Atasi Bau Busuk , Pemkot Batu Gunakan Sistem Baru Ini di TPA

Alat berat ekskavator sedang mengangkut sampah untuk proses pemerataan TPA di Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Alat berat ekskavator sedang mengangkut sampah untuk proses pemerataan TPA di Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

BATUTIMES – Bau menyengat menjadi momok bagi warga sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo. Karena bau busuk masih kerap tercium warga di sekitar area pembuangan sampah.

Keluhan itu disampaikan oleh salah satu warga yang tinggal jaraknya kurang lebih 300 meter dari lokasi TPA. Ia mengeluhkan selama satu bulan sejak pukul 17.00-06.00 bau sampah sangat menyengat di area tersebut.

Selain bau dari tumpukan sampah, kondisi itu juga diperparah dengan pencemaran sungai yang ada di depan rumahnya. Kondisi itu tentu menambah bau tidak sedap area perkampungannya. Bahkan karena merasa tidak nyaman dengan bau tidak sedap tersebut membuat anak-anak mereka enggan untuk sekolah di Desa Tlekung. Sehingga mereka banyak memilih untuk menempuh Pendidikan di luar desa tersebut.  

Kepala DInas Lingkungan Hidup Arief As Siddiq menjelaskan tercemarnya bau sampah dari TPA itu disebabakan karena di area tersebut dalam proses pemerataan sampah. Pemerataan sampah itu dilakukan untuk mengurangi bau sampah yang dikeluhkan oleh warga.

“Selain baunya disebabkan karena musim hujan, juga saat ini kami sedang melakukan pemerataan sampah. Nah, solusi ini kami lakukan setelah kami berdiskusi dengan Kementrian Lingkungan Hidup,” jelas Arief.

Ya saat BatuTIMES meninjau lokasi TPA di Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo pemandangannya di lahan empat hektar itu memang ada pemandangan berbeda dengan biasanya. Jika sebelumnya sampah menggunung di satu titik, namun saat ini sudah diratakan.

Terlihat aktifitas pemerataan menggunakan dua alat berat. Satu alat berat ekskavator untuk menggali sampah, sedangkan buldoser untuk memadatkan sampah.

Arief menambahkan, proses pemerataan itu bakal berlangsung selama 10 hari, dimulai pada Jumat (2/2/2018). “Sekarang sudah jalan lima hari. Ya ini memang yang membuat baunya semakin bau sekali. Tapi setelah lima hari kedepan, selanjutkan akan dilakukan proses penutupan dengan tanah,” imbuhnya kepada BatuTIMES.

Ya setelah dilakukan pemerataan sampah itu akan dilanjutkan dengan pemadatan tanah. DLH membeli tanah Rp 50 juta untuk memadatkan area tersebut dengan tanah. "Nantinya pasti lama kelamaan sampah yang sudah kita ratakan itu akan mampat,” jelas bapak yang dikaruniai tiga anak ini.

Ia menambahkan dengan adanya pemerataan tanah ini juga merubah tatanan sampah.  Ditata zona sel tempat pembungan sampah zona aktfi, dan zona pasif. Ya fungsi zona aktif ini nantinya khusus untuk tumpukan sampah. Sedangkan di zona pasif bebas dari tumpukan sampah.

“Tapi kalau di zona aktif sudah penuh, akan dipindah ke zona pasif. Nanti zona aktif akan diratakan kembali menggunakan zona. Dan sebaliknya, memang kita buat seperti itu sampai kita mendapatkan mesin pencacah sampah,” imbuhnya.

Menurutnya cara ini dirasa cukup efektif mengingat TPA Tlekung ini hanya mampu hingga kurang lebih dua sampai tiga tahun mendatang. “Kami terus berupaya selain dengan mendatangkan mesin pengolah sampah yang sedang diproses, melalui system baru ini juga mampu mengatasi masalah,” tutup warga Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu.

Pewarta : Irsya Richa
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->