Ayam Bakar Oyot, Kuliner Khas Desa Tulungrejo Ini Kaya Akan Rempah-Rempah

Ayam bakar oyot menjadi salah satu makanan khas Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. (Foto: Wana Wisata Oyot for BatuTIMES)
Ayam bakar oyot menjadi salah satu makanan khas Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. (Foto: Wana Wisata Oyot for BatuTIMES)

Kuliner ayam bakar memang sudah banyak dikenal orang, bahkan juga menjadi menu favorit dalam setiap moment. Di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji ternyata ayam bakar menjadi salah satu ciri khas makanan daerah tersebut.

Meski menjadi makanan khas daerah tersebut, tidak banyak dari warganya yang menyuguhkan makanan itu di warung. Tapi jika wisatawan penasaran dengan ayam bakar satu ini bisa dinikmati di tempat wisata batu dikenal dengan nama Oyot (Obyek Wisata Coban Talun).

Ya di sana terdapat warung yang didesain layaknya akar pohon cukup besar. Di sana menyuguhkan masakan khas ini seharga Rp 20 ribu per porsinya.

Lalu apa yang menjadikan kuliner satu ini menjadi masakan khas daerah sana? Ya, karena memiliki bumbu-bumbu atau rempah-rempah dengan racikan yang berbeda dari umumnya. Hnya warga Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji yang mengetahui resep ayam bakar ini. 

“Jadi ayam bakar desa sini beda dari yang lain. Bisa dikatakan khasnya, karena memang punya cita rasa yang kaya dan banyak rempah-rempahnya. Intinya beda dengan resep pada umumnya,” ungkap Winarto Slamet, Marketing Oyot sekaligus warga Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. 

Bahkan mulanya bahan dasar ayamnya bukan ayam kampung saat ini. Melainkan ayam yang memang khas dari hutan Coban Talun. Karena alasan itu juga warga menjadikan makanan ini menjadi khas daerah setempat. 

Rasanya saat menggunakan ayam khas Hutan Coban Talun adalah daging empuk dan berbeda dari yang lainnya. Apalagi dengan cita rasa bumbu khas rasanya manis dan pedas bergejolak pada lidah, sehingga membuat rasa ketagihan saat dimakan.

“Kenapa khas, salah satunya juga kalau orang terdahulu pasti cari ayam di hutan Coban Talun. Dan rasanya benar-benar luar biasa, ya tapi itu kita tidak menggunakan ayam di sana,” imbuhnya, Rabu (24/1/2017).

Namun seiring dengan berjalannya waktu populasi ayam di hutan Coban Talun kian menipis, yang akhirnya membuat warga setempat memilih untuk menggunakan bahan dasar ayam kampung. Meski diganti, tetapi cita rasa daging tidak jauh berbeda dengan sebelumnya.

“Karena lama-lama susah cari ayam di hutan Coban Talun. Akhirnya warga setempat mencari bahan dasar lainnya. Tapi rasa ayamnya gak jauh beda,” jelas Winarto kepada BatuTIMES. 

Karena itu wana wisata yang baru saja hadir itu menyuguhkan masakan khas tersebut agar bisa dinikmati wisatawan. Sekaligus mengenalkan menu andalan sebagai desa wisata yang ada di Kota Batu.

Dengan harga Rp 20 per porsinya selain mendapatkan ayam dan nasi, juga terdapat lauk tempe dan sayur mayur, semakin nikmat dengan sambal matang yang semakin membuat menu saat ini tambah lengkap.

 

Pewarta : Irsya Richa
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : debyawan erlansyah

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com