Dua Kali Terjadi Ambles, Awas Tanah Jalibar Batu Rawan

Tim Sapu Jagat DPUPR Kota Batu saat menangani tanah ambles di Jalibar Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu. (Foto: DPUPR for BatuTIMES)
Tim Sapu Jagat DPUPR Kota Batu saat menangani tanah ambles di Jalibar Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu. (Foto: DPUPR for BatuTIMES)

BATUTIMES - Terulang lagi tanah ambles terjadi di Jalur Lingkar Barat (Jalibar), Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu. Tanah ambles ini terjadi pada Senin (8/1/2018).

Beberapa faktor disinyalir menjadi penyebab tanah ambles tersebut. Diantaranya yakni faktor hujan, tanah urugan abutment jembatan yang kurang padat dan tebal. Serta adanya batuan yang kurang padat.

Tanah ambles kali ini terjadi tepat berada di tengah jalan. Dengan lebar 1,5 meter dan kedalaman 60 centimeter. Setelah mendapatkan laporan dari masyarakat Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Batu langsung menindaklanjuti kejadian tersebut.

Tim Sapu Jagat (tim reaksi cepat) langsung menutup amblesnya tanah yang terletak pada jembatan tersebut. Material yang digunakan yakni batu dan pasir. Rencananya Selasa (9/1/2018) DPUPR Kota Batu segera mengaspal jalan untuk kenyamanan pengendara. 

Kabid Bina Marga DPUPR Kota Batu, Alfi Nurhidayat mengatakan, amblesnya jembatan itu, dikarenakan urukan tanah abutment jembatannya tergerus air. Biasanya tanah ambles akan mudah terjadi pada tanah yang selama musim kemarau mengalami keretakan dengan lubang yang cukup besar dan membuat air hujan sangat mudah masuk dan membuat tanah menjadi mengembang seketika.

"Kasus di Jalibar ini  karena struktur urugan tanahnya yang kurang optimal sehingga masih memberikan kesempatan air untuk meresap di sela-sela urugan abutment jembatannya," kata Alfi.

Ia menambahkan tanah urugan yang kurang padat dan tebal seperti urugan tanah di abutment ini sangat berbahaya dan sangat berpotensi ambles. Terutama jika terjadi hujan yang cukup deras dengan kapasitas air yang sangat banyak, memiliki potensi besar untuk ambles.

"Kami lihat di lokasi ini tanahnya kombinasi batuan dan tanah padas, bisa jadi dulu saat pembangunan jembatan ini sekitar tahun 2013 kondisi tanah di area abutment jembatannya belum terkonsolidasi dan jembatan harus segera difungsikan," imbuhnya.

"Akhirnya setelah beberapa tahun berlalu dan soil settlement terus berlangsung hingga jadilah ambles seperti yang terjadi beberapa waktu lalu dan sekarang. Jika teori ini benar maka hal ini (tanah ambles) bisa saja akan terjadi lagi di sekitar area tersebut," ujar pria yang juga dosen ini.

Diketahui kasus sebelumnya terjadi pada bulan November. Amblesnya tanah di  jembatan itu sekitar 2 meter, lebar 0,6 meter dengan kedalaman sekitar 2 meter.

Pewarta : Irsya Richa
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->