Uang Suap Wali Kota Batu Mengalir ke Pilkada 2017

Gambar dua proyek yang dimenangkan dalam oleh pihak penyuap, yakni PT Dailbana Prima dan CV Amarta Wisesa dalam LPSE Kota Batu.
Gambar dua proyek yang dimenangkan dalam oleh pihak penyuap, yakni PT Dailbana Prima dan CV Amarta Wisesa dalam LPSE Kota Batu.

BATUTIMES - Kasus suap yang menyeret Wali Kota Batu (non-aktif) Eddy Rumpoko makin terang benderang. Kepala Bagian Unit Layanan Pengadaan Kota Batu Edi Setiawan yang menjadi saksi kunci sekaligus tersangka dalam kasus pengadaan barang jasa tahun 2017 memberikan kesaksian yang mencengangkan dalam sidang di Pengadilan Tipikor Surabaya.

Dalam kesaksian yang dibeberkan itu, Edi mengaku diberi perintah oleh tersangka Wali Kota Batu (non-aktif) Eddy Rumpoko untuk mengatur kemenangan rekanannya, yakni Filipus Djap dari Dailbana Prima dan CV Amarta Wisesa. Dalam hal ini, Edi juga merupakan orang kepercayaan Eddy Rumpoko untuk melakukan segala hal yang diinginkan terkait proyek hingga mencarikan uang keperluan kampanye pemilihan kepala daerah  2017 yang akhirnya dimenangkan istri Eddy, yakni Dewanti Rumpoko, dan Punjul Santoso .

Edi pun menjelaskan kronologi perannya mengondisikan dan mengatur sejumlah proyek agar dimenangkan oleh tersangka Filipus Djap sebagai tersangka penyuap. Ada dua proyek yang dimenangkan dalam oleh pihak penyuap, yakni PT Dailbana Prima dan CV Amarta Wisesa.

Kedua proyek itu adalah pengadaan barang belanja modal peralatan dan mesin pengadaan mebel. Proyek itu merupakan pengadaan tahun 2017 dengan total anggaran Rp 5,4 miliar. Proyek lainnya yang dimenangkan adalah pengadaan belanja pakaian dinas dan atributnya dengan nilai Rp 1,4 miliar. 

“Jadi saya diminta pejabat pembuat komitmen (PPK) untuk mengondisikan proyek tersebut. Semua berjalan dengan normal saja,” ungkap Edi. 

Kemudian Filipus menghubungi Edi untuk membicarakan fee proyek tersebut. Pemberian fee itulah yang lantas ditindaklanjuti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan operasi tangkap tangan (OTT) pada16 September lalu di rumah dinas wali kota Batu. 

Dalam proyek pengadaan barang dan mebel dengan nilai Rp 5,4 miliar itu, disepakati fee 10 persen sehingga Filipus memberikan Rp 500 juta. Hanya, uang itu tidak diberikan sekaligus, namun bertahap.

Bahkan, Edi juga membebekan, ketika Eddy Rumpoko sangat tertanggung dengan adanya proyek Filipus yang terkendala karena dipermasalahkannya Inspektorat, Filipus juga mengalokasikan uang untuk kepolisian, Inspektorat, kejaksaan sampai lembaga swadaya masyarakat (LSM). "Saat itu tahun 2016, pekerjaan pihak Filipus dipermasalahkan oleh Inspektorat, pihaknya sangat geram. Karena itu, ada alokasi dana untuk melancarkan kasus tersebut," imbuhnya.

Selain itu, ketika Eddy Rumpoko membutuhkan uang, lanjut warga Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, tersebut, sebagai orang kepercayaannya, Edi dimintai bantuan untuk mencarikan uang. Kebutuhan uang itu ternyata dipergunakan untuk kelancaran dana kampanye pemilihan kepada daerah tahun 2017. (*) 

Pewarta : Irsya Richa
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com