Revisi RTRW Masih Jalan, Pemkot Minta Petani Tak Jual Lahan Pertanian

Salah satu Lahan pertanian di Desa Sumberejo, Kecamatan Batu. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Salah satu Lahan pertanian di Desa Sumberejo, Kecamatan Batu. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

BATUTIMES - Hingga saat ini peraturan daerah (perda) terkait dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kota Batu dalam proses revisi. Di tengah proses revisi itu, banyak para petani yang tergiur untuk menjual tanan pertanian kepada investor.

 

 

Karena itu, agar hal tersebut tidak terjadi, Pemkot Batu gencar menyosialisasikan agar petani tidak mudah melepas tanahnya. Sebab, rata-rata dari mereka menjual tanahnya karena modal untuk bertani semakin mahal.

 

Sedangkan harga tanah di Kota Batu terus merangkak naik karena perkembangan dunia pariwisata terus menggelit di Kota Batu. Faktor itu yang membuat para petani akhirnya rela menjual tanah mereka.

 

“Memang saat ini banyak petani yang menjual tanahnya karena bertani sekarang modalnya banyak tetapi hasilnya tidak sebanding. Sedangkan harga tanahnya mahal sehingga mereka tergiur,” kata Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso.

 

Menurut dia, banyaknya bangunan berdiri salah satunya karena hal tersebut. Apalagi, memang tidak ada larangan untuk menjual tanah. Tetapi, Punjul berharap petani seharusnya juga tahu dampak ke depannya. 

 

“Tidak ada larangan memang buat mereka mau menjual. Tetapi seharusnya mereka juga harus memikirkan dampak ke depan. Karena itu, kami  terus sosialisasikan hal tersebut,” imbuhnya.

 

Sementara itu, diketahu perda RTRW itu didok pada tahun 2011. Padahal, seharusnya setiap lima tahun perda RTRW harus direvisi. Tetapi baru tahun 2017 Pemkot Batu baru memulai revisi tersebut. “Diperkirakan selesai melakukan revisi tahun ini,” ucap politisi PDIP ini. (*)

 

Pewarta : Irsya Richa
Editor : Yunan Helmy
Publisher : sandi permana soebagio
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->