Mau Kembangkan Desa Wisata, Jangan Tergoda Spot Swafoto

Salah satu desa wisata dengan wahana Dam di Coban Talun, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Salah satu desa wisata dengan wahana Dam di Coban Talun, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

BATUTIMES - Pengelola desa wisata di Kota Batu sepertiya harus berpikir ulang untuk berlomba-lomba menyajikan swafoto. Kaerna ketahanan swafoto tidak akan langgeng. Paling lama hanya bertahan dua tahun. Hal itu sebagaimana diutarakan oleh Sugeng Handoko pengelola Desa Wisata Nglanggeran, Jogjakarta.

Menurutnya desa wisata di Kota Batu memiliki potensi yang cukup bagus untuk perkembangan ekonomi. Namun untuk mengembangkan desa wisata yang memiliki prospek ekonomi jangka panjang perlu memperhatikan beberapa hal.

Agar desa wisata terus bertahan rupanya jangan terlalu berinovasi dengan spot swafoto. Sebab spot swafoto sifatnya akan membuat bosan pengunjung, meski spot swafoto masih menjadi tren di kalangan masyarakat.

“Meskipun spot swafoto jadi tren dan banyak dicari orang, tapi lama kelamaan silih berganti mereka akan bosan. Karena-kan mereka sudah pernah swafoto di sana, lalu apa yang bisa dapatkan lagi,” ungkap Sugeng, Selasa (10/4/2018).

Ya supaya desa wisata itu terus berkembang pengelola wisata lebih baik memikirkan aspek ini. Sebab jika hanya mengikuti tren, wisata itu tidak akan bertahan lama. “Kalau hanya mengikuti tren paling hanya bisa bertahan selama dua tahun saja,” imbuhnya saat ditemui di Balai Kota Among Tani.

Daripada membuat spot swafoto lanjut Sugeng,  lebih baik mengembangkan potensi lokal desa tersebut. Contohnya, potensi pada pertanian lebih baik diunggulkan hal tersebut. Sebab potensi lokal lebih banyak diminati pengunjung. 

“Tinggal pintar-pintarnya cara pengemasan dari pengelola desanya bagaimana untuk menarik pengunjung supaya datang,” tambah Sugeng. 

Selain itu, potensi alam juga banyak diminati pengunjung. Karena itu, ia menyarankan agar desa wisata mengembangan kearifan lokalnya. Namun juga harus diimbangi dengan menjaga lingkungan sekitar. 

Lalu mengapa Sugeng yang jauh didatangkan dari Jogkarta ini untuk memberikan pengalamannya menjadi pengelola wisata saat pembina Pelaku Usaha Jasa Sarana Pariwisata di Desa Wisata? Alasannya karena Sugeng bersama timnya telah sukses mengembangkan desa wisata di daerahnya.

Singkat cerita, desa wisata Nglanggeran dulunya adalah desa tertinggal. Kemudian tahun 2007 mulai berkembang menjadi desa wisata. 

Perlahan dikembangkan, rata-rata desa wisata ini bisa mendapatkan Rp 1,4 Miliar per tahunnya. Dengan memanfaatkan potensi alamnya.

Kepala Bidang Pengembangan Produk Wisata Dinas Pariwisata Kota Batu Hasanatul Mardiyah menambahkan, kehadiran salah satu pengelola desa wisata di Jogjakarta ini bisa dicontoh untuk perkembangan wisata di Kota Batu. Diakuinya desa wisata yang dikelola oleh Agung ini perkembangannya cukup bagus.

“Kami sengaja mendatangkan Sugeng Handoko karena memang di sana desa wisata berkembang dengan pesat. Sehingga kami mengundang untuk berbagi pengalamannya kepada pengelola desa wisata di Kota Batu," ujar perempuan yang akrab disapa Didin ini.

Pewarta : Irsya Richa
Editor : A Yahya
Publisher : Zaldi Deo
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->