Pedagang Bakso di Kota Batu Ini Beda, 26 Tahun Jualan, Konsisten Tak Giling Daging

Muji Samsul saat menjual baksonya di Dusun Gondang, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Muji Samsul saat menjual baksonya di Dusun Gondang, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

BATUTIMES - Bakso memang sudah menjadi salah satu makanan favorit yang setiap hari dikonsumsi masyarakat.

Pedagang bakso pun bermunculan menyuguhkan rasa dan tekstur empuk pentolnya agar diburu konsumen.

Tak terkecuali pedagang bakso yang memiliki nama Mujos di Dusun Gondang, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji.

Pemiliknya bernama Muji Samsul, ia menjadi pedagang bakso sejak 26 tahun silam.

Namun, ada yang beda dari sajian bakso ini. Ia konsisten mengolah pentol bakso dengan cara manual, berbeda dari bakso lain meskipun mesin pengolahan pentol bakso semakin canggih. 

Pria yang akrab disapa Mujos ini menghaluskan daging bakso menggunakan kayu. Meskipun hanya bermodal kayu ia mampu menghaluskan bakso dalam jumlah cukup banyak.

Yakni, kurang lebih 4-5 kilogram daging setiap hari. Agar halus seperti yang diharapkan ia butuh satu jam penu memukul daging yang akan diolah jadi pentol bakso tersebut.

“Kurang lebih butuh waktu satu jam tanpa jeda untuk menghaluskan bakso dengan jumlah daging 4-5 kilogram itu. Karena sudah terbiasa, jadi nggak terasa capeknya,” ungkap Mujos saat ditemui di warungnya, Sabtu (20/1/2018).

Di tengah banyaknya pedagang bakso menggunakan cara mudah menghaluskan daging dengan mesin, Mujos setia menggunakan pukulan kayu itu.

Alasanya, lewat cara itu daging bakso kenyal dan tahan lama. 

“Ini jadi kenyal seperti ini tanpa menggunakan tepung pengenyal loh ya karena tidak menggunakan mesin gilingan. Karena dipukul pakai kayu itu jadi kenyalnya tahan lama, lalu tidak bau mesin juga, dan rasanya lebih sedap,” imbuhnya. 

Selain kenyal dengan cara tersebut, ternyata pentol bakso bisa awet selama seminggu jika diletakkan di freezer.

Berbeda dengan bakso yang dihaluskan dengan mesin penggiling yang hanya bertahan sehari saja di freezer.

“Kalau yang menghaluskan tanpa mesin penggiling dan tanpa diberi pengawet jika diletakkan di freezer hanya tahan satu hari saja,” jelas pria 46 tahun ini.

Selain itu yang menjadi ciri khas bakso miliknya hingga diserbu konsumen adalah siomay yang di dalamnya terdapat ati ampela.

Terutama pelajar yang memfavoritkan siomay yang dibandrol Rp 1 ribu per bijinya ini.

Karena kenikmatan bakso ini, begitu buka sekitar pukul 11.00, pukul 16.00 WIB sudah ludes terjual.

“Bagi saya kualitas bakso itu menjadi penentu kepercayaan pelanggan. Karena itu saya terus menjaga kekhasan dari bakso saya. Dengan konsisten mengolah pentol dengan cara manual itu pelanggan tetap setia dengan bakso saya sejak 26 tahun lalu,” tutupnya.

Rio, salah satu pelanggan Bakso Mujos mengakui jika pentol bakso favoritnya ini memiliki kekenyalan yang berbeda dari bakso lain. Tekstur baksonya dan rasanya sungguh nikmat.

“Saya setia dengan Bakso Mujos dibanding dengan bakso lain. Karena kekenyalannya itu tanpa bahan tepung pengenyal, dan saya sudah langganan di sini lama,” ujar Rio.

Pewarta : Irsya Richa
Editor : Heryanto
Publisher : debyawan erlansyah
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->