Sebagai Rasa Syukur, Bersih-Bersih Hingga Tumpengan Warnai Sumber Gemulo

Berbagai elemen dari Nawakalam Kota Batu Himpunan Mahasiswa Jurusan Sosiologi UMM, dan tokoh-tokoh warga setempat berdoa dan tumpengan di depan Sumber Gemulo, Dusun Gemulo, Desa Bulukerto, Kecamataan Bumiaji, Sabtu (21/4/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIME
Berbagai elemen dari Nawakalam Kota Batu Himpunan Mahasiswa Jurusan Sosiologi UMM, dan tokoh-tokoh warga setempat berdoa dan tumpengan di depan Sumber Gemulo, Dusun Gemulo, Desa Bulukerto, Kecamataan Bumiaji, Sabtu (21/4/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIME

BATUTIMES - Berkurangnya sumber mata air di Kota Batu, membuat warga tergugah untuk melestarikan sumber air yang ada di daerahnya. Memperingati Hari Bumi yang jatuh pada Minggu (22/4/2018) Nawakalam Kota Batu, Himpunan Mahasiswa Jurusan Sosiologi UMM, dan tokoh-tokoh warga setempat melakukan beberapa ritual di Sumber Gemulo, Dusun Gemulo, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Sabtu (21/4/2018).

Beberapa kegiatan yang dilakukan dimulai dengan membersihkan dan mengecat tembok di area Sumber Gemulo. Usai membersihkan area sumber, dilanjutkan dengan tumpengan dan berdoa bersama.

Tumpungen ini menjadi salah satu ritual dalam memperingati Hari Bumi karena sebagai rasa syukur warga setempat dengan hadirnya sumber tersebut. Sumber mata air itu telah menghidupi warga Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji.

Diketahui bentuk kepedulian akan sumber mata air itu seringkali dilakukan masyarakat sekitar, tidak hanya pada momen-momen tertentu. 

Kepala Desa Bulukerto Suwantoro mengatakan adanya bumi yang lestari dengan merawat sumber mata air sebagai sumber penghidupan. Karena itu sebagai masyarakat yang berada di lokasi sumber mata air perlu menjaga dan melestarikan agar tidak mati.

“Kalau tidak dilestarikan dan dijaga lama-lama akan habis. Karena itu kegiatan ini untuk mendorong kesadaran masyarakat agar bersama-sama menjaga lingkungan,” kata Suwantoro.

Sementara itu, Anggota Nawakalam Kota Batu Pradipta Indra Ariono menambahkan Hari Bumi merupakan salah satu moment bagi masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan sebagai tempat tinggal. Alam sebagai tempat tinggal haruslah dirawat dan dijaga layaknya seperti tempat tinggal kita sendiri.

“Di Kota Batu sendiri sudah dapat dilihat dalam satu dasawarsa terkahir ini bahwa penurunan daya dukung lingkungan terjadi dan menimbulkan masalah–masalah baru di kalangan masyarakat. diakibatkan perubahan status Kota Batu dari kultur yang agraris menjadi kota pariwisata,” ujar Pradipta.

“Banyaknya pembangunan wisata dan industri di Kota Batu membuat hilangnya sumbermata air hingga 50%,” tambahnya.

Menurutnya masyarakat Kota Batu sendiri telah mempunyai kebiasaan yang ada dalam kehidupan bermasyarkat untuk menjaga dan melestarikan lingkungan layaknya tempat tinggal. Kebiasaan itu seperti resik kali (bersih sungai), resik sumber (bersih sumber), slametan sumber (selamatan di sumber). 

“Ini menunjukkan bahwa masyarakat menganggap lingkungan bukanlah suatu yang bisa dijual tetapi masyarakat menganggap bahwa alam adalah tempat tinggal mereka dan anak cucunya,” ujar Pradipta. 

Maka pada moment Hari Bumi ini masyarakat melakukan wujud syukur atas alam yang masih bisa menghidupi masyarakat di Kota Batu.

Pewarta : Irsya Richa
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Angga Lanuma
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->