Setahun Kembangkan Pertanian Organik Sistem Hidroponik, Hasilnya Bisa Dipanen

Kepala Dinas Pertanian Kota Batu bersama para ASN memanen sayur sawi di Green House Pemkot Batu, Kamis (12/4/2018). (Foto: Dinas Pertanian Kota Batu for BatuTIMES)
Kepala Dinas Pertanian Kota Batu bersama para ASN memanen sayur sawi di Green House Pemkot Batu, Kamis (12/4/2018). (Foto: Dinas Pertanian Kota Batu for BatuTIMES)

BATUTIMES - Pertanian organik menggunakan sistem hidroponik di green house yang dikembangkan oleh Dinas Pertanian Kota Batu akhirnya panen raya. Panen raya yang berlangsung Kamis (12/4/2018) itu dipanen bersama Aparatur Sipil Negera (ASN) Kota Batu.

Sistem Hidroponik adalah budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Dalam satu tahun ini, banyak kegagalan yang terjadi saat menanam.

Sehingga panen kali ini dirasa memiliki hasil yang memuaskan dan sesuai dengan harapan. Beragam tanaman sayur-mayur  itu terlihat cukup segar. Mulai dari sayur sawi daging, kailan, romaine, dan andewi. 

Dalam panen raya ini mendapatkan ratusan ikat sayur yang hasilnya dibagikan kepada para ASN di lingkungan Pemkot Batu.

“Ini adalah panen raya petama kami sejak setahun lalu mendirikan green house. Sebab sebelumnya beberapa sempat gagal panen,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Kota Batu Sugeng Pramono. 

Ia menjelaskan green house ini dibanguan setahun yang lalu bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat hingga pelajar. Sesuai dengan visi dan misi Kota Batu dalam mengembangkan pertanian organik.

“Sudah dari dulu Kota Batu terus menggalakkan pertanian organik, sehingga sebagai leading sektor kami juga harus memberikan contoh. Karena pertanian organik juga tidak mudah, dan panen raya ini bisa menjadi contoh kedepannya.” Imbuhnya. 

Tidak hanya itu saja green house ini nantinya akan saling terintegrasi dengan limbah peternakan kelinci. Sebab di dalam satu area tersebut juga akan dikembangkan peternakan kelinci. “Kebetulan kami juga mengembangkan peternak kelinci, yang kedepannya kotorannya bisa dimanfaatkan untuk pupuk sayur organik,” tambah Sugeng.

Kandang kelinci yang akan dikembangkan itu luasnya 5x15 meter akan dipadukan dengan bioreaktor seluas 3x12 meter. Sebab di sana  terdapat sensor amoniak, suhu, kelembaban yang ketika bercampur limbah akan menghasilkan manfaat, yakni biogas dan sluri. "Sedangkan sluri ini juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk cair ataupun padat," tutupnya.

Pewarta : Irsya Richa
Editor : A Yahya
Publisher : Zaldi Deo
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->