkan ekonomi warga. Bukan itu saja.

Di sekeliling goia ini ternyata juga terapat sumber mata air hangat. Dulunya air hangat itu merupakan tempat permandian orang Jepang.

Sumber ini juga akan dikembangkan menjadi tempat wisata. "Di bawah ini ada sumber air hangat, juga akan dikembangkan," imbuhnya.

Pewarta : Irsya Richa
Editor : Heryanto
Publisher : debyawan erlansyah

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com